"Siapa?" tanya Martin. Aku terhenyak. Astaga, sepertinya aku terhipnotis pesona Langit. "Ini ...." "Langit," sela lelaki itu. "Siapanya Sisil?" tanya Martin lagi. "Ini ...." "Pangerannya Sisil," sela Langit lagi dengan ekspresi yang tampak datar, sedatar-datarnya. Aku menelan saliva. Kenapa bisa Langit yang kukenal sejak kecil, tumbuh menjadi lelaki dingin tapi juga lebay bin bucin? "Meong." Aku menunduk. "Alexis mau pulang? Ayo, kita pulang. Noona mau mandi dulu," tandasku. Lalu pergi meninggalkan dua lelaki itu tanpa sepatah kata pun. "Sisil. Kok, malah pergi?" tanya Langit. Aku tak menoleh. Singa, Hamster, Iguana, Tupai! Kenapa Langit enggak telepon kalau mau datang? Aku 'kan bisa siap-siap dulu. "Sil, tolongin Bunda bentar ... Sil! Sisil! Kenapa itu anak?" Aku tak menghi

