Yang Terabaikan

846 Kata
Sammy menutup laptopnya ,” Ka … mau makan siang sekarang? Sekalian bahas web design yang baru dikirimkan Nara.”diketuknya tas berisi laptop yang sudah siap diatas mejanya “ Ka, kan aku yang ngajak makan siang duluan.” Ujar Anggie sambil cemberut. Arka menatap bosan, cemberutnya sama sekali tidak menggemaskan ,” Aku gak mengiyakan. Aku mau ngomongin kerjaan sama Sammy.” “ Kan ini waktunya makan siang.” “ Gak ada bedanya.” Arka berdiri ,” kamu cari teman lain untuk makan siang.” Sammy tersenyum simpul ,” Aku sudah pesan tempat di dekat kantor Mia.” “ Aku ikut.” Sahut Anggie cepat … bisa makan siang dengan keluarga Arka suatu kesempatan untuk memerkenalkan diri. Lagipula selama ini Arka tidak pernah mengajak atau memperkenalkan dengan keluarganya. Hanya beberapa kali mengajaknya menghadiri beberapa kegiatan dengan teman temannya. Sekali pernah ia bertemu orang tuanya di satu acara, tapi sama sekali Arka tidak memperkenalkannya pada mereka. Arka mendengus dan mengikuti langkah Sammy. Duduk diam disamping Sammy sampai tiba ditempat tujuan. Sama sekali tidak digubrisnya Anggie yang bicara banyak hal sepanjang perjalanan. Tumpukan pekerjaan sudah membuat kepalanya pusing, ditambah lagi perempuan yang tidak tahu kapan harus berhenti bicara ini. “ Kak …. “ Mia melambaikan tangan dari meja diujung ruangan, memeluk singkat Sammy. “ Halo … “ Anggie mendekat dan mengulurkan tangan ,” aku Anggie, teman Arka.” “ Hai.” Mia tersenyum tipis, ditatapnya tampang kakaknya yang tidak menutupi kekesalannya. Ia bisa memastikan saat ini kehadiran perempuan yang bersikap terlalu ramah ini tidak diinginkan oleh Arka ,” Mia.” Ditariknya tangan dan tubuh saat perempuan dihadapannya menunjukkan tanda tanda untuk memeluk. Arka duduk disamping Sammy yang mulai membuka laptopnya ,” pesan seperti biasa, Mi.” “ Sudah …. “ Mia memandang keluar, sudah hafal dengan kelakuan Arka dan Sammy kalau sudah membicarakan pekerjaan. Mia, Bie bahkan orangtuanyapun sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Sesekali ia mengecek ponsel, menunggu jawaban pesan yang dikirimnya beberapa saat lalu. Bukannya tidak menyadari keinginan Anggie untuk bercakap cakap, tapi ia yakin perempuan itu pasti akan banyak bicara dan mengganggu konsentrasi Arka dan Sam. “ Ehm …” ...Sial, adik Arka sama dengan kakaknya. Kehadiranku benar benar tidak dianggap oleh mereka... Anggie menggerutu dalam hati. Upaya Anggie untuk memulai percakapan terputus ketika Mia berdiri dan melambaikan tangannya ,” Nara …. !” Arka mengangkat wajahnya, menginjak kaki Sammy dan sahabatnya itu hanya meringis. “ Hai kak Mia … Pak Sammy, Pak Arka.” Nara lalu mengangguk pada Anggie. “ Duduk !” Mia memeluknya erat sebelum menepuk kursi disampingnya ,” Dari kampus ?” “ Iya … “ Nara duduk diantara Mia dan Sammy. “ Aku sudah pesan makanan, perlu kamu riview.” Nara mengerutkan kening ,” Lagi bikin konten masakan ?” Mia tertawa ,” Penasaran aja, ini biasanya lolos QC. Tapi belakangan Mr QC itu bilang kurang.” “ Hah ? Mr QC ?” tertawa ketika Mia menunjuk Arka dengan dagunya. “ Apa ?” Arka mengalihkan pandangan dari laptopnya sejenak. Nara dan Mia bertukar senyum jahil ,” Nggaaaak.” sambil menggeleng bersamaan. Tertawa melihat Arka mendengus. Giliran Sammy dan Mia yang bertukar pandang Tidak biasanya ada yang begitu mudah mengalihkan perhatian Arka dari pekerjaannya. “ Sudah, makan dulu.” Ujar Mia saat makanan mulai dihidangkan. Sammy menyimpan laptopnya. Arka menatap Nara saat melihat gadis itu terdiam sejenak melihat satu mangkok besar sop iga dihidangkan ,” Cobalah, biasanya ini sudah masuk top selain masakan bunda. Tapi kelihatannya masakanmu merebut peringkatnya deh.” Anggie melongo, bahkan diapun belum pernah mendengar Arka bicara sepanjang itu diluar pekerjaan. Terlebih melihat lelaki itu mengisi mangkok kecil dan mengulurkannya pada gadis yang baru datang ini. Nara menarik nafas, menerima mangkok kecil yang diulurkan Arka dan mencobanya ,” Ah alasan …. Ini lebih enak.” “ Siapa bilang ?” “ Aku.” Nara nyengir. “ Mananya yang lebih enak ?” Arka memakan sesendok lagi ,” Bumbunya sedikit berbeda, sedikit terlalu pekat.” “ Enak ini, karena aku tinggal makan. Harus masak dulu itu capek tahu …. Pak …….” Ledek Nara, tertawa saat Arka seakan hendak melemparnya dengan sendok. Anggie menatap kesal. Beberapa tahun ini ia berinteraksi dengan Arka, belum pernah sekalipun ia melihatnya bersikap lepas seperti ini. “ Aku belum pernah makan masakanmu. Kata mama emang enak kok …. Makanya aku tadi ajak kamu kesini, biar kakak bandingin.” ujar Mia, mengisi penuh mangkuk kecil dihadapannya. Sammy menikmati makanan yang dipesannya dalam diam, sambil mengamati bagaimana bahasa tubuh Arka mendadak rileks saat berbicara dengan Nara apakah rasa nyaman itu sudah datang…,” Makanlah, Gie …” ujarnya, sedikit iba pada perempuan yang diabaikan oleh Arka. Arka mengabaikan orang lain saat membicarakan pekerjaan, semua orang tahu termasuk Anggie. Tapi mengabaikannya untuk perempuan lain itu yang tidak pernah dirasakan Anggie, walaupun Sammy tahu persis Arka juga tidak bersikap manis atau hangat pada Anggie atau perempuan lain yang kebetulan tengah bersamanya. Dan saat ini Anggie dikalahkan oleh gadis kecil dengan kemeja, jeans dan sneakers yang dengan acuhnya menikmati makan siang tanpa beban.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN