Bab 21 Kenyataannya, aku masih bisa melanjutkan menikmati semarak NYFW keesokan hari. Pagi-pagi, dengan kebaya tutu berwarna biru muda, serta jarik putih gading, Ibu bilang bahwa beliau nggak mau pulang dulu. Mau menghabiskan weekend di sini. Tapi, saat kuajak untuk melihat pagelaran fashion, Ibu bilang nggak mau. Katanya mau menghabiskan akhir pekan di dalam kamar hotel. Kan aneh, yak. Ngapain jauh-jauh ke New York kalau nggak mau pergi main-main? Mending kan di Jakarta saja. Nggak habis-habisin duit juga. “Tata sewakan taxi, gimana, Bu? Jadi kita nggak harus naik kereta api bawah tanah. Masa Ibu diam saja di sini, sih? Nggak bosan, apa?” Aku masih berusaha membujuk Ibu. Orang tua tersebut hanya menatapku sekilas, kemudian melanjutkan menikmati kudapan kue yang disediakan pihak hotel.

