“Bagaimana bisa Anda berkata seperti itu. Anda tidak sedang mabuk, bukan?” ujar Charlotte geram.
Charlotte masih tak menyangka pria itu benar-benar masuk ke dalam kamar yang telah disiapkan untuknya. Dan mau apa dia? Bagaimana kalau ada orang lain yang melihat Aiden masuk ke kamar seorang istri Pangeran?
Dan Pria itu jaraknya begitu dekat dengan Charlotte. Mengunci gadis itu di hadapannya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
“Aku tidak sedang mabuk. Tak sedikit pun aku menyentuh minuman memabukkan itu. Namun, pesonamu tetap memabukkan,” jawab Aiden sembari menyentuh pipi Charlotte ringan.
Charlotte nampak ketakutan. Gadis itu nyaris meneteskan air matanya.
“Lebih baik Anda keluar saat ini atau saya akan berteriak!” seru Charlotte dengan suara bergetar.
Aiden tersenyum miring. Seolah menantang Charlotte agar benar-benar berteriak agar orang-orang di luar kamar mendengarnya.
“Berteriaklah. Apakah kamu lupa, siapa aku?”
Charlotte menelan ludahnya kasar. Gadis itu baru ingat kalau Aiden adalah penyihir terhebat kala itu. Dia adalah penyihir di atas penyihir hebat. Semua orang begitu segan dengan Aiden karena pengaruh Aiden yang sangat besar.
“Anda memang penyihir dan orang yang sangat terhormat. Apa Anda tidak malu dengan predikat Anda sebagai penyihir bermartabat?”
Charlotte mengangkat wajahnya. Berharap hal itu bisa membuat Aiden mundur dan menjaga jarak dengannya.
“Anda mungkin bisa mempermainkan saya malam ini. Tapi Anda tak akan bisa mengendalikan saya untuk membuat orang lain tak tahu betapa curangnya Anda.”
Lidah Aiden mendadak kelu. Ia terdiam sembari menatap kedua mata Charlotte yang diselimuti ketakutan dan amarah.
“Maafkan aku.” Aiden mundur beberapa langkah dari tempat Charlotte berdiri. “Maafkan aku yang telah berbuat gegabah. Saya hanya-“
Belum sempat Aiden melanjutkan perkataannya, pria itu tampak bingung. Dia tak tahu bagaimana ia bisa membuat Charlotte takut. Hanya karena ia cemburu dengan William yang telah resmi menjadi suami seorang Charlotte.
Aiden masih yakin kalau Charlotte adalah seseorang yang ditakdirkan untuk bersamanya. Semua tang tertulis mengatakan Charlotte adalah satu-satunya pasangan untuknya. Tetapi, kenapa gadis itu justru berpasangan dengan pangeran William? Kenapa harus menjadi istri sang Pangeran?
“Ah, sudahlah.” Aiden memalingkan wajahnya dari Charlotte.
Aiden kemudian berjalan menjauh dari Charlotte. Dia tak menoleh kepada gadis itu. Memalingkan wajahnya agar tak bertatapan lagi dengannya. Aiden tampak tak berdaya.
Ia pun berkata, “Istirahatlah. Aku hanya akan menjagamu.”
Charlotte mengernyit. Ia tak paham dengan jalan pikiran Aiden. Mencurigakan. Namun, hati kecil Charlotte berkata bahwa Aiden sebenarnya adalah pria yang baik.
“Untuk apa kamu di sini dengan dalih menjagaku? Aku adalah istri pangeran, jadi-“
Belum sempat Charlotte mengutarakan keberatannya, Aiden langsung memotong perkataan gadis itu.
“Pangeran William tak akan mendatangimu malam ini. Mungkin malam-malam berikutnya dia juga tak akan mendatangimu!” tanpa sengaja Aiden menaikkan nada bicaranya.
Hal itu membuat Charlotte tertegun. Ia sangat terkejut karena Aiden terdengar membentak dirinya.
“Maaf. Aku tidak bermaksud ... Tidurlah. Aku akan pergi sebelum fajar tiba,” ujar Aiden pada akhirnya. Pria itu berjalan menuju jendela kamar Charlotte. Menjaga gadis itu dengan perlindungan sihirnya.
“Kenapa kamu sangat yakin kalau Pangeran William tak akan pernah ke sini?” tanya Charlotte ragu.
Sebenarnya dia masih tak yakin dengan perkataan Aiden. Dia masih sedikit curiga kalau Aiden memiliki maksud terselubung. Meskipun ia tahu kalau pernikahannya dengan pangeran adalah sebuah pernikahan kesepakatan.
“Apa kamu mengharapkan ia mendatangimu?” Charlotte menggelengkan kepalanya.
“Lalu untuk apa kamu menanyakan pertanyaan yang kamu sudah tentu tahu sendiri jawabannya?” Aiden tampak frustrasi menghadapi Charlotte. Entah Charlotte benar-benar gadis yang polos atau hanya pura-pura saja.
“Aku hanya bertanya. Ya sudah kalau tak boleh,” ujar Charlotte merajuk.
Aiden mengembuskan napas kasar. Ia masih tak habis pikir, kenapa Tuhan menciptakan Charlotte dengan pikiran yang begitu kecil.
“Bukankah kamu tahu kalau William dengan wanita itu?”
Charlotte terdiam. Menatap pria itu tanpa berkedip.
“Oh,” jawab Charlotte singkat.
“Oh? Hanya Oh? Kamu memaksaku menjawab pertanyaanmu dan kamu hanya membalas dengan kata oh?” Aiden sedikit kehilangan kesabaran.
“Ah, sudahlah. Istirahatlah.” Aiden kemudian berjalan sedikit menjauh.
Pria itu berusaha menetralkan emosi dan detak jantungnya yang berulang kali bergetar tak karuan.
Aiden memilih menatap langit melalui jendela kamar Charlotte. Dia akan pergi sebelum fajar semakin tinggi. Tak masalah baginya bertahan sedikit lagi menjaga Charlotte hari ini.
***
Benar apa yang Aiden perkirakan. Pernikahan Pangeran William dengan Charlotte tak semudah itu. Benteng sihir yang ia buat di kamar itu, dihantam berulang kali oleh sihir dari penyihir lain. Tak akan ada satu pun orang yang sanggup meminta penyihir lain dengan jumlah yang cukup banyak kecuali pangeran William. Fapi mereka lupa dengan siapa mereka berhadapan.
Langit timur mulai menampakkan semburat kuning. Matahari pagi akan segera tiba. Serangan yang selama malam hari begitu gencar menyerangnya, kini sudah berangsur berkurang. Aiden kini bisa meninggalkan Charlotte meski hanya dibentengi lingkaran sihir karena sihir kiriman itu melemah saat pagi hari.
Sesuai janjinya, pri itu pun pergi, kembali ke menara penyihir. Menyelidiki siapa hang dengan berani menerima tawaran pangeran William tanpa seizin dirinya.
Aiden tak akan tinggal diam. Ia akan menghukum semua orang yang melakukan serangan itu.
Aiden meminta seluruh murid di akademi berkumpul. Penyihir menara negeri itu diminta untuk mengaku, siapa yang mengirim serangan kepada kerajaan, lebih tepatnya ke istana pernaisuri.
“Aku harap kalian akan mengakui sejujurnya. Yang mengirim serangan. Ke istana istri Pangeran William, silakan maju ke depan.” Dengan lantang pria itu meminta kejujuran semua orang di sana.
Hening.
Tak ada yang mau mengaku.
Hingga seorang penyihir pria mengangkat tangannya. Mengaku bahwa dirinya memang mengirim sihir itu untuk menyerang ratu.
Namun Aiden belum puas. Sihir yang dimiliki murid itu tak setinggi itu.
“Apa tidak ada lagi yang mau mengaku?” tanya Aiden geram.
Yang lainnya bungkam. Tidak! Mereka sebenarnya ingin berbicara. Namun, dibungkam oleh sebuah ancaman
“Sudahlah Aiden. Kamu menakuti mereka,” bujuk Anne.
“Benar. Mereka di sini untuk belajar. Tak mungkin berani menyerang anggota keluarga kerajaan,” imbuh James.
Aiden tampak tak senang. Ada gurat kecewa pada wajah Aiden. Dua orang yang terbilang dekat dengannya berkata demikian?
Apa jangan-jangan?
Aiden menatap wajah mereka dengan tatapan tajam.
Apakah mungkin?
Tatapan menusuk Aiden membuat James dan Anne meneguk ludah mereka susah payah. Tatapan tak bersahabat itu seolah menguliti mereka.
“Aku tanya pada kalian. Dan jawab dengan jujur.”
Anne menautkan kedua tangannya. Ia begitu takut kalau Aiden marah. Tak pernah ia mendapati Aiden semarah itu. Baru pertama kali.
“Apa kamu tak mempercayai kami? Kamu menuduh kami?”