William dan wanitanya (3)

1222 Kata
Sepeninggal Aiden dari ruangannya, William berjalan menuju sebuah ruangan di mana Amber menunggunya. Sebuah ruangan yang sangat besar dan berkilau karena interiornya yang terbuat dari emas, membuat ruangan itu bercahaya meski hanya cahaya purnama yang masuk melalui sela jendela. Di sebuah ranjang empuk yang sangat besar, Amber berbaring miring sembari menyangga kepalanya dengan tangan kirinya. Menunggu William yang berjalan mendekat ke arahnya sembari tersenyum nakal. Amber sudah mempersiapkan dirinya, menggoda William dengan tubuh indahnya yang saat ini hanya ditutupi kain tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Amber memainkan ujung rambutnya, lalu mengisyaratkan pria yang menatapnya tanpa berkedip itu supaya mengikis jarak dengannya. “Apa kau sedang menggodaku?” tanya William dengan tatapan laparnya. “Oh, ayolah! Yang Mulia masih mempertanyakan itu?” Amber bangun, menyambut William yang mendekat ke arahnya. Amber membantu William melepas helai demi helai kain yang membungkus dirinya, disertai dengan sentuhan ringan yang membuat napas William semakin memburu. William menggendong Amber yang ada di hadapannya. Tak sabar ingin mencicipi tubuh wanita itu yang sengaja disajikan hanya untuknya. “Tunggu, Yang Mulia!” Amber menahan William yang sudah di atasnya. “Kenapa?” “Bukankah besok pagi Yang Mulia harus mengunjungi calon Putri Mahkota kita?” “Jangan kau rusak suasana ini dengan membicarakan gadis itu,” jawab William sembari mengendus tangan Amber yang wanginya bagaikan candu. “Kamu tak perlu khawatir, hanya kamu yang ada di hatiku. Dia mungkin akan menjadi Putri Mahkota kerajaan ini, tapi hanya kamu yang ada di hatiku,” ujar William dengan napas yang mulai berat. “Aku bahagia menjadi ratu di hatimu. Akan tetapi, mungkinkah aku yang menjadi ratu kerajaan ini?” Amber mengeratkan pelukannya kepada William yang saat ini menenggelamkan kepalanya di ceruk leher wanita itu. “Kamu ingin menjadi ratu?” William menarik kepalanya, menatap wajah tirus wanita yang menganggukkan kepalanya. “Lakukan tugasmu dengan baik kali ini!” titah William yang kemudian membaringkan dirinya di sebelah wanita itu. Amber pun bangkit, melakukan tugas yang dimaksud William, agar pria itu menuruti keinginannya, ambisinya – memiliki William dan kekuasaannya. *** “Aku takut Yang Mulia jatuh cinta pada gadis itu dan bosan padaku,” ujar Amber memainkan jadi di atas d**a William yang terbuka. “Kamu tak perlu khawatir. Setelah pria tua turun takhta dan memberikan kuasanya padaku, aku akan mengangkatmu sebagai ratu,” jawab William dengan mudahnya. “Apa mungkin?” “Pria tua itu hanya meminta syarat supaya aku menikah dengan Putri Mahkota, bukan berarti menjadikannya sebagai Ratu. Setelah menikahi wanita itu, aku akan menikahimu juga secara bersamaan di tempat terpisah. Aku akan menyuruh beberapa dayang membantumu bersiap. Jangan khawatir,” ujar William mendekap Amber dengan sangat erat. Sebenarnya William tak terlalu yakin dengan perkataannya. Melihat Charlotte yang tampak berbeda beberapa saat yang lalu, membuat William sedikit tak rela kalau melepaskan kesempatan memiliki gadis itu. Mungkin, dia bisa menjadikan Charlotte sebagai permaisuri sementara Amber menjadi ratu? Tampaknya tak buruk dengan pengaturan itu. William tersenyum membayangkan dirinya yang akan menjadi Raja berikutnya. Dia akan membangun harem miliknya, dengan beberapa selir yang akan selalu siap sedia melayaninya setiap saat, bergantian. *** Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh setiap gadis bangsawan di kerajaan itu. Sebuah pesta mewah dan megah diselenggarakan di dalam kerajaan. Pesta tahunan itu merupakan pesta debut bagi setiap gadis bangsawan yang sudah berusia enam belas tahun. Mereka akan diperkenalkan untuk pertama kalinya ke publik saat pesta berlangsung. Tak hanya itu, sebuah hubungan bisa saja terjalin saat debutnya seorang gadis bangsawan. Charlotte, gadis yang berasal dari kediaman Duke Rowney, calon Putri Mahkota, dikabarkan akan hadir dalam pesta megah itu. Tahun itu adalah debut pertama Charlotte, sekaligus pengukuhan dirinya sebagai Putri Mahkota kerajaan Axias. Kabar itu pun didengar oleh Aiden. Aiden yang enggan menghadiri sebuah pesta, pada akhirnya hadir karena seorang Charlotte. Setelah penobatan Charlotte dan William sebagai Putra Putri Mahkota, para gadis bangsawan diperkenankan berdansa dengan pemuda bangsawan dari kediaman lain. Mereka tampak bahagia dan menikmati pesta malam itu. Namun, tidak dengan Charlotte. Gadis itu tampak gusar. Dia merasa seseorang sedang mengamatinya. “Mungkin hanya firasatku saja,” gumam Charlotte. Rasa takut seperti saat pria yang menatap dirinya sebagai Arabella itu membuatnya waspada. “Tak akan ada yang berani berbuat jahat padaku di sini, bukan?” Charlotte masih berusaha menghibur dirinya. Charlotte berjalan menuju balkon. Ia merasa sesak saat berada di antara kerumunan bangsawan itu. Seolah oksigen di dalam ruangan yang sangat luas itu menipis. Ia mengembuskan napas, lega. “Kenapa sendirian?” sapa Aiden yang kini sudah berdiri di samping Charlotte. “Ah, maafkan saya Yang Mulia Putri Mahkota,” ucap Aiden sembari membungkukkan badannya. “Sudahlah. Tak perlu berpura-pura,” ujar Charlotte sembari tersenyum. “Aku tahu kalau kamu disuruh William menyusul ku.” “Mohon maaf karena hamba lancang. Namun, Pangeran William tak meminta saya untuk membuntuti Anda,” jawab Aiden tenang. Charlotte mengernyitkan dahi. Bukankah Aiden teman dekat William? “Saya memang teman dekat Pangeran William.” Kenapa dia bisa menjawab apa yang aku tanyakan dalam hati? Apa dia bisa baca pikiranku? Batin Charlotte. Aiden tersenyum, “Anda benar, saya bisa membaca pikiran dan hati Anda.” “Siapa kamu sebenarnya?” “Perkenalkan, saya adalah Aiden Stoner, orang yang tertulis akan berjodoh dengan Anda ... Arabella,” jawab Aiden memperkenalkan diri. Alangkah terkejutnya Charlotte. Dia tak menyangka kalau ada yang mengenali dirinya sebagai Arabella. Bagaimana mungkin? “Lain kali, saya akan memberitahu Anda saat waktunya tiba.” Aiden tersenyum lalu membungkukkan setengah badannya dan pergi. Charlotte mencari jejak pria itu, berusaha mengejarnya karena masih banyak hal yang membuatnya bertanya-tanya. Namun, Aiden menghilang dengan sangat cepat, tanpa jejak. Saat mengedarkan pandangannya, Charlotte mendapati William dengan seorang wanita bergaun merah menyala. Berdua dan saling menempelkan tubuhnya, hanya terpisah oleh kain yang membungkus tubuh mereka. Keduanya menautkan bibir mereka dengan rakus, tak peduli dengan pesta yang sedang berlangsung di tengah aula. Charlotte tercengang. Pantas saja tubuh Charlotte menolak untuk didekati William. Sepertinya Charlotte yang asli merasa enggan berbagi dengan wanitanya William. Mungkin wajar bagi seorang raja memiliki selir, tapi saat ini William bukan seorang raja, apa pantas? Ah, Charlotte tak paham dengan kehidupan abad itu. Jiwanya terbiasa hidup di dunia modern, tali kini justru terjebak di dalam tubuh gadis abad pertengahan. Mundur ke masa lalu, bukan malah ke masa depan. Charlotte yang masih menatap sepasang kekasih yang tengah berduaan itu, membuat pasangan itu menghentikan kegiatan serunya. Bukan wanita itu yang menghentikan aksinya. Bukan! William yang terkejut karena tindakannya diketahui oleh Charlotte. Dan sialnya Charlotte menatap mereka dengan ekspresi terkejut, semakin membuat William kesal. “A-aku bisa menjelaskan semua ini,” ujar William gugup. Charlotte membalikkan badannya tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia kemudian beranjak dari tempat itu, menghindari sepasang kekasih itu, lebih tepatnya tak peduli. “Charlotte!” William masih memanggil gadis yang semakin menjauh itu. Amber menahan lengan William, ia tak ingin William pergi meninggalkannya meski hanya sesaat. “Jangan pergi! Bukankah Yang Mulia tak peduli dengannya?” rengek Amber. Dia semakin mendekatkan tubuhnya, kembali menggoda William yang tadi sudah hampir terpancing oleh pesonanya. William pun akhirnya kembali melanjutkan sesuatu yang perlu ia tuntaskan dengan wanita itu. Urusan Charlotte akan ia selesaikan nanti. Setelah menuntaskan kegiatan bertukar peluh dengan Amber, mungkin? Sementara itu, Charlotte sengaja berjalan dengan setengah berlari, melewati kerumunan agar tak terkejar oleh William. “Hah! Ternyata William sibuk dengan wanitanya. Dan sialnya mataku kini jadi ternoda,” umpat gadis itu sembari berjalan kesal meninggalkan William dan wanitanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN