Just Two Of Us

573 Kata
Arka menatap jalanan yang mulai sibuk pagi ini. Kali ini sengaja membawa sopir untuk mengantarkannya ke Bandara. Ditepuknya tas berisi kamera disampingnya, tersenyum mengingat percakapannya dengan Sammy beberapa hari yang lalu. Flashback Sammy kembali duduk di hadapan Arka setelah Nara meninggalkan ruangan dengan langkah ringan ,” Arka .. ada apa ?” “ Apanya ?” “ Senyumu aneh.” Arka mengusap tengkuknya, gagal menyembunyikan senyum sejak gadis itu masuk ke ruangannya sampai pergi setelah menandatangani kontrak kerjasama mereka ," Aku handle proyek ini. Just two of us ...." " Dia cuma butuh fotografer, selebihnya bisa kita komunikasikan by email selama dia di lapangan." " Aku fotografer, kamu lupa ?" jemari panjang kecoklatan itu mengetuk meja berirama ... " Entah apa yang ada di pikiranmu sekarang." Sammy menepuk tangan Arka dengan gulungan kertas ," Kalau kamu memandangnya sebagai seorang perempuan ... apakah dia membuatmu nyaman ?" Kening Sammy berkerut menatap lelaki yang masih memelihara senyum anehnya ," Atau sudah kena kutukan jatuh cinta pada pandangan pertama?" " Berisik .... bilang sama dia, fotografernya sudah siap. Begitu semua dokumen yang diperlukan selesai, kami berangkat. Handle kantor selama aku pergi ya ...." tersenyum puas, Arka meraih jas nya dan berlalu ," Aku ada acara di kementerian, setelah itu langsung pulang. Kameraku perlu disiapkan." Sammy terdiam menatap sahabatnya. Tubuh jangkung itu seperti kembali pada Arka beberapa tahun yang lalu. Secara bisnis, proyek ini tidak akan menarik minatnya untuk turun ke lapangan. Bukan karena pemilih, tetapi Arka selalu ingin memberikan kesempatan kepada staffnya untuk berkembang setahap demi setahap, seperti dirinya sendiri yang tak pernah berhenti meniti langkah baru dalam karirnya. Kalau ini tidak murni tentang bisnis .... Sammy menggelengkan kepalanya, lebih tidak mengerti lagi alasan Arka mengambilnya. Memadukan bisnis dan kesenangan bukan gayanya ... Flashback Off Nara mengedarkan pandangan, meraih ponsel dan mengambil beberapa gambar sebagai bahan tulisan awalnya tentang perjalanan ini, setelah memeriksa kembali beberapa dokumen yang diterimanya kemarin. " Butuh beberapa gambar tentang titik awal perjalanan kita ?" Suara berat dibelakangnya membuat Nara berpaling ," Ehm ... Pak Arka ?" Arka mengangguk ," Arka .... tanpa Pak. Aku bukan bapakmu." Nara tersenyum tipis, menatap tubuh jangkung yang membuat 168 cm nya tidak berarti. " Ada apa ? Ada yang salah ?" Arka mengernyit. Nara menggeleng ," Tidak, hanya saja ... saya tidak menyangka bapak ehm .... " " Abang atau kakak atau Mas atau Uda atau bahkan kamu bisa panggil aku Arka tanpa embel embel .... terserah kamu, asal bukan pak." Tertawa geli melihat gadis dihadapannya tampak rikuh memanggil namanya. " Kak ... Saya pikir akan ada fotografer." " Aku fotografer, non. Apa kurang meyakinkan ?" " Bukan begitu, tapi pekerjaan seperti ini apa harus bap ... ehm Kakak turun langsung?" Arka tersenyum ," Sekalian refreshing ... Tapi gak mau potong cuti." Ditepuknya kamera ,"Dan sudah terlalu lama dia gak diajak jalan jalan." Nara mengangkat bahu ," Kita chek in sekarang ?" " Ayo ...." Arka mendahului ke counter. Nara menghembuskan nafas panjang sebelum mengikuti langkah tenang lelaki didepannya. Digigitnya bibir ... sosok itu terlalu menarik perhatian untuk pekerjaannya, bahkan saat inipun entah sudah berapa pasang mata yang tidak melewatkan keberadaannya. “ Ngapain sih di belakang gitu ?” Mendadak Arka berhenti, tersenyum ketika Nara nyaris menabraknya ,” Ayo, cepet chek in ... aku belum ketemu kopi pagi ini.” Nara setengah berlari dengan tampang bingung ketika Arka meraih tangannya dan melangkah cepat. Di tundukkannya kepala saat menyadari banyak mata tertuju pada mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN