Cerita Dibalik Itu

741 Kata
Arka duduk di sudut dapur sambil menyibukkan diri dengan ponselnya. Sesekali ditatapnya gadis yang memasak tanpa suara, beberapa kali mendapatinya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Bunda dan Bu Rahmad menyiapkan vitamin dan obat obatan untuk seminggu ke depan. Beberapa kali melirik Arka yang duduk menjulurkan kaki dengan santai dan terlihat sangat nyaman di dapur menatap Nara memasak. Tidak ada tanda tanda ingin meninggalkan tempat. Masih dalam diamnya, Nara menyajikan masakannya di meja makan besar dibantu beberapa petugas panti, mengambil tempat disamping nenek Omi yang menatapnya sambil tersenyum bangga. “ Jangan jauh jauh, kalau ada apa apa kamu harus tanggung jawab.” goda Arka sambil duduk disamping Nara, meraih mangkuknya sambil menghirup aroma yang membangkitkan selera makannya. Tersenyum sambil mengangkat alis pada Nara setelah merasakan sesendok. Dengan semangat menambah jumlah nasi di piringnya dan makan dengan lahap tanpa suara sampai piring dan mangkuknya bersih, tanpa menyadari gadis disampingnya menatap diam sambil menggigit bibirnya yang bergetar dan mata berkaca kaca ,” Good job” tangannya terulur mengusap ujung kepala Nara. Mengerutkan kening ketika gadis itu berdiri dengan cepat dan meninggalkan ruang makan ,” Nara.” “ Biar saja Arka …" cegah nenek Omi ketika melihat lelaki itu berdiri, menariknya duduk di kursi yang ditinggalkan Nara. “ Apa saya melakukan sesuatu yang salah, Nek ?” Nenek Omi menggeleng, menarik nafas sambil mendorong piringnya sendiri yang juga kosong ,” Sudah tiga tahun nenek gak makan ini, hanya karena Nara gak sanggup memasaknya. Ini masakan favorit papa dan kakeknya. “ Terdengar beberapa sentakan nafas. “ Masakan yang dipelajari sedemikian rupa sejak Nara SMP, hanya untuk melihat mereka makan dengan lahap sepertimu barusan. Bahkan … masakan ini kami siapkan menyambut mereka pulang pada hari kecelakaan itu terjadi.” Bunda dan Bu Rahmad bertatapan dengan mata basah. Nenek Omi tertawa kecut. Tangan keriputnya mengusap ujung kepala Arka “ Pukulan telaknya adalah apa yang kamu lakukan seperti ini tadi, persis dengan yang dilakukan papa dan kakeknya setelah kenyang. Bentuk penghargaan yang sangat membuat Nara bangga dan bahagia.” tersenyum menenangkan saat melihat rasa bersalah di wajah Arka ,” Biarkan dia sebentar. Saat ini dia pasti sedang menangis, tapi cucuku bukan gadis cengeng. Dia hanya butuh pelampiasan setelah menahan diri sampai masakan ini selesai. Jujur tadi nenek gak kuat melihat dia masak, makanya memilih keluar.” Sejenak suasana di meja makan hening, sebelum mereka melanjutkan makan siangnya. “ Kamu sudah masak, giliranku cuci piring.” Arka membawa setumpuk piring kotor dan berdiri disamping Nara. Sekilas dilihatnya sudut mata gadis itu masih basah. “ Bisa ?” Nara bergeser memberi ruang. “ Sembarangan, aku pernah dapat uang saku tambahan dari cuci piring.” “ Kirain karena dompet ketinggalan.” Arka tertawa ,” Maaf ya ...aku gak tau …" lanjutnya serius sambil tetap mencuci piring. Gerakan Nara membilas sisa sabun terhenti sejenak, menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan ,” Tentu saja bapak gak tau, tapi kelihatannya nenek sudah cerita. Terima kasih, memang masih menyakitkan, tapi setidaknya sekarang aku sudah tidak diam didalam ketakutanku sendiri.” Arka tersenyum, mencuci dan mengeringkan tangannya setelah menyerahkan piring terakhir. Ditatapnya Gadis yang berkonsentrasi pada air mengalir didepannya. Tanpa sadar tangannya terulur meraih ikat rambut Nara yang hampir terlepas dan mengikat lagi rambut yang sempat tergerai itu. “ Pak ….” Arka menghela nafas ,” Kamu bisa panggil adik adikku kak, kenapa sama aku gak ?” Nara tertawa, senang sekali melihat lelaki ini merengut. ,” Kita masih bisa ketemu di kantor, penggemarmu bakal jantungan kalau aku mengubah panggilanku. … eh salah … kalau saya merubah panggilan pada bapak.” jelasnya dengan nada dibuat sesopan mungkin. “ Arka ….” suara Bu Rahmad menahan Arka yang sudah ingin menjitak kepala berambut halus itu ,” dia mengganggumu Nara ?” Nara melirik Arka sambil tersenyum lebar. Arka merengut, kemudian memasang tampang acuh untuk mencegah senyumnya melebar. Bingung dengan rasa nyaman yang baru dirasakannya saat mencuci piring tadi ,,, Hah , kenapa harus kegiatan kecil itu terasa menyenangkan bersamanya …? “ Nara kamu tadi naik apa kesini ?” “ Saya nginap semalam, Bu …. Habis ini mau balik ke asrama.” Bu Rahmad melihat langit yang gelap ,” Bareng kami aja. Sudah mau hujan.” “ Saya bawa payung kok bu.” “ Berisik, sana siap siap …. Aku tunggu di depan.” “ Hei …. “ Nara mengacungkan tinju kecil nya pada punggung Arka, mendesah jengkel ketika lelaki itu melirik sekilas sambil menarik sudut bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN