Khawatirnya Aiden

1057 Kata
“Bukan begitu! Aku hanya t*i, yang bisa menggunakan sihir itu hanya dari akademi ini. Tak mungkin penyihir dari kerajaan lain yang mengirimnya. Aku hanya kalian mengaku, siapa yang menyuruh kalian. Karena aku tahu kalau Kalian tak akan melakukannya kalau bukan karena diperintahkan oleh seseorang.” Aiden mulai frustrasi. Aiden tak habis pikir. Bisa-bisanya mereka bertindak diluar perintahnya. Dan mereka menyerang Aiden sendiri? Luar biasa! Apakah mereka tak tahu kalau Aiden ada di sana? Rasanya tak mungkin! “Aiden, kamu sungguh telah berubah. Bagaimana bisa kamu menuduh kami tanpa bukti seperti itu?” seru Anne. Gadis penyihir itu tak terima jika akademinya dan rekan-rekannya yang lain disalahkan atas kasus yang menimpa Charlotte. Bukan geram kepada Aiden. Namun, Anne tak terima kalau gara-gara Charlotte, Aiden hampir tidak baik-baik saja. Anne berusaha menutupi fakta bahwa memang akademinya yang menyerang Charlotte dan justru menyalahkan istri sang pangeran itu. Tapi mengapa mereka ingin membinasakan Charlotte? Anne tak habis pikir dengan perintah kerajaan yang meminta anggota kerajaan baru untuk diserang, bahkan dihabisi. Aiden meninggalkan Anne dan James. Dia merasa sia-sia bertanya kepada dua orang itu. Ada kemunngkinan mereka tak tahu dan bukan mereka yang mengirim serangan sihir malam sebelumnya, atau mereka pura-pura tak tahu. Entahlah! Yang bisa Aiden lakukan saat ini adalah melindungi Charlotte sekuat tenaga hingga pada akhirnya Charlotte bisa melindungi dirinya sendiri. Aiden yakin gadis itu pintar dan akan bisa segera beradaptasi dengan lingkungan barunya. *** Aiden kemudian pergi dari menara dengan menggunakan lingkaran sihir teleportasinya. Ia kembali ke istana, di tempat yang tak pernah dijangkau siapa pun. Aiden ingin menyelidiki siapa yang telah memerintahkan anggotanya menyerang tanpa sepengetahuan dirinya. Padahal pihak istana tahu bahwa dirinya adalah pemimpin menara penyihir. Aiden membuat dirinya tak terlihat. Seseorang yang dicurigai oleh Aiden adalah Amber, Kekasih William. Orang yang paling tak suka dengan Charlotte di istana ini sudah barang pasti adalah Amber. “Ya, pasti tak salah lagi,” gumam Aiden lalu pergi ke kamar Amber. Aiden akan mengikuti Amber, ke mana pun gadis itu pergi. Ah, tapi tidak untuk kegiatan yang sangat rentan. “Ke mana wanita itu? Bukankah seharusnya mereka menghabiskan waktu mereka di sini semalam?” gumam Aiden. Aiden mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Amber. Di tak menemukan apa pun di sana. Tak menemukan siapa pun. Bahkan, tanda-tanda mereka berada di ruangan itu saja tak ada. “Apa di kamar William?” gumam Aiden. Tapi bagaimana bisa ia masuk ke kamar William sementara dirinya sendiri sudah melindungi ruangan pribadi milik William dengan sihir yang ia ciptakan sendiri? “Mungkin lebih baik aku kembali melihat keadaan Charlotte saja,” ujar Aiden yang kemudian menghilang di detik berikutnya. Lingkaran sihir yang digunakan Aiden untuk teleportasi adalah salah satu sihir yang hanya bisa digunakan oleh Aiden. Aiden sengaja tak memberitahu jenis sihir itu kepada yang lainnya karena ia tak ingin murid lainnya menyalahgunakan sihir itu. Akan sangat berbahaya kalau penyihir muda atau penyihir lain yang memiliki niat jahat menggunakan jenis sihir itu. *** Aiden mendapati Charlotte masih tertidur dengan sangat nyenyak. Gadis itu tampaknya lupa sedang di mana ia saat ini. Aiden kemudian berjalan ke arah sofa di ruangan itu, menikmati hidangan sarapan yang sudah tertata di meja di hadapannya. Namun, gadis itu masih belum bangun juga? Apa dia tak tahu kalau dayangnya keluar masuk ruangan ini? Ah, sepertinya ada yang tak beres di sini. Aiden kemudian bergegas pergi kembali. Ia melangkahkan kakinya ke ruang makan tanpa menggunakan sirhir sebelumnya. Benar saja! William dan Amber saat ini tengah menikmati sarapan romantis mereka berdua. Tak masuk akal! “Selamat pagi, Yang Mulia Pangeran William sang bintang kerajaan Axias,” ucap Aiden memberi salam. Meski tangannya terkepal karena melihat pemandangan tak biasa di hadapannya, Aiden masih berusaha menjaga emosinya. Dia perlu mendapatkan jawaban mengapa Amber yang menemani pria pewaris takhta itu sarapan pagi itu. “Ah, Tuan Aiden. Ada perlu apa tampak tergesa kemari?” tanya William tanpa merasa bersalah. “Oh, tidak ada. Saya pikir yang mulia saat ini sedang sibuk dengan Lady Charlotte. Saya hanya terkejut bahwa Nona Amber yang ada di sini,” jawab Aiden. Aiden melirik wajah wanita yang saat ini duduk di samping William itu. Wajahnya tampak memerah, entah karena kesal atau merasa dipermalukan. “Charlotte masih belum terbangun. Tadinya aku ingin mengajaknya makan malam bersama. Namun, apa boleh buat. Mungkin apa yang kami lakukan semalam membuatnya kelelahan. Kadi aku menyuruh para dayang untuk mengirimkan sarapan bagi gadis itu ke kamarnya,” ujar William lagi. “Apa? Oh, maaf,” Aiden nyaris saja kehilangan pengendalian dirinya. Aiden tak habis pikir dengan William. Bagaimana bisa dia berkata bahwa menghabiskan malam dengan Charlotte sementara pria itu justru bersenang-senang semalaman dengan wanita lain? “Oh, iya. Ikutlah bergabung sarapan bersama dengan kami.” William menawarkan sarapan kepada Aiden dan meminta dayangnya untuk membawakan menu untuk pria itu. Aiden akhirnya terjebak di ruangan itu bersama dengan mereka, sepasang kekasih tak tahu malu. Aiden merasa muak dengan dua orang itu. Makanan di hadapannya sama sekali tak membuatnya berselera. Aiden hanya makan sedikit makanan yang terhidang di depannya. Setelah William dan Amber selesai sarapan, Aiden meminta para dayang juga membereskan miliknya yang hanya tersentuh beberapa saja. “Kalau begitu, saya permisi. Terima kasih atas jamuannya.” Aiden kemudian pamit meninggalkan ruangan yang membuat pria itu bergidik ngeri. Ya, bisa-bisanya mereka saling menggoda satu sama lain saat Aiden ada di hadapan mereka. Menjijikkan! Tapi kenapa Aiden justru marah? Bukankah seharusnya ia senang karena meski Charlotte adalah istri orang, setidaknya gadis itu masih suci. Bukankah hal itu patut ia syukuri? Aiden kemudian berjalan dan kembali menuju kamar Charlotte. Harap-harap gadis itu sudah terjaga dan menikmati sarapannya. Aiden mengetuk pintu kamar Charlotte. Tak ada jawaban. Diulangnya lagi ketukannya pada pintu besar itu dengan sedikit lebih keras. Masih tak ada jawaban. “Apa mungkin gadis itu belum bangun?” gumam Aiden. Aiden mencoba mengetuk kembali pintu kembali. Berharap kali ini gadis itu membukakan pintu kamarnya. Masih sama saja. “Apa dia baik-baik saja di sana?” Aiden mulai gelisah. Dia takut sesuatu terjadi pada Charlotte. Rasa khawatir berlebih kini menggelayuti hatinya. “Charlotte, apa kamu baik saja? Apa kamu sudah bangun?” tanya Aiden dari balik pintu. Aiden ragu. Ingin rasanya ia menerobos masuk. Namun ia takut mempermalukan dirinya yang khawatir berlebihan. Akhirnya Aiden memilih untuk masuk karena tak ingin terjadi sesuatu buruk pada gadis itu. Dan alangkah terkejutnya Aiden melihat sesuatu yang seharusnya tak ia lihat di kamar itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN