Mia menunduk menyimpan senyumnya. Kali ini kakaknya yang berusaha mendapatkan perhatian perempuan. Hatinya bicara Nara adalah perempuan yang tepat untuk kakak tersayangnya seperti yang dirasakan Bie dan mamanya. Gadis ini begitu hangat, terbuka, smart … hanya satu yang kurang, Nara tidak atau belum punya perasaan khusus pada Arka.
Sammy membuka kembali laptopnya saat piring sudah mulai dibereskan ,” Nara, yang ini kamu diskusikan langsung sama Arka.” Ia berdiri dan bertukar kursi dengan Nara.
“ Oke …" Nara meneguk minumnya sebelum berkonsentrasi pada file yang tadi pagi diirimkannya pada Sammy.
“ Yang ini dan yang ini perlu lebih kamu perkuat detailnya.” Arka menarik kursinya lebih dekat.
“ Ka …. sudah makan siangnya ? Waktunya kembali ke kantor.” sela Anggie, melihat jam tangannya. Tidak bisa menahan diri melihat Arka menjulurkan lengan di sandaran kursi Nara.
“ Kamu balik aja ke kantor, aku mau lanjutkan ini.” sahut Arka tanpa mengalihkan perhatian dari jemari Nara yang bergerak diatas buku catatan.
“ Kita tadi kan kesini barengan ?”
“ Siapa suruh, gak ada yang ngajak kamu juga. Sammy juga mau keluar sama Mia.”
Nara melongo menatap lelaki disampingnya yang tanpa merasa berdosa mengabaikan seorang perempuan.
Sammy dan Mia tertawa melihat ekspresi Nara ,” Ayo Nggie …. kita mau ke butik lewat kantor kok.” ujar Sammy menepuk bahu Anggie.
Mia berdiri dan meletakkan kunci mobilnya ,” Bawa mobilku. Mobilmu nanti aku bawa pulang, kak.”
Arka mengangguk ,” Kuncinya di mejaku.”
“ Pastikan Nara nyampe asrama dengan selamat.” gurau Mia memeluk gadis itu dari belakang ,” Kalau kakak ngajak ke tempat yang aneh aneh jangan mau.” memekik kecil ketika Arka menjitak kepalanya lalu mengikuti Sammy keluar.
“ Tempat aneh ? Memangnya kita mau kemana setelah ini ?”
Arka tersenyum ,” Mau aja kamu dengerin Mia.”
Nara menatap Arka lekat lekat.
“ Apa ? Takut aku culik ?”
“ He eh.”
“ Aku ada tampang penculik ?”
“ Melihat tadi tega banget ngomong begitu, bisa jadi.”
“ Ngomong apa ?”
“ Sama temen bapak tadi …" sahut Nara kesal ,” Siapa suruh, gak ada yang ngajak kamu juga" ujarnya menirukan nada dingin dan kejam Arka.
Arka mengerutkan kening, butuh beberapa saat sebelum mengingat apa yang sempat diucapkan pada Anggie tadi ,” Dia yang ngotot mau ikut. Aku gak punya kewajiban balik ke kantor bareng dia.”
“ Oh …. gitu ya.” Nara mengangkat bahu, mencoba tidak ikut campur ,” Lanjut Pak …"
“ Pak … Pak … emang aku bapakmu ?” gerutu Arka sebelum kembali fokus pada pekerjaan mereka.
Sementara itu Sammy membukakan pintu untuk Mia ,” Ayo masuklah, sayang.”
Mia sekali lagi menatap ke dalam resto, menatap dua sosok yang duduk berdekatan dengan serius dan mengambil gambar dengan ponselnya ,” Sama seperti kalau lagi sama kamu.”
“ Kalau urusan pekerjaan sama siapa aja sama.” Sahut Sammy, “ Masuklah Gie. “ ujarnya menutup pintu dan memutar untuk membuka sendiri pintunya.
Anggie terpaksa masuk dan duduk di bangku belakang. Alih alih bisa kenal dan dapat kesempatan mendekatkan diri dengan keluarga Arka, malah mendapati lelaki itu fokus pada perempuan lain.
Masih memelihara diamnya, ia memperhatikan Mia yang sibuk dengan ponselnya sambil sesekali tersenyum. Gadis yang kabarnya merupakan tunangan Sammy ini terlihat baik dan ramah, tapi kelihatannya tidak membuka diri untuknya… atau tidak berani tanpa ijin kakaknya?
“ Sam… Nara itu tadi siapa? “
“ Desainer brosur perjalanan yang baru.” Sahut Sam.
“ Desainer ya… hanya urusan pekerjaan? “
Sammy bertukar pandang dengan Mia, “ Dia cukup dekat dengan keluarga Arka.”
“ Dari perusahaan mana ? “
“ Freelancer… pemenang lomba desain kemaren.”
“ Pemenang karena kenal baik? “
Sammy menghentikan mobil di lobby kantor, serentak berbalik dengan Mia dan menatap tajam, “ Jangan melewati batas Gie… . Kalau sampai Arka dengar kamu meremehkan profesionalitasnya terhadap pekerjaan, hubungan kalian akan mundur, Dan bisa jadi Arka mengenalmu tidak lebih dari nomor induk pegawai.”
Mia menyeringai, “ Kelihatannya kakakku harus waspada, karena orang cenderung menilai orang lain sesuai pemikirannya sendiri. Profesionalitasmu yang perlu dipertanyakan, nona. “
Anggie mencebik gerah lalu keluar dari mobil .... cih, aku masuk ke prusahaan ini juga karena Arka. Aku bisa membuat bisnis sendiri atau ikut di perusahaan ayahku ...
Mia menghembuskan nafas, menatap kesal pada perempuan yang memasuki gedung dengan langkah cepat, “ Siapa dia? “
“ Anggie, beberapa kali dibawa kakakmu saat harus menghadiri acara yang penuh dengan kaum sosialita. Dibutuhkan untuk berbasa basi dan meramaikan suasana. Tahu sendiri kakakmu paling males ngobrol.”
Anggie mengangguk samar, dia dan keluarganya cukup tahu bahwa Arka sering membawa perempuan menghadiri beberapa acara non formal yang berhubungan dengan pekerjaan “ Tapi sama Nara lain, ya kan? “
Sammy mengangguk , “ Terutama sejak kasus tangan ketinggalan waktu itu. “
Mia tergelak ,” Bisa bisanya Nara pakai istilah tangannya ketinggalan. Lucu banget anak itu.”
“ Tapi kalau dipikir pikir dari awal ketemu, Nara sudah menarik perhatian Arka. Mereka adu argumen cukup panjang dengan frekuensi yang sama, hanya beda gaya. Arka menekan sementara Nara menanggapinya dengan sangat ringan sampai Arka kesal sendiri. Aku pernah cerita kan, melihat mereka seperti dua anak kecil yang gak mau mengalah.”
“ Kalau menurut cerita mama, kejadian di panti lebih jelas lagi. Nyesel waktu itu gak bisa melihat sendiri. Bisa bertengkar ringan juga lho.”
“ Kamu perhatikan gak yang tadi mau lempar sendok? Jangankan Anggie, aku aja shock melihatnya. Itu bahasa tubuh yang hanya dipergunakan Arka untuk orang terdekatnya. “
Mia mengangguk dengan sikap puas, “ Yang jadi masalah sekarang, Nara sama sekali tidak menyadari itu.”
Sammy tergelak, “ Biasanya Arka yang nolak perempuan, menarik disimak kali ini kakakmu mesti ngejar seorang gadis kecil yang tidak punya pemikiran apapun kepadanya. “
“ Belum aja.” Sahut Mia, “ Kita semua tahu bagaimana kakak kalau mengejar seauatu.”
“ Dan kalau sudah dapat dipastikan bakal posessif tingkat dewa.” Sammy meraih tangan Mia.
“ Gak sabar menunggu saat itu. “ Mia tertawa sambil berbalas chat dengan Bie dan mamanya.