"Buka pintunya, Hana!" "Hana! Buk--" "Akhirnya ...." Seseorang yang sejak tadi sibuk mengetuk dan memanggil-manggil nama Hana langsung menarik napas lega saat pintu di depannya terbuka. Tanpa menunggu apa pun, lagi, orang tersebut langsung merengkuh tubuh Hana dan membiarkan wanita itu menangis di dalam pelukannya. "Kalau ada apa-apa, cerita sama saya, Han. Jangan dipendam sendirian," katanya menenangkan. Sementara dia sibuk menenangkan, Hana justru mempererat pelukannya. Isak tangisnya pun, semakin mengencang di saat yang bersamaan. "Maafin saya, Mbak," lirihnya di sela-sela isakan. "Ayo kita masuk dulu. Kita bicara di dalam, ya," ajak orang yang tak lain dan tak bukan adalah Anggi. Beberapa saat lalu, Anggi yang sudah berada di perjalanan pulang, memutuskan untuk kembali ke

