“Cepat” ucap sosok itu sekali lagi. Memberikan isyarat agar Rayana bergerak lebih gesit. Setelah masuk dan memastikan segerombolan masih jauh, sosok itu segera menutup pintu.
“Mereka siapa? Apa mereka rentenir? Mengapa kau harus berlari? Buka pintunya. Aku akan menghadapi mereka jika kau terlalu takut” gadis dengan jiwa pemberani itu pun mengambil ancang-ancang untuk keluar pintu dan menghadapi para gerombolan lelaki yang mengejar di luar sana sendiri. Namun baru saja tangannya menggenggam gagang pintu dari kayu itu, sosok mungil lebih dulu meregangkan kedua tangan pendeknya menghalangi pintu. Mendongak memperhatikan dress yang terpasang cantik pada tubuh semampai Rayana.
“Lepaskan pakaian itu sekarang” alih-alih mengatakan alasannya menghalangi jalan, si mungil itu malah menyuruh Rayana melepaskan pakaian. Membuat gadis itu menatap aneh ke arahnya. Menganga tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat itu juga.
“A a pa maksudmu? YAKK TERNYATA KAU SI PENDEK m***m”
“Dasar wanita gila. Kecilkan suaramu. Lagipula apa yang kau pikirkan? Lihat disana” kemudian ia menggiring pandangan menuju sebuah ruangan yang tertutup rapat dengan pintu cantik dari kayu berkarakter.
“Di dalam lemari ada pakaian yang umum digunakan para gadis ditempat ini. Gantilah sebelum mereka datang” jelasnya dengan cepat.
“Tapi kenapa? Memangnya ada apa dengan gaun ini?” tentu saja dengan tiba-tiba mendapatkan perintah berganti pakaian membuatnya bingung. Pun dia merasa tidak ada yang salah dengan pakaiannya. Kotor pun tidak.
“Kurangi daftar pertanyaanmu dan cepat berganti” sosok tersebut tampak kesal dengan Rayana yang selalu menanyakan semua hal yang ia katakan. Padahal sedari awal ia sudah mengatakan bahwa akan menjelaskannya nanti, namun mengapa wanita itu begitu bebal. Niat hati ingin mengusirnya, kini ia malah membawanya ke rumah.
Melihat si mungil sudah mulai kesal, Rayana tak banyak mengulur waktu lagi. Menjajakan kedua kakinya ke dalam ruangan yang ditunjukkan. Menutup pintu untuk siap-siap berganti kostum. Sejujurnya pakaian yang dibadannya kini begitu cantik dan berkilau, walau sebenarnya ia juga sedikit risih karena tidak terbiasa dengan sebuah mini dress.
Ketika sibuk membuka lemari guna mencari pakaian yang dikatakan, tiba-tiba pintu masuk di buka paksa oleh gerombolan yang mengejar beberapa saat lalu. Mereka sudah sampai. Membuat sosok tersebut begitu terkejut hingga membuatnya berdiri kaku di tempat melihat beberapa pria dengan perawakan besar sudah berada di dalam rumahnya. Sudah ia duga bahwa mereka menaruh curiga karena sudah kabur begitu saja.
“A a ada apa dengan kalian? Apa tata krama kalian sudah hilang setelah berpaling pada Veronica?”
“Tata krama tidak akan membuatmu menjadi penyelamat dunia” timbal salah satu dari gerombolan. Menyebar seluruh pandangan menuju segala penjuru sebelum mulai pembongkaran secara paksa.
“Setidaknya dunia akan terselamatkan dengan adanya tata krama” ucapnya tak mau kalah.
“Simpan tata krama mu itu. Berikan dia kepada kami sekarang”
“Berikan? Berikan apa?”
“Kau menyembunyikan seseorang bukan?”
“Aku tidak pernah menyembunyikan apapun”
“Kau ingin menyerahkannya dengan sendiri atau kami bawa secara paksa?”
“Tapi aku benar-benar…” belum usai sosok itu mengelak, pintu disudut ruangan terbuka secara perlahan. Memunculkan Rayana dari balik pintu dengan kostum barunya. Berjalan dengan santai mendekati keributan. Kemudian merapikan pakaian yang masih belum rapi seutuhnya.
Kini semua tuju pandang menuju ke arahnya. Menatap bingung pada perlakuan gadis cantik yang baru saja keluar dari ruangan tersebut. Pun sosok itu juga merasa bingung, karena awalnya Rayana berada di dalam ruangan yang berbeda, namun tetiba ia keluar dari ruangan yang berbeda pula.
