PART 4. SERUPA TAPI TAK SAMA

1816 Kata
“Pergilah. Ini bukan tempatmu” ucap sosok itu tanpa menghentikan jejakan kakinya. Terus berjalan menyusuri setiap bongkahan tanaman dari sisi jalan. Memilah pucuk dedaunan yang entah akan dipergunakan untuk apa. “Benar. Ini memang bukan tempatku. Maka dari itu aku bertanya. Jadi...bagaimana?” sebenarnya bukan niat Rayana untuk menganggu, namun untuk saat ini ia hanya menemukan sosok itu sebagai orang pertama yang dipercaya bisa membantu nya keluar dari tempat aneh ini. Setelah melontarkan pertanyaan, sosok tersebut rupanya masih tidak ingin beradu sapa dengan gadis pejuang itu. Semua fokusnya tertuju pada satu titik, yaitu nampan dengan isi helaian dedaunan. Namun, bukan Rayana namanya jika ia menyerah begitu saja. Gadis itu terus mencoba mendekat dan bersikap lembut. Dan rupanya mereka berdua memiliki persamaan. Keras kepala. Tidak ada yang mau mengalah. “Baiklah. Kurasa ini tidak akan berhasil. Mungkin ia sedikit membutuhkan waktu untuk menjawab semua pertanyaan ku” batin Rayana. Jika harus memaksa, sosok bertubuh mungil itu tidak akan pernah bisa membantu, jadi ia memilih jalan perlahan tapi pasti. “Kau sedang apa?” tanya Rayana yang tiba-tiba bersikap ingin tahu pada aktivitas sosok tersebut. “.....” Sunyi. Hanya ada suara petikan batang dedaunan. Tidak ada timpal balik dari mulut mungil yang mulai mengerut itu. “Dedaunan sebanyak itu untuk apa? Hmm...Aku bisa membantumu. Daun seperti apa yang kau butuhkan? Seperti ini?” tangan gadis itu mulai aktif. Menunjuk beberapa helaian daun sembarang di sekitar. “Atau seperti yang itu?” ia terus berlarian kesana kemari untuk membawa helaian daun dan ditunjukkan langsung pada sang pembutuh. Dan seperti yang sudah diduga. Bukan hal yang mudah membujuk orang baru seperti itu. Entah bisa disebut sebagai orang atau tidak. Namun yang pasti, Rayana tidak ingin menyerah begitu saja. Rupanya aktifitas mencari dedaunan usai sudah. Nampan yang dipergunakannya kini perlahan ia masukkan ke dalam tas dengan ukuran lumayan besar. Memastikan semua masuk dan mengeratkan tali pada bagian atas lubangan tas. “Apa kau sudah selesai?” tidak ada jawaban . “Kau mau pulang?” lanjutnya lagi. “Hmm benar. Kau mau pulang. Apa kau butuh bantuan? Seperti…..membawakan tasmu? Atau menggendongmu? Aku bisa” bukannya mendapat jawaban menerima tawaran darinya, sosok itu malah melirik sinis dengan langkah yang tidak pernah berhenti. Pun ia mulai kesal karena merasa direndahkan akan perkataan Rayana yang ingin menggendongnya. “Hahh akhirnya kau merespon perkataanku. Walaupun sedikit terlihat tidak menyenangkan” gadis cantik itu membuang nafas lelah dan tersenyum senang karena mendapat sedikit timbal balik. “Daripada mengikutiku. Lebih baik kau berbalik arah dan kembali ke tempat asalmu” ucap dingin sosok itu. Mungkin mulai risih karena Rayana yang terus-menerus mengekorinya. “Andai kau tahu sudah berapa kali aku mengitari tempat itu sedari tadi” Rayana sudah terlalu lelah karena tidak menemukan terowongan aneh itu lagi. Setelah melempar tubuhnya dengan asal, terowongan sialan itu malah menghilang. Membuatnya kesal, namun tidak ada yang bisa diperbuat. Akhirnya hanya dapat menghela nafas karena sekarang kakinya mulai mati rasa. Ditambah lagi harus membujuk sosok mungil itu dengan ekstra kesabaran. “Bisakah kau membantuku? Aku sungguh harus kembali sekarang juga. Lagipula tidak ada ruginya untukmu memberitahuku” nada suaranya mulai meninggi. Menyadari akan hal itu, si mungil segera menghentikan langkah kakinya. Berbalik secara perlahan setelah menarik dan menghembuskan nafas kasar. Mengumpulkan tingkat kesabaran. “Dan tidak ada untungnya bagiku untuk memberitahumu” matanya membulat memberi peringatan. Karena Rayana dua kali lebih tinggi darinya, dongakannya tampak seperti melihat hamparan langit tak terbatas. “Kau tidak lelah?” tanya Rayana spontan, dan hanya mendapat raut tanya dari wajah menua itu. “Dongakanmu membuatku merasa seperti T-Rex. Sepertinya lehermu sudah terbiasa melihat ke atas” lanjut gadis itu terus terang. Saking terus terangnya, wajah sosok itu mulai memerah. Bukan karena terpesona atau semacamnya, hanya saja kesal karena perkataan gadis tinggi yang dihadapannya itu. “Hei gadis raksasa. Aku tidak tahu kau benar-benar membutuhkan bantuan ku atau tidak. aku juga tidak perduli sama sekali. Namun sepertinya kau tidak sadar bahwa sedari tadi kau menghina tinggi badan ku” “Hahh? Aku? Menghina tinggi badanmu? Kapan?” “Lagi. Haha…Kesadaran dan wajah tanpa dosa itu membuatku mendidih” “Hei kau bisa tertawa rupanya” tunjuknya dengan sedikit terkejut karena melihat sunggingan tawa sosok itu. “Aku…tidak...pernah…tertawa” tegasnya disetiap kata. Menolak kenyataan akan perkataan Rayana. Pun arti dibalik tawanya hanya karena kesal, bukan karena bahagia. “Kau memang tertawa barusan. Aku masih bisa melihatmu dengan jelas walau tinggi kita jauh berbeda” Mulai lagi. Sosok itu segera mengalihkan pandangan. Menahan amarah pada gadis baru ditemuinya beberapa menit lalu. Berharap ia dapat melenyapkannya seperti halnya goresan luka yang mampu ia obati dalam waktu sekejap. Sungguh hari yang sial. Kaki mungilnya kembali mengambil langkah cepat. Sungguh tak ingin ia perdulikan gadis dengan tinggi jauh berbeda dengannya itu. Dia gadis aneh. Begitupun dengan Rayana, ia tidak perduli jika si mungil itu mengabaikannya. Mengekori hingga mendapat informasi adalah hal terpenting. Ia tidak bisa meninggalkan kekasihnya sendiri merajang bahaya di luar sana. Misi darinya pun belum bisa ia laksanakan karena kehilangan alat penghubung ke pusat. Mungkin akan membutuhkan waktu lama, namun ia sangat berharap petugas pusat akan menemani orang terkasihnya yang sedang diburu oleh sekumpulan pembunuh kejam itu. Kepalanya mendongak kearah langit. Cuaca yang sangat cerah dibandingkan langit sebelumnya yang gelap. Perbedaan waktu 12 jam. Jika di tempat ini pagi hari, maka di Seoul malam hari. Jadi Rayana hanya harus kembali sebelum langit mulai gelap disini. Kepala ia tundukan lagi. Memantau si patua mungil keras kepala itu. Rayana berpikir keras, bagaimana caranya agar dia mau membantu. Sibuk dengan pemikirannya yang rumit, hingga tanpa sadar ia sampai pada kerumunan orang yang berlalu lalang. Matanya mengitari seluruh pemandangan yang terpampang jelas dihadapannya. Ternyata yang menyerupai si mungil itu memiliki jumlah yang lumayan banyak. Entah dari segi tubuh, bentuk kepala, dan penampilan yang hanya bisa dilihat di tempat ini. Mereka terlihat seperti boneka. Bahkan hidup berkumpul dengan para manusia. Pun tak tahu masih bisa disebut manusia atau tidak. Seperti peri? Mungkin sebutan ini bisa lebih mendekati. Mereka memiliki tanduk di ujung kepala, hingga mengenakan dress selutut dengan kain persegi yang diikat nya pada bagian pinggang. “Wahhh. Aku juga memiliki hal yang serupa dengan mereka” gumam Rayana yang masih terkejut dengan apa yang dilihatnya. Setelah sampai pada tempat ini, beberapa bagian tubuhnya berubah. Mungkin menyesuaikan dengan bumi yang sedang ia pijaki. Ada rasa takut dan kagum pada satu waktu. Bagaimana bisa dunia mengubah bentuk tubuh agar semua mengenakan hal yang serupa? Namun yang masih belum ia mengerti, semua orang terlihat mengenakan kain persegi itu di pinggangnya. Setelah Rayana melihat-lihat kembali pakaiannya, dress nya lah yang paling berbeda. Mulai dari warna yang paling mencolok, hingga tidak ada kain seperti yang dikenakan seluruh penduduk disini. Bukankah dunia ini harus menyesuaikan? “Pergi dari sini” tutur sosok mungil dengan tegas. Menghentikan langkah dengan pandangan tajam. Entah apa yang sedang ia perhatikan hingga kedua matanya membulat penuh. “Kau mengusirku lagi” Rayana memutar bola matanya. Sudah bosan dan mulai terbiasa dengan kata perintah yang didengarnya sedari tadi. Entah sudah ke berapa kalinya. “SUDAH KU BILANG PERGI DARI SINI” sosok itu tiba-tiba berteriak dan dengan cepat berbalik menghadap Rayana. Wajahnya terlampau serius membuat gadis cantik itu terkejut kebingungan. Berdiri kaku di tempat. Memandang sosok yang berubah drastis secara tiba-tiba. Wajahnya mengatakan ada mara bahaya yang harus mereka hindari secepat mungkin. Menangkap hal tersebut, tentu saja jiwa detektif Rayana tak ingin pergi begitu saja. Sedangkan itu, segerombolan lelaki berbadan besar dengan penampilan aneh terus mendekat ke arah mereka. Menatap curiga pada dua makhluk yang bertingkah aneh di ujung jalan pembatas antara perkebunan dan distrik perbelanjaan. “Apa yang salah? Apa ada seseorang yang menakuti mu?” tanya gadis dengan profesi sebagai wakil detektif itu. “Bukan itu masalahnya” “Lalu apa?” “Aku akan menjelaskannya nanti” “Tidak. Kau harus menjelaskannya sekarang. Atau semuanya akan tambah merumit nantinya” “Hey, kalian yang disana” teriak seorang lelaki yang berada pada barisan terdepan gerombolan. “Dia siapa?” tanya Rayana. Bersiap mendekat untuk mencoba berbicara dengan mereka. Namun dengan cepat sosok itu menahannya. “Jika kau tidak mengikuti ku sekarang, maka aku tak akan pernah mempertimbangkan untuk membantumu” ancaman yang membuat gadis itu seketika terdiam. Ia tidak mengerti mengapa sosok itu sangat takut pada sekumpulan gerombolan preman yang mendekat. Memutuskan untuk berpikir bahwa karena perbedaan ukuran tubuh. Namun, suasananya terlampau jauh dari dugaan. “Ancaman macam apa itu?” tanya Rayana tidak terima. Ia merasa harga dirinya sebagai detektif sedang terinjak. Baru kali pertama ia mendapat ancaman dengan wajah yang sangat percaya diri. “Pikirkan itu. Ikut…atau tidak sama sekali” lalu tanpa aba-aba yang cukup, sosok mungil itu berlari dengan cepat. Meninggalkan Rayana dengan pilihan yang tidak memliki tenggat waktu. Dan karena gadis itu memang membutuhkan bantuannya, maka tentu saja ia harus mengikuti. Kemudian tanpa berpikir panjang lagi, ia segera berlari menyusul ketertinggalan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Selama ini ia juga sudah terlatih untuk berlari dengan cepat. Jadi untuk mengejar si mungil itu tidak seberapa baginya. “HEY” panggil lelaki berbadan kekar itu lagi. Namun seperti kesepakatan, Rayana hanya mengekori sosok itu tanpa menoleh ke belakang. Khawatir jika kehilangan jejak ketika sibuk berbalik ke belakang. “Kejar mereka. Cepat” dengan langkah yang lebar, segerombolan berbadan kekar itu berlari mengejar mereka berdua. “Hahhh aku tak mengerti semua ini. Biasanya aku mengejar, bukan yang dikejar” Rayana terus menggerutu sepanjang pelariannya. Merasa kesal karena harus kabur seperti orang bodoh. Ditambah lagi bahwa ia merasa tidak pernah berbuat salah sama sekali. Memang dunia yang aneh. Semua penduduk yang sedang memilih barang dagangan disisi jalan pun dibuat ketakutan. Menyingkir dengan cepat sebelum mereka terlempar kasar oleh mereka para berbadan kekar. Suara teriakan dan tapakan kaki bersatu. Kini suasana berubah menjadi gaduh, padahal sebelumnya terasa tenang dan damai. Sementara itu, Rayana terus berlari dengan sesekali mengecek menghadap belakang. Memperhitungkan jarak tapakannya dengan para berandalan yang mengejar. Pun di depan, terlihat sosok mungil yang menuntun jalan. Entah kemana ia akan membawa kerumunan pelari marathon itu. Hingga tibalah pada satu lingkungan. Dimana berdirinya satu perumahan sederhana yang masih terbuat dari kayu, pohon yang sangat besar dan tinggi menjulang disisinya, dipagari dengan bongkahan kayu kokoh disekitarnya, hingga bunga-bunga yang sedang bermekaran rapi di depan, menambah kesan fantasi pada pemandangan yang dilihatnya kini. Benar-benar seperti gambaran tempat tinggal para kurcaci pada kisah snow white. Namun ini terlalu nyata, hingga tak bisa percaya bahwa ia benar-benar terlempar ke dunia seperti tayangan film anak. “Hey. Kenapa diam saja. Cepat masuk” teriak sosok mungil menyuruh Rayana yang masih sibuk memperhatikan pemandangan luar rumah. “Cepat” ucap sosok itu sekali lagi, mampu membuat khayal Rayana membuyar. Memberikan isyarat agar Rayana bergerak lebih gesit. Setelah masuk dan memastikan segerombolan masih jauh, sosok itu segera menutup pintu. Pakk pakk pakk Hingga tiba-tiba suara ketukan kasar terdengar. Mencoba mendobrak pintu secara paksa. “Buka pintu atau aku akan merusak tempat ini. BUKA SEKARANG” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN