Jam istirahat sudah habis. Waktunya kembali ke kantor untuk bekerja. Mereka pun berjalan santai sambil tertawa bersama mengingat wajah Lee Bom yang masih kesal dengan mereka berdua.
“Seharusnya yang marah disini adalah kita, kenapa jadi kamu?” ucap Jonathan menatap wajah cemberut Lee Bom.
“Hm itu benar. Kau membuat kami membayar makanan mu. Ditambah lagi kau sangat rakus” bela Rayana.
“Ahhhh… jadi apa aku harus berterimakasih?”
“Tentu saja” ucap Rayana sembari membuka pintu kantor. Namun suasana seketika berubah. Semua orang tampak sangat sibuk dan khawatir.
“Apa anda benar-benar melihatnya?” ucap seorang petugas yang tampak sedang menerima laporan melalui telepon dari warga sekitar.
“Untuk berjaga-jaga, sementara anda harus tetap berada di dalam rumah. Kami akan menindak lanjuti masalah ini. Jadi jangan khawatir. Tolong kirimkan kami alamat rumah anda, agar kami meletakkan beberapa petugas untuk berjaga dikawasan tersebut” petugas itu pun mematikan telepon dan segera menghadap Jonathan.
“Inspektur. Kami mendapat laporan, bahwasannya gadis dikawasan Distrik Gandong dibawa secara paksa dengan ciri-ciri pelaku sama persis dengan yang diberitakan”
Jonathan pun dengan gesit berjalan kearah meja kerjanya yang dikuti oleh petugas tersebut. Ia membuka kembali lembaran pelaporan kasus guna memikirkan langkah selanjutnya.
“Letakkan 5 petugas kepolisian untuk patroli di distrik Gandong malam ini dan…”
“Inspektur. Kami menerima laporan tentang lokasi terkini pelaku”
“Kirimkan alamatnya” ucap Jonathan sembari menarik jaket hitamnya dan berjalan keluar.
“Ikut dengan ku” lanjut Jonathan sembari melewati meja Rayana.
“Aku ikut” Lee Bom menahan tangan Rayana yang hendak pergi.
“Tetap disini”
“Kau yakin?”
“Kau pikir, mengapa aku bisa menjadi wakil inspektur?”
“Karena kau adalah kekasihnya?” tebak Lee Bom.
“Aishhh….” Rayana kesal dengan jawabannya dan mengayunkan kepalan tangan di hadapan muka Lee Bom.
“Oke oke. Aku akan tetap disini” ucapnya mengangkat kedua tangannya. Lalu Rayana buru-buru melangkah pergi menyusul Jonathan masuk ke dalam mobil.
Untuk sampai di tujuan, mereka membutuhkan waktu 5 jam. Karena keberangkatan dimulai pukul 02.10, maka mereka sampai ketika hari sudah mulai gelap. Dan mereka sama sekali tak membawa persiapan seperti senter atau peralatan bermalam lainnya. Sesampai nya di titik tujuan, dengan segera mereka keluar dari mobil untuk melihat sekitar.
Seperti perkiraan, tempat itu begitu sepi bak tak berpenghuni dan berdominan pepohonan. Lebih seperti pegunungan yang kadang disinggahi pemburu hewan liar.
“Jika kau tak ingin masuk, tak apa. Kau bisa diam di dalam” ucap Jonathan menoleh ke arah mobil. Mendengar ucapan seperti itu, Rayana tersenyum kecil.
“Apa setelah pacaran kau jadi meremehkan ku?”
“Kau tau bukan itu maksud ku” lanjut Jonathan merasa bersalah.
“Hm, aku tahu. Tapi tetap saja itu melukai harga diriku”
“Aku hanya mengkhawatirkan mu” nada bicaranya menjadi semakin rendah.
“Aku bilang aku sudah tahu. Mengapa kau membuat wajah seperti itu? Bukankah kita harus memburu pelaku bersama malam ini?”
“Baiklah kalau begitu. Mari kita pergi, Tapi jangan jauh-jauh dariku. Mengerti?” ucap Jonathan yang mendekatkan wajahnya kearah Rayana.
“Laksanakan Inspektur” jawab Rayana memberi hormat.
Jonathan memberikan sebuah pistol kepada Rayana dan mengambil senter yang tak sengaja dibawanya di dalam mobil. Perlahan mereka pun masuk ke dalam kawasan dengan diterangi secercah cahaya. Langit sudah sepenuhnya gelap, ditambah lagi cahaya bulan tertutup oleh dahan-dahan pepohonan. Jadi mereka menyisir kawasan mengikuti insting. Tempat tersebut sangat luas. Bahkan setelah memeriksa ponsel, tempat yang mereka masuki kini tak terbaca oleh maps.
“Ini aneh” ucap Jonathan sembari menghentikan langkahnya.
“Apa maksud mu?”
“Aku baru menemukan tempat yang tak terbaca oleh maps di Negara ini”
“Benarkah? Apa karena daerah pedalaman, jadi tak ada laporan khusus dari tempat ini?”
“Mungkin saja. Jadi kita harus memberi tanda agar bisa kembali”
Lalu mereka mengikat sebuah tali kuning di setiap pohon yang sudah dilewati. Hingga beberapa menit kemudian, mereka menemukan sebuah cahaya dari ujung jalan. Mereka berpikir bahwa memang ada seseorang yang tinggal ditempat ini. Tidak setelah melihat keadaan sekitar.
Mereka pun segera berlari kecil untuk sampai dengan lebih cepat. Terlihat dari dekat, itu seperti gudang yang terbuat dari kayu dan di atapi jerami. Mereka saling tatap, Jonathan memberi kode untuk berjalan perlahan sembari mendekati gudang tersebut.
Awalnya terdengar begitu sunyi, hingga mereka berspekulasi bahwa mungkin tidak ada orang di dalamnya. Namun seperkian detik, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dari arah dalam. Mendengar akan hal itu, Rayana tak bisa menahan diri untuk segera masuk ke dalam rumah. Karena tahu apa yang ingin dilakukan Rayana, Jonathan mencoba menahan nya. Menyuruhnya untuk tetap bersabar, hingga dapat memastikan keadaan.
Jonathan pun mencoba memastikan dari celah-celah dinding kayu. Tak terlihat satu orang pun, hingga tiba dimana segerombolan pria keluar dari sebuah ruangan. Dan suara teriakan pun menghilang.
“Kurasa bukan dia. Besok kita akan pergi mencarinya lagi” ucap salah satu pria bertubuh kekar, yang terlihat seperti atasan dari para pelaku. Jonathan sedikit tersontak, karena ternyata pelakunya bukan hanya satu orang, melainkan 8 orang. Ia benar-benar harus memikirkan cara aman dan tepat di situasi seperti ini.
Rayana yang melihat tingkah aneh Jonathan pun ikut mengintip dibalik celah-celah. Dan seperti dugaan, ia benar-benar terkejut dan segera menoleh kearah Jonathan guna mempertanyakan langkah selanjutnya. Jonathan menggelengkan kepala. Bukan karena menyerah, mereka harus menghubungi anggota yang lain untuk mengatasi ini. Jika berbicara jujur, mereka berdua saja tak akan cukup untuk mengatasinya karena menurut jumlah sudah tak seimbang. Mereka pun tak bisa sembarang untuk menembak, semua perlu diusut tuntas. Jadi mereka harus membawa pelaku hidup-hidup untuk diinterogasi dikantor.
Perlahan Jonathan mengeluarkan handy talky dari kantung jaketnya. Mencoba menyalakan untuk menghubungi anggota PCA. Namun mereka lupa, bahwa ketika menyalakannya, itu akan menimbulkan suara yang lumayan besar ketika suasana sunyi seperti ini. Dan benar saja, handy talky tersebut mengeluarkan suara yang membuat para pelaku menyadari ada pengintai disekitar.
Dalam hitungan detik, mereka berhamburan untuk menangkap Rayana dan Jonatan yang masih tersontak dengan kejadian tersebut. Sadar bahwa mereka kalah jumlah dari pelaku, Jonatan pun memberi intruksi untuk berlari menghindar dari basecamp. Para pelaku yang begitu marah, terus mengejar mereka dengan menggenggam senjata tajam ditangannya. Jonathan dibuat kalang kabut, ia bingung harus melakukan apa saat ini. Jika menyalakan handy talky saja menarik perhatian pelaku, maka ia tak bisa mengharapkan bala bantuan akan segera datang membantu mereka. Ditambah lagi, lokasi mereka saat ini tak terlacak oleh maps.
Bagaimana pun, Jonathan harus membuat keputusan untuk menghindari bahaya ini dari kekasihnya.
“Pergilah dari sini. Aku akan memancing mereka untuk mengikuti ku” ucap Jonathan sembari terus berlari.
“Apa maksud mu? Tidak. Kita harus terus bersama. Ini terlalu berbahaya”
“Akan lebih berbahaya bagi kita jika tidak berpencar” Jonathan pun menarik tangan Rayana untuk bersembunyi dibalik semak-semak.
“Bawa ini bersama mu” Jonathan menyodorkan handy talky kepada Rayana.
“Bagaimana bisa aku meninggalkan mu dengan para penjahat itu. Kau tahu sendiri, jumlah mereka tak sedikit” Rayana bersikeras menolak untuk berpencar. Ia benar-benar keberatan jika harus meninggalkan kekasihnya sendirian menghadapi bahaya seperti ini.
“Hey dengar” Jonathan pun merangkup wajah Rayana untuk memberikan pengertian.
“Salah satu dari kita harus menghubungi anggota lain untuk membantu. Jadi jika kita terus bersama seperti ini, semuanya akan tambah rumit” lanjutnya dengan mengangguk pelan berharap Rayana akan mengerti maksudnya.
“Tapi..”
“Kau percaya padaku bukan?”
“Hm tentu saja. Tapi apa kau akan baik-baik saja?”
“Hey. Apa kau lupa? Aku inspektur mu. Jangan coba-coba meremehkan ku” ucapnya sembari tersenyum manis.
“Kau ini…” ucap Rayana tersenyum malu.
“Sebagai gantinya, aku akan memberimu hadiah”
“Hadiah? Apa itu?” tanya Rayana polos. Jonathan pun menarik tangkup wajah Rayana dan mengecup bibirnya perlahan. Ia bermain dengan permukaan bibir Rayana yang lembut. Memberikan keberanian kepada kekasihnya untuk mengikuti instruksi.
“Aku akan memberimu hadiah yang lain setelah kau berhasil menjalankan misi dariku. Sekarang pergilah” perintah Jonathan sembari memberikan handy talky dan berlari memancing para pelaku kearah yang lebih jauh.
***