“Bawa dia” ucap salah satu dari barisan terdepan gerombolan, terlihat seperti ketua dari geng berandal. Tanpa banyak pertanyaan, para anggotanya segera mendekati Rayana yang masih memasang wajah bingung. Namun sebelum itu, Rayana dengan sigap menghentikan perbuatan mereka yang mulai mendekatinya.
“Sebentar” ucapnya dengan berani. Membuat semua langkah terhenti seketika.
“Membawaku? Kemana?”
“Tidak ada pertanyaan. Cepat seret dia” tegas ketua memberikan isyarat agar anggota bergerak lebih cepat.
“Tu tunggu sebentar. Setidaknya kau harus memberitahu ku akan dibawa kemana” tanya gadis itu kembali. Tentu saja ia tidak ingin ikut bersama orang asing seperti mereka. Namun jika mereka bisa membantunya untuk keluar dari tempat ini, dengan cepat ia akan melangkah tanpa harus banyak pertanyaan. Dan sebelum itu, ia harus benar-benar memastikan semuanya, karena keraguannya kini muncul setelah melihat isyarat sosok itu yang menggelengkan kepalanya. Seakan-akan menyuruhnya untuk tidak turut dengan mereka.
“Kau akan dibawa ke tempat dimana kau akan merasa beban yang kau pikul akan hilang selamanya dan tidak ada kesempatan kedua jika kau menolak” ucapan yang sangat meyakinkan. Walau begitu, Rayana sudah terlalu banyak melewati hal seperti ini. Tentu saja makna dibalik itu tidak semanis yang terdengar.
“Baiklah. Aku akan ikut” ucap Rayana dengan terlihat percaya diri. Sedangkan sosok yang mendengar pernyataan itu terkejut bukan main. Memberikan isyarat kembali agar Rayana menolak. Walaupun sebenarnya sosok itu tahu, penolakan yang diberikan tidak akan bisa mengubah pemikiran gerombol pengikut Veronica. Namun bukan Rayana namanya jika menurut begitu saja.
Ia tersenyum puas melihat reaksi sempurna dari sosok mungil itu. Persis seperti yang diharapkannya, dengan begitu ia semakin bersemangat.
Melipat kedua tangan tepat pada abdomen. Menatap kedua kaki yang masih terbalut alas cantik yang entah bagaimana bisa terpasang begitu saja. Mencoba mengulur waktu untuk berpikir cara mengelabui jantan berotot berpenampilan aneh itu. Mengepakkan jari jemari pada lengan yang bersilang. Hingga beberapa detik kemudian, sudut bibirnya mulai tersingkap. Sepertinya telah mendapat ide cemerlang dari otak cerdasnya. Perlahan kepalanya pun terangkat. Memandang tepat pada iris mata mereka satu persatu. Menarik nafas lembut untuk melanjutkan pembicaraan.
“Tapi aku harus menyelesaikan pekerjaan rumah ku dulu” ujar Rayana setelah mengulur waktu beberapa detik. Raut wajah tidak biasa dari para gerombol menatap tajam pada gadis yang mencoba mempermainkan mereka. Begitupula dengan si sosok mungil, terlihat begitu khawatir jika gadis berparas cantik itu akan berbuat macam-macam.
“Jika gadis gila itu berbicara omong kosong. Akan ku usir dia tanpa ampun” batin sosok itu sembari terus memantau. Berniat pura-pura tidak kenal jika para gerombol tahu gadis itu bukan berasal dari Agartha.
“Pekerjaan rumah? Kau pikir kami peduli?” ketus sang ketua mulai kesal.
“Benar. Anggap saja kalian tidak peduli. Aku juga sebenarnya ingin seperti itu. Tapi apa boleh buat? Seisi ruangan diacak habis oleh beberapa tikus di dalam sana” tidak afdol jika mimik dan peraga tidak ikut serta dalam sandiwara. Raut wajahnya dibuat seputus asa mungkin. Tangannya mulai bergerak memijit pelipis yang bahkan sama sekali tidak sakit sedikitpun.
“Be beberapa ti tikus?” ucap salah satu pengikut. Melirik getir pada teman seperguruannya.
“YAK YAK YAKK” teriak sang ketua yang mulai risih dengan bisikan-bisikan dari arah belakang. “Kalian takut hanya karena tikus? Lagipula bagaimana bisa kalian percaya dengan omong kosong wanita ini”
Brakk Brakk Brakk
Baru usai ucap sang ketua dengan upayanya mengembalikan keberanian yang dimiliki para pengikut, tiba-tiba suara keras menyita perhatian. Membungkam mulut, membiarkan suara itu memimpin di tengah keterkejutan.
“Kalian dengar sendiri bukan? Tikus-tikus itu menghancurkan seisi ruangan. Terlebih lagi tabib sudah terlalu lama memasak daun Pheorcenix untuk persediaan ramuan obat kerajaan. Maka dari itu kami berlari secepat mungkin menuju rumah, namun sesampainya disini kalian berkunjung, jadi tidak sempat mematikan apinya”
Sosok terkejut sekaligus bingung. Bagaimana bisa wanita yang baru saja dibawanya itu dapat mengetahui itu semua? Bukankah dia mengaku berasal dari dunia lain? Walau begitu, ia harus tetap bersikap normal di depan para pengikut Veronica ini. Ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan dan membawa gadis itu pergi. Mungkin sebenarnya pun tak ingin membuatnya tinggal disini, namun setidaknya, gadis itu tidak dibawa pergi untuk menjadi korban kesekian.
“Daun Pheorcenix? Bagaimana ini master?”
“Master. Daun itu akan meledak dalam waktu dekat. A apa yang harus kita lakukan?”
“Benar master. Bukankah kita harus segera pergi? Benarkan?” ujarnya takut sembari menyenggol kawan yang berada tepat di samping. Lalu hanya mendapat anggukan dari kawannya.
“Be benar. Jika tidak….ma maka ramuan itu akan meledak. Dan dan kitaa kita…”
Seluruh anak buah saling sahut menyahut khawatir akan pernyataan Rayana. Daun Pheorcenix memang dipercaya akan khasiatnya yang mampu menyembuhkan segala penyakit dan hanya dapat tumbuh di Agartha. Namun jika di konsumsi secara berlebihan, maka dapat merenggut nyawa sang pengonsumsi, dan jika di masak terlalu lama, maka daun tersebut akan meledak dalam skala besar.
Ketua yang disebut master itupun sudah tak tahu harus berbuat apa. Memutar bola mata, memaksa otak berpikir untuk dapat menyelamatkan diri tanpa harus melukai harga dirinya sedikitpun. Hingga ia sudah benar-benar tidak tahan karena bisikan bising dari para pengikut lainnya.
“DIAM” bentaknya untuk kesekian kali. Membuat semua bisikan itu hening seketika. Menegakkan tubuhnya dengan kedua tapakan kakinya yang terlihat mencoba tetap tenang. Meluruskan pandangan, lalu melakukan kontak mata dengan Rayana. Berusaha membuat raut wajah percaya diri dan tegar.
“Ekhm. Sepertinya kami ada panggilan dari Veronica, jadi…kami harus segera pergi. Tapi jangan harap kami melepaskanmu begitu saja. Ingat itu” ucapnya mengancam. Menajamkan tatapan agar Rayana mengingat peringatan darinya.
“Benarkah? Kalian tidak ingin membantuku menangkap tikusnya?” tanya Rayana. Entah polos atau berpura-pura bodoh.
“Tangkap saja sendiri. Rumahmu sudah seperti sarang Lupus. Ayo pergi” tangannya memberikan kode, mengajak para pengikut untuk pergi dari rumah itu. Ketika para gerombol sudah benar-benar mengangkat kaki dari sekitaran mereka. Rayana masih berpikir keras pada kata Lupus. Sepertinya dia pernah mendengar kata itu. Menggerakkan setiap jari yang ia letakkan di bawah dagu tirusnya.
“Lupus? Sepertinya aku pernah mendengar kata itu” kemudian ia beralih pada sosok yang mulai melangkah guna melihat seberapa hancur rumah cantiknya. Sebelum dapat mendekat, Rayana lebih dulu menghadang. Mengintil sosok itu untuk bisa ia ajak untuk berbicara.
“Hei. Tadi ku dengar mereka mengatakan sarang Lupus. Kau mendengarnya juga bukan?”
“Entahlah. Aku hanya ingin melihat bagaimana kau membuat rumahku seperti sarang Lupus” jawab sosok tanpa ingin menanggapi akan kata Lupus.
“Sebentar. Sepertinya aku sudah mengingatnya. Hmmm…ahhh benar. Lupus itu bahasa latin dari anjing. Benarkan? Jadi…maksud b*****h kasar itu rumahmu seperti kandang anjing? Haha hahaha” Rayana tertawa begitu puas.
“Entah dari mana lucunya” gumam sosok itu kesal. Hingga dimana kedua kakinya berhenti tepat setelah melihat keadaan ruangan. Wajahnya yang semula terlihat kesal, kini menjadi datar tak memiliki ekspresi sedikitpun. Beberapa perabotan pecah, seluruh jejeran barang yang awalnya berada di dalam lemari kini sudah tergeletak acak di lantai. Benar-benar seperti sarang Lupus.
“YAKKKKKK” teriak kesal sosok itu hingga membuat burung yang bersantai dan berbagi kasih dengan pasangannya mulai beterbangan jauh karena terkejut.
***