PART 3. DUNIA MISTERIUS

1565 Kata
Rayana terus berlari menuju tempat yang lebih aman. Memecah pandangan guna memastikan tempat untuk bisa menghubungi pusat. Kemudian tatapnya pun tertuju pada sebuah terowongan gelap dan rindang. Awalnya ia ragu untuk masuk, namun sepertinya tidak ada pilihan lain, karena tempat itu terlihat lebih aman dari yang lain. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Rayana segera berlari masuk ke dalam terowongan tanpa berpikir berbagai macam keraguan. Setelah masuk, di dalam benar-benar gelap hingga ia tak dapat melihat jalan. Bahkan endapan udara pun terasa pengap. Rayana terus melangkah lebih dalam. Ekstensinya tampak ragu untuk terus menjelajahi dan menapakkan kaki. Tanah lembab dan berair, membuat tapakannya terasa canggung tak ingin melanjutkan. Walau dengan berbagai perasaan yang melintas, semua harus mampu ditempuh karena keadaan yang sudah terlanjur kacau. Dengan semua kegelapan yang menyertai, tiba-tiba terlihat secercah cahaya yang menyinari dari tengah terowong. Syukurnya masih bisa terucap dikala kegundahan bak orang tunawisma. Setelah diperhatikan, ternyata cahaya tersebut datang dari lubang atap terowongan. Sinar bulan masuk yang sebelumnya tertutupi oleh awan hitam. Kemudian tangannya dengan gesit menyalakan handy talky tersebut. Namun belum sempat terhubung dengan pusat, suara aneh menyerbu dengan keras. Gemanya membludak memecah konsentrasi. Menghantam keras gendang telinga hingga kaki pun tak kuat berdiri dalam keseimbangannya. Suara yang begitu menyayat telinga, hingga kedua tangan Rayana pun spontan melepas handy talky dan berpindah menutup pintu saluran pendengaran penuh tekanan. “Aaaaahhhhh. Su suara apa ini?” bahkan ringisannya sendiri pun tak bisa menyelundup masuk melalui celah pendengaran. Segala cara dilakukannya untuk menahan gema menyiksa telinganya. Namun, segala usaha itupun terasa sia-sia. Kakinya terus menyeret tubuh pribadi cantik itu menuju kearah belakang. Goyah dan tidak bisa menetap pada satu tempat. Pun kelopak mata cantik itu sudah lama menyembunyikan wujud irisnya. Bersembunyi rapat membantu indera pendengar melawan serangan yang begitu ganas. Ketika tapakan itu mengambil satu langkah mundur lagi, tiba-tiba Rayana merasakan tubuhnya terjatuh dalam jurang besar yang begitu dalam. Tubuhnya seakan-akan melayang di udara. Anehnya, tepat setelah badannya masuk ke dalam lubangan, suara itu menghilang bak ditelan bumi. Hening dan begitu sunyi. Hanya terdengar pusaran angin yang mengantar kepergiannya entah kemana. Bola matanya pun tak sanggup menangkap peristiwa yang sedang dilalui. Waktu terlalu cepat untuk bisa memberikan kesempatan otak untuk berpikir. Hingga beberapa detik kemudian, tubuhnya terhempas keras menyapa tanah. “Ahhh” jeritannya tak sekeras diawal. Hanya saja tubuh bagian belakangnya kini sedang memohon menerima bantuan. Tak banyak yang bisa dilakukan, cukup memberikan elusan menenangkan. Entah akan berhasil atau tidak. Setidaknya usaha seperti ini sering dilakukan oleh banyak orang. “Hahh apa yang sedang ku alami sekarang?” keluhnya. Perlahan kelopak mata itu mulai terbuka, siap menangkap gambar yang tertunda dari beberapa menit yang lalu. Baru saja iris mata cantik itu hendak menyapa dunia, cahaya terang menyerbu masuk tanpa aba-aba. Sirahnya mengerut menahan silau. Hingga ketika sepenuhnya terbuka, mata itu menangkap pemandangan yang tidak biasa. “Apa aku sedang bermimpi?” ia memaku terpana akan pemandangan yang terpampang nyata di depan matanya. Hamparan rerumputan yang begitu hijau, bunga warna warni dari berbagai jenis, udara yang lembab, embun yang menyejukkan, air terjun yang mengalir jernih begitu cantik, hingga berbagai macam kupu-kupu berterbangan di atasnya. Semua yang berada di sana begitu sempurna hingga ia merasa sedang berada di surga. “Sepertinya aku sudah mati” ia membatin tanpa melepas pandang dari alam. Seperkian detik membuatnya terdiam kaku menikmati alam bak lukisan. Namun dalam sekejap perubahan terjadi, matanya membulat penuh. “Astaga. Aku melupakan misi ku” sontaknya. Ia tersadar bahwa harus menghubungi pusat untuk mengirimi bantuan ke TKP. Dengan cepat Rayana meraba saku celana guna mengambil handy talky. Namun ada sedikit keanehan dengan pakaiannya, kantungnya menghilang. Spontan ia mengarahkan pandangan ke tubuhnya, ternyata bukan kantungnya yang menghilang, melainkan pakaiannya lah yang berubah. Mini dress berwarna keemasan, rambutnya yang tergerai, hingga sepatu dengan tali yang melingkar cantik hingga betis. “Hahhh,, apa ini? Sejak kapan aku berganti konstum?” ia terkejut karena ini benar-benar aneh. Ia bahkan tak mengingat kapan terakhir ia menggenggam handy talky nya. Rayana merasa stress hingga mengacak rambutnya kasar. Namun itu malah membuatnya lebih terkejut lagi. “A apa lagi ini?” tangannya meraba sebuah benda keras dipermukaan kepala. Mencoba merasakan bentuk dari benda tersebut. Namun ia benar-benar tidak bisa menebak bentuk benda yang sekarang ia sentuh. Kemudian ia berlari menuju genangan air terjun. Selangkah demi selangkah, kakinya berjalan ragu untuk bercermin. Ia menghembuskan nafas panjang, mengumpulkan keberanian jika saja memang ada benda aneh yang menempel di kepalanya. Perlahan Rayana mendorong kepalanya agar terlihat di genangan air. Mencoba menerka keanehan yang ada ditubuhnya. Seperkian detik yang menegangkan, hingga ia menemukan dirinya dalam bentuk paling aneh yang pernah ia lihat. Matanya membulat tak percaya pada apa yang ia lihat sekarang. “Aaaaaaa…..” ia berteriak sekeras mungkin lalu menjatuhkan tubuhnya ketanah. Ia tampak sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Wajahnya terlihat bingung dengan pandangan gusar yang tak menentu arah. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Tubuhnya bergetar takut ketika mencoba meraba kembali benda itu. “Ta tanduk? Ba bagaimana bisa?” ucapnya tak percaya. Ternyata itu adalah tanduk. Ia masih sangat bingung mengapa tanduk kecil itu bisa tumbuh di kepalanya. “Hahh mengapa benda seperti ini bisa berada di kepalaku” kegundahan dan berbagai pertanyaan bermunculan. Keadaan tambah mengacau setelah memasuki terowongan gelap. Pun jika ingin mengetahui jawaban, tak ada satu orang pun yang melintas ditempat ini. Ditambah bahwa beberapa kupu-kupu selalu berterbangan di atas kepalanya. Mungkin mengira dirinya madu karena dress yang berwarna emas. “Aku tidak bisa diam begini saja. Jonathan membutuhkan ku. Aku harus menemukan handy talky itu” ia mencoba meyakinkan dirinya dan mencoba melupakan keanehan yang ada. Berpikir bahwa semua itu hanyalah sementara. Jadi tidak perlu terlalu khawatir. Setidaknya untuk saat ini, mempercayai keraguan adalah hal yang terbaik. Kemudian perlahan bangkit dan melangkahkan kaki guna mencoba kembali ke terowongan tersebut. Kepalanya terus menoleh ke segala penjuru. Memperhatikan setiap arah dengan teliti, jika saja ia melewati petunjuk besar. Namun nihil. Tak ada sama sekali tanda-tanda yang ia cari. Ia sudah berkeliling selama kurang lebih 30 menit. Kakinya sudah mulai lelah. Tempat itu sangat sunyi, hingga berpikir bahwa tak ada seorang pun yang tinggal disini. Dan ketika menoleh kearah utara, terlihat seseorang yang sedang beraktivitas. Ia sedikit ragu-ragu untuk mendekatinya, karena bentuk nya terpantau sedikit aneh dari kejauhan. “Apa itu benar orang?” memasang mata untuk bisa melihat dengan lebih jernih. Namun, ia mencoba menjernihkan pikirannya lebih dulu. Memangnya jika bukan orang, siapa lagi? Rayana menarik nafas panjang karena sedikit khawatir. Dari kejauhan, seseorang tersebut memiliki bentuk tubuh yang aneh. Kecil dan berwarna….hijau. “Hahhh…tidak Rayana. Kau seorang anggota kepolisian. Kau harus segera keluar dari tempat ini” ia meyakinkan dirinya untuk pergi mendekat. Dimulai dari mengambil langkah berani. Meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan hal kecil seperti ini, karena misi merupakan hal terpenting untuk dijalani, lebih dari apapun. Jarak mereka mulai terkikis rapat. Tampak kesibukan sosok tersebut yang membawa wadah menyerupai sangkar burung ditangannya. Di atasnya terdapat beberapa helaian daun yang dipetik dari sekitaran. Membelakangi Rayana dan masih fokus memilah dedaunan dari tanaman liar. “Hmmm …..permisi” sapa Rayana lembut. Mendengar suara Rayana, sosok itu seketika menghentikan aktivitasnya. Berdiri tegak dan perlahan mulai berbalik arah menghadap sumber suara. Ketika berbalik, Rayana malah dibuat terkejut hingga tanpa sadar mengambil beberapa langkah mundur. Matanya membulat menatap wajah sosok tersebut. Sosok yang pertama kali ia lihat dalam hidupnya. Tubuhnya hanya setinggi pinggang, kulit yang berwarna hijau lumut, kepala yang memiliki tanduk menyerupai terompet tipis, pakaian dengan jahitan tak beraturan berwarna abu seperti jubah, dan memiliki beberapa helai rambut berwarna putih. Sosok tersebut tampak mendongak memandangi Rayana dalam. Tanpa memberi respon apapun, ia melangkah pergi meninggalkan gadis cantik yang masih memaku ditempat. Rayana terus sibuk bertarung dengan segala isi otaknya. Masih berusaha menyadarkan tangkap gambar makhluk aneh yang dilihat. Hingga dimana ia menyadarkan diri akan tujuan awalnya, yaitu keluar dari tempat ini. Lalu memacu kedua kakinya untuk menyusul sosok tersebut dengan cepat. Mengejar yang sudah berada jauh dari berdirinya. “P pe permisi. Sebentar. Aku hanya ingin bertanya” ucapnya sembari terus berjalan menyamakan langkah kakinya dengan sosok tersebut. Namun ia benar-benar tak mendapat respon sama sekali. Tetap menutup rapat mulut mungilnya dan berjalan dengan pandangan lurus ke depan. “Apa kau …tidak bisa berbicara?” karena bentuk fisiknya yang berbeda dengan manusia, Rayana pun berspekulasi bahwa memang sosok mungil itu berbicara dengan cara yang berbeda pula dengan manusia. “Pergilah” ucap sosok itu singkat tanpa menghentikan langkahnya sama sekali. “Tidak. Hmm maafkan aku telah mengganggu waktumu. Ta tapi…sepertinya aku tersesat. Aku ingin tahu bagaimana aku bisa kembali. dan…” belum usai Rayana menjelaskan, sosok tersebut lebih dulu angkat bicara. “Tidak bisa” “Apa?” Rayana tertohok. Matanya membulat penuh akan ucapan penunjuk tanda tanya. Lantas sosok itu menghentikan langkah kakinya. Berputar arah dengan jari jemari kaki mungilnya agar berhadapan dengan Rayana. Raut dan tatapnya terlampau serius hingga membuat Rayana tertegun dalam diam. Pun suasana berganti genre menjadi horor. Dia begitu mungil. Namun jika harus menyebutnya lucu, mungkin perlu berpikir dua kali. Usianya bahkan terlihat terpaut jauh dari Rayana. Apa karena helaian rambut putihnya? “Kau tak bisa pergi dari tempat ini” ucapnya datar. Andai tempat ini merupakan dunia dongeng. Pasti akan sangat mudah untuk menemukan akses untuk keluar masuk. Entah dari pintu ajaib atau lubang terowongan yang menetap pada satu tempat. Namun kenyataannya sangat berbeda. Terowongan itu menghilang usai melempar tubuh gadis itu ketempat yang mungkin keluar dari bumi ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN