Charlotte menatap langit malam yang penuh dengan bintang. Di dunia ini, untuk pertama kalinya Charlotte bisa melihat pemandangan malam yang menakjubkan seperti saat ini. Dulu, saat ia adalah seorang Arabella, hampir tak pernah mendapati langit berbintang karena tinggal di wilayah perkotaan yang penuh dengan gemerlap lampu neon yang begitu terang.
Seseorang tiba-tiba menghampiri Charlotte. Berdiri di samping gadis itu, ikut menatap langit.
“Kamu menginginkan bintang?” Tanya pria itu.
Charlotte menggeleng. Bagaimana mungkin ia menginginkan sesuatu yang besar meski tampak kecil dari tempat ia berdiri menatapnya?
“Aku hanya mengagumi keindahan langit malam ini, Kak. Ternyata aku melewatkan malam-malamku sebelumnya hanya dengan berdiam diri di dalam kamar,” ujar Charlotte tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
Lucas tersentak. Bukankah adiknya hampir setiap malam menatap ke arah langit, melihat bintang-bintang bertaburan di langit gelap?
“Ah, maaf,” ucap Charlotte sadar karena sudah membuat Lucas kebingungan.
Charlotte kadang masih belum terlalu bisa mengendalikan dirinya. Jiwa Arabella masih belum sepenuhnya bisa diterima raga Charlotte.
“Tak apa. Awalnya aku sedikit sulit menerima kalau adikku Charlotte berubah. Namun, aku semakin menyadari kalau memang kalian sebenarnya berbeda.”
“Andai saja kamu bukan putri Mahkota,” ujar Lucas lirih.
Charlotte mengernyitkan dahi.
“Ada apa dengan statusku sebagai putri mahkota?”
“Bagaimanapun aku tetap menyayangimu sebagai adikku, Charlotte,” ujar Lucas mengusap kepala Charlotte.
“Mau pulang?” tawar Lucas.
Charlotte mengangguk. Dia yakin kalau acara pesta malam ini akan berakhir sangat larut. Dirinya yang kelelahan akan lebih dahulu pamit meninggalkan ruangan.
Ah, Charlotte lupa! Pasti pangeran sedang menikmati makan malam spesialnya di kamarnya. Mungkin akan lebih baik kalau ia langsung meninggalkan istana. Tak terlalu berhubungan dengan pria itu mungkin akan membuat semuanya baik-baik saja.
***
Charlotte terbangun terlalu dini. Matahari belum menampakkan diri meski saat itu sudah masuk waktu pagi. Mimpi buruk akan kejadian malam itu masih berulang kali menghampiri malamnya. Entah sampai kapan rasa takut dan trauma akan masa lalunya menghantui.
“Ini kehidupan yang berbeda, Ara,” gumam gadis itu menghibur diri. Berusaha menyadarkan dirinya bahwa semuanya telah berlalu.
Karena sulit terlelap kembali, Charlotte memilih untuk membersihkan diri. Mungkin sedikit olahraga bisa membuatnya sedikit lebih baik, sembari menunggu waktu sarapan pagi.
Charlotte pergi menuju tempat para ksatria berlatih yang berada di belakang rumah keluarga Duke Rowney.
Beberapa orang yang saat itu terjaga, tampak terkejut saat gadis itu datang ke tempat latihan.
“Adakah salah satu di antara kalian yang bisamengajariku berpedang?” tanya Charlotte yang sukses membuat para ksatria semakin bingung dan takut.
“Siapa pimpinan pasukan ini?” tanya Charlotte kemudian.
Seorang pria yang cukup tinggi dan kekar, maju ke hadapan Charlotte dengan kepala yang tertunduk.
“Mohon ampuni hamba, Yang Mulia. Saya adalah pemimpin pasukan ini,” jawab pria itu.
“Baik. Jadi, mulai hari ini kamu yang mengajariku berpedang. Tak ada penolakan.” Charlotte mengambil keputusan sepihak.
“Tambahan. Panggil aku seperti biasanya. Aku tak terbiasa dengan panggilan kalian padaku sebagai putri mahkota. Bagaimanapun aku hanya seorang gadis bangsawan biasa, Charlotte.”
“Ta-tapi....”
Charlotte mengangkat tangannya. Mengisyaratkan untuk yang lain diam.
“Tak ada penolakan,” ujar Charlotte singkat sembari tersenyum.
“Aku yang menjamin. Kalau di istana, boleh saja kalian memanggilku demikian. Tapi tidak untuk di sini. Oke?”
Semua ksatria mengangguk paham.
Charlotte mendapat pelatihan dasar berpedang. Gadis cukup cepat menerima materi yang diberikan. Meski gadis itu tampak sedikit kelelahan mengayunkan pedangnya, tak menyurutkan semangat gadis itu yang membara.
Latihan usai. Beberapa teknik berpedang bisa ja kuasai. Meski cukup susah, ia tak mudah menyerah.
Charlotte belajar berpedang hanya untuk jaga-jaga. Untuk membela diri. Takut kalau-kalau sesuatu yang buruk seperti kehidupan lampaunya terulang kembali.
Apa yang dilakukan oleh Charlotte tak luput dari pantauan Aiden.
Pria itu tersenyum saat melihat Charlotte yang awalnya kesusahan dalam mengayunkan pedang. Namun, lama kelamaan dia kagum dengan gadis itu. Ia cepat belajar dan menguasai ilmu yang diajarkan. Akankah dia juga mampu menerima ilmu sihir dalam dirinya nanti?
“Beristirahat terlebih dahulu, Lady!” ujar Aiden tak jauh dari tempat latihan.
Entah mengapa melihat Aiden di sana membuat Charlotte kesal. William dan Aiden sama-sama mengesalkan bagi Charlotte.
“Untuk apa ke sini sangat pagi?” ujar Charlotte.
“Untuk apa lagi kalau bukan untuk berkunjung,” jawab Aiden.
“Mengunjungi calon istriku, apakah tidak boleh?” Aiden dengan santainya mengucapkan hal itu.
Untung saja ia menggunakan mantra sihirnya agar hanya mereka bisa berbicara berdua tanpa harus sembunyi-sembunyi.
Charlotte memutar kedua bola matanya.
Alasannya tak masuk akal. Padahal semua penjuru kerajaan tahu kalau dirinya adalah seorang putri mahkota.
“Kau tak percaya?” tanya Aiden saat melihat Charlotte berusaha mengabaikannya.
“Memangnya kamu siapa sampai bisa berbicara seperti itu?”
“Nanti kamu akan tahu siapa aku sebenarnya. Hanya menunggu waktu saja,” jawab Aiden sembari tersenyum.
Tak lama Aiden pun pergi meninggalkan Charlotte yang penuh tanda tanya.
Sepeninggal Aiden, seorang dayang di rumahnya berlari ke arahnya.
“Mohon maaf, Yang Mulia. Pangeran William menunggu Anda untuk sarapan bersama,” ujar wanita itu.
“Terima kasih,” ujar Charlotte singkat.
Charlotte bergegas menuju kamarnya untuk bersiap sebelum menemui William yang mungkin sudah menunggunya di meja makan.
Beberapa menit kemudian, Charlotte tiba di ruang makan usai berganti pakaian. Seperti dugaannya, Pangeran William, Lucas dan pamannya sudah ada di ruangan itu menunggunya.
Sebenarnya perasaan malas menyelimuti hati Charlotte. Ingin ia tak menemui pria itu. Namun, akan semakin rumit masalahnya kalau ia tak menemui pria yang sudah resmi menjadi tunangannya, menjadi calon suaminya.
Mereka sarapan dalam diam. Lebih tepatnya Charlotte yang enggan berbicara sehingga William pun enggan berkomentar lebih banyak.
Hingga akhirnya sarapan usai. Charlotte memilih undur diri karena merasa dirinya tak diperlukan lagi.
“Tunggu, Charlotte,” ujar William menghentikan Charlotte yang pamit undur diri.
“Ada yang perlu kita bicarakan. Dan ini penting,” ucap William lagi.
“Oh, kalau begitu kami pamit undur diri dahulu,” ucap Duke Rowney yang kemudian diikuti Lucas pergi meninggalkan William berdua dengan William.
“Aku perlu menanyakan hal ini padamu terlebih dahulu, mengingat kamu adalah calon permaisuri ku,” ucap William memulai pembicaraan.
“Silakan, Yang Mulia.”
“Wanita yang kemarin ... Dia adalah kekasihku. Jadi nanti, aku harap kamu tak keberatan dengan keberadaannya. Terlebih kalau aku lebih banyak bersamanya,” ujar William langsung kepada apa yang akan dia diskusikan.
“Ah, jadi tentang wanita itu.” Charlotte menganggukkan kepalanya.
“Yang mulia tak perlu khawatir. Tak ada yang perlu aku permasalahkan apalagi dia adalah wanita Yang Mulia. Selama dia tak menggangguku, aku tak akan mengganggu kebersamaan kalian berdua,” ujar Charlotte sembari tersenyum.
“Apa kamu tak cemburu? Apa kamu tak ingin menjadikanku hanya milikmu seorang?” tanya William.