Tiga motor memasuki area parkir kampus. Aku berdiri segera. Menatap salah satu pengendara itu. Langit melepas helmnya. Memberi seulas senyum. Lalu mengatakan, "Pagi, Putri Priscillia." Kemudian kujawab, "Pagi, Pangeran Langit." Dia pun menghampiri, membuka telapak tangannya. Di mana ada sekuntum bunga melati yang entah sejak kapan ada padanya. Aku tersenyum, mengambil bunga itu dan menyesap harumnya. Seperti itu, selama berhari-hari. Bahkan aku sudah tidak peduli lagi pada ejekan dan sindiran Amel yang mengatakan jika aku ini sudah mengidap sindrom bucin level akut. Hahaha. *** Aku berjongkok menatap ban depan skuter matik. "Kok, kempes, sih," gerutuku. "Kenapa, Sil?" Aku berdiri kembali. "Bannya kempes, Yah." "Ya, udah. Ayah anterin, ayo!" "Tapi Sisil belum mandi." "Apa engga

