Aku meregangkan tubuh, menguap lebar, menekuk leher kiri kanan untuk mengulur otot-otot yang menegang di sana. Gila! Capek banget. Jam berapa sekarang? Astaga! Sudah hampir pukul satu dini hari? Pantasan tubuhku menjerit-jerit minta istirahat. Seharian bekerja di hadapan komputer memang mampu bikin seluruh badanku rasanya mau protol. Ini gara-gara Bagas main melemparkan tugas padaku. Gila aja. Kupikir setelah adegan cipokan di ruangannya, sifat dia berubah lembut padaku. Nggak tahunya, tetap saja sedatar triplek. Sejahanam lelembut. Makhluk apa sih dia itu? Nggak ada baik hatinya sama sekali. Untung dia pintar cipokan, jadi agak dimaklumilah sifat songongnya. Coba kalau enggak, sudah pasti kutendang dia ke langit sap tujuh tuh laki. “Kopi, Mbak Tata.” Eh. Aku menoleh ketika suara A

