Charlotte tersenyum mendengar perkataan William.
Lucu!
Seorang pangeran yang sudah memiliki kekasih berharap dicemburui oleh wanita lain yang bahkan dia sendiri tak tahu apakah wanita itu menaruh hati padanya atau tidak.
“Oh, ayolah. Bukankah Anda menginginkan pernikahan ini karena sebuah tujuan?”
William tertegun dengan pernyataan Charlotte. Gadis lugu dan pemalu yang merupakan karakteristik Charlotte tak lagi William temukan. Charlotte benar-benar berbeda. Apa mungkin gadis itu terbentur di dasar danau?
William tersenyum lalu tertawa. “Ternyata kamu berbeda.” Pria itu menarik napas dalam.
“Karena kamu sudah paham, jadi aku rasa kamu tak perlu penjelasan.”
Charlotte menyilangkan tangan di depan dadanya.
“Kamu benar. Aku menikah denganmu karena permintaan Raja. Dan aku harus menikah denganmu untuk mendapatkan takhta. Bukan karena cinta. Dan aku harap kamu bisa diajak bekerja sama,” ujar William tanpa ragu.
“Apa kamu akan membebaskanku jika kamu sudah mencapai keinginanmu?”
William terdiam beberapa saat. “Aku akan membebaskanku dan membatalkan pernikahan kita saat aku sudah menjadi raja,” ujar William sedikit ragu.
“Aku memiliki syarat lain,” imbuh Charlotte.
“Katakan!”
“Kita tak akan berhubungan fisik. Sedikit pun. Kecuali dalam acara formal di mana mengharuskan kita bergandengan. Hanya sebatas itu. Bagaimana?”
William tampak menggaruk dagunya. Di satu sisi, itu akan mempermudah dirinya menjadikan Amber sebagai ratu.
Akan tetapi kenapa dia merasa tak rela?
Namun, pada akhirnya William mengangguk juga. Kalau dirinya sudah menjadi raja, dia bisa menggunakan kekuasaannya untuk menyuruh Charlotte untuk tetap tinggal. Akan terasa sia-sia kalau William tak bisa benar-benar memilikinya bukan?
“Baiklah. Kita sudah mencapai kata sepakat. Kalau tak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya pamit undur diri. Salam bagi Sang bintang kerajaan, Pangeran William.” Charlotte membungkukkan setengah badannya lalu meninggalkan William begitu saja.
Luar biasa!
Saat semua wanita takut bahkan ingin berlama-lama dengannya, hanya Charlotte yang berani mengabaikannya.
Menarik!
William menyeringai tipis. Pria itu kemudian kembali ke kerajaan meninggalkan kediaman Duke Rowney dengan perasaan yang tak bisa ia gambarkan. Sungguh pagi yang berbeda bagi William saat itu.
***
Charlotte berjalan menuju kamarnya. Saat hendak memasuki kamar, Lucas menghampirinya. Terheran dengan Charlotte yang hendak kembali ke tempatnya.
“Apa sarapannya sudah usai? Di mana pangeran William?” tanya Lucas.
“Maaf, Kak. Aku sedang tak berselera untuk sarapan. Mungkin Pangeran masih ada di ruang makan,” jawab Charlotte dengan wajah memelas. Ia tak ingin sang kakak marah.
“Apa kamu sedang tak enak badan lagi?” tanya Lucas yang mendapat anggukan dari Charlotte. “Ya sudah, kamu beristirahatlah. Aku yang akan mengurus Pangeran,” ujar Lucas mengusap ujung kepala Charlotte.
Lucas kemudian bergegas meninggalkan Charlotte, menuju ruang makan di mana Pangeran William berada. Namun, dia tak menemukan keberadaan tunangan adiknya itu. Pria itu sudah pergi lebih dulu.
“Semoga bukan menjadi hal buruk ke depannya,” gumam Lucas.
***
Charlotte kini duduk di kursi yang berada di kamarnya. Dia meminta selembar kertas dan pena untuk menulis. Ya, dia akan menuliskan perjanjian antara dirinya dan William. Ia tak boleh lengah dengan percaya terhadap perkataan seseorang. Ia tak ingin lagi dibohongi oleh orang lain. Pengalaman hidup sebagai seorang Arabella, tak ingin ia ulangi lagi di kehidupan ini.
Jujur saja, Ara yang saat ini ada di tubuh Charlotte, merasa enggan untuk menjalin sebuah hubungan romansa antara pria dan wanita. Terlebih pria yang akan menjadi calon suaminya adalah pria yang memiliki kekasih. Baik Ara dan Charlotte, bukanlah seorang gadis yang rela berbagi hati dengan wanita lain.
Charlotte berharap perjanjian yang ia tulis akan mendapat pengakuan resmi dan William tak akan berbuat macam-macam dengannya.
“Sedang menulis apa?” Aiden tiba-tiba sudah ada di samping Charlotte.
Beruntung gadis itu saat ini sedang sendirian di kamarnya. Kedatangan Aiden yang tiba-tiba akan membuat keributan jika orang lain mengetahuinya.
Bagi seorang bangsawan, tak pantas jika bertemu dengan pria asing secara diam-diam. Terlebih status Charlotte yang spesial, tak ada pria yang berani mengganggunya. Kecuali Aiden.
Pria itu dengan sesuka hatinya mengunjungi Charlotte. Aiden masih tetap berpegang teguh pada takdirnya yang mengatakan bahwa Charlotte hanya diciptakan untuknya. Ah, lebih tepatnya Arabella.
“Bagaimana kamu bisa ke sini?” Charlotte menoleh ke penjuru ruangannya.
Pintu kamarnya tertutup. Di jendela kamarnya juga terpasang besi yang tak memungkinkan orang lain seenaknya keluar masuk melalui tempat itu. Pintu yang menuju balkon kamarnya juga tertutup.
“Kamu bisa sihir?” tanya Charlotte.
“Apa ini termasuk sihir?” Aiden tiba-tiba mengubah salah satu pena Charlotte menjadi setangkai bunga mawar merah.
“Itu hanyalah sihir biasa,” ujar Charlotte meremehkan. Ia ingin menguji seberapa hebat Aiden hingga bisa memasuki kamarnya yang tertutup dan lolos dari pengawasan pengawal.
“Apakah ini termasuk sihir biasa?” Aiden berdiri sedikit jauh.
Tak lama, pria itu mengubah dirinya menjadi seekor burung besar yang sangat indah. Charlotte takjub akan kemampuan sihir pria itu. Ia mengakui kalau Aiden bukanlah penyihir sembarangan.
“Luar biasa! Apa kamu bisa mengubah dirimu menjadi bentuk lain?” tanya Charlotte yang semakin penasaran.
“Aku bisa mengubah diriku menjadi seekor naga. Kamu berminat mempelajari tentang sihir?” tanya Aiden yang kini sudah kembali mengubah wujudnya menjadi manusia.
“Apa bisa?” gumam Charlotte.
“Kamu memiliki sihir bawaan. Kamu bisa mengasahnya jika kamu mau. Datanglah ke menara penyihir. Aku ada di sana.”
Aiden mengalungkan sebuah liontin dengan batu kristal berwarna biru ke leher Charlotte.
“Liontin itu bisa membawamu langsung menemui ku. Liontin itu akan langsung terhubung denganku.”
“Tunggu. Siapa kamu?” tanya Charlotte kali ini.
“Ah, bukankah aku sudah memperkenalkan diriku?” Aiden tersenyum.
“Aku Aiden. Dan kamu pasti akrab dengan nama itu,” ujar Aiden tersenyum. Di detik berikutnya Aiden pun menghilang.
Belum sempat Charlotte bertanya banyak hal, pria itu lebih dulu menghilang.
Charlotte masih terdiam dengan mengamati liontin yang diberikan oleh Aiden. Liontin yang sangat bagus. Entah mengapa Charlotte merasa pernah melihat kalung itu. Charlotte merasa bahwa kalung itu adalah miliknya. Sesuatu yang sejak dulu ia cari karena menyimpan berjuta rahasia.
“Benar-benar mirip dengan liontin waktu itu," gumam Charlotte.
Charlotte melihat bayangan ingatan masa lalunya sebagai Arabella saat sang ibu memintanya menjaga sebuah kotak kecil. Ibunya pun berkata bahwa Ara harus menjaga kalung itu karena takdir Ara berkaitan dengan kalung itu.
“Apa karena benda ini ada di dunia ini, sehingga aku ditarik ke dunia ini juga? Apa itu artinya takdirku ada di dunia ini?” gumam Charlotte sembari mengusap liontin itu.
Tak lama pintu kamar Charlotte diketuk dari luar. Mengejutkan Charlotte yang melamun.
“Charlotte ... Bolehkah paman masuk? Ada yang ingin paman bicarakan denganmu.” Suara pamannya, Duke Rowney.
Charlotte segera menyembunyikan kalungnya agar tak terlihat oleh sang paman.
Namun, tak biasanya sang paman menghampirinya.
Ada apa pamannya itu tiba-tiba datang ingin menemuinya?
Apa yang akan diperbuat pria yang berstatus pamannya itu?