40. Surat Perjanjian

1510 Kata

"Halo," sapaku sambil menggosok rambut yang basah dengan handuk. "Halo juga, Putri Priscillia. Lagi apa?" tanya Langit di seberang sana. "Baru beres mandi. Mm, kamu udah di rumah?" tanyaku ragu, lalu menggigit bibir. "Udah. Ini juga baru beres mandi. Lagi nunggu dipanggil buat makan malam." "Ah, ya. Terus ... udah ketemu sama ... Kak Althaf?" "Udah. Kenapa emang?" "Apa dia bakal ngadu sama Papa?" "Dia emang tukang ngadu, kok. Kamu tenang aja, aku udah biasa. Paling juga besok kuliah dilarang bawa motor, atau hape dirampas buat beberapa hari." "Terus ke kampusnya gimana?" "Ya, kayak biasa. Nebeng sama Braga atau Jimmy. Atau ... nebeng sama kamu. Boleh?" "Ya, boleh-boleh aja, lah. Kenapa harus enggak boleh. Tadi udah dibawa sama orang bengkel deket perumahan, kok," jawabku sambil d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN