bc

Rindu yang Tak di Cintai

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
possessive
arrogant
CEO
comedy
bxg
genius
office/work place
secrets
spiritual
like
intro-logo
Uraian

Bagaimana rasanya bermain petak umpet rindu dengan seseorang yang bahkan namanya tidak kenal?

Semua perasaan itu akan kamu temukan dalam kisah Zahrah yang mencari lawan main petak umpetnya.

"Kamu sudah menenukan saya. Lalu, apalagi?"

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
☁☁☁ Katanya masa kecil adalah waktu bahagia dimana semua detik waktu tidak perlu memikirkan beban yang akan menjadi berat ketika dewasa. Menurutku itu benar. Usia 5 tahun aku mengenal seorang anak laki-laki. Dia imut dan lucu. Kami bersenang-senang bersama menikmati masa kecil dengan bahagia meski singkat. Diwaktu yang hanya sekitar seminggu kami bermain anehnya kami masih tak saling mengenal nama masing-masing. Selalu menggunakan panggilan 'aku-amu' yang jika diartikan 'aku-kamu' tanpa ada embel-embel nama ditambah kami yang masih sedikit cadel dalam berbicara. "Amu utup mata, ya," ucapnya sambil mengarahkan telapak tanganku untuk menutup mata. Aku menurut saja walaupun setiap bermain hanya petak umpet saja yang kami mainkan. Jika biasanya aku gampang bosan melakukan hal yang sama setiap harinya namun Karena dia semuanya terasa menyenangkan tiap harinya. Aneh tapi nyata. "Sekalang amu hitung ya! aku bakal cembunyi,"ucapnya memberikan instruksi. Aku mengangguk sembari menyungging senyum menanggapinya. Dan aku mulai menghitung dengan hitungan lambat memberi waktu agar dia bisa bersembunyi. "Satu!" "Dua!" "Tiga!" "..." "Sudah belum?!" tanyaku berteriak padanya. "SUDAH!" balasnya dengan berteriak dan aku mulai menurunkan telapak tangan mengintip sedikit memastikan dia benar-benar sudah bersembunyi sebelum mencarinya. Dia anak yang tidak diinginkan. Katanya begitu. Ketika bayi dia dibuang di depan panti asuhan kala hujan deras melanda kota Malang. Tidak tahu siapa kedua orang tuanya dan kenapa membuang dirinya di panti. Tinggal di panti asuhan berharap diadopsi lalu memiliki keluarga yang membuat dirinya bisa melupakan jika pernah tak diingkan. Waktu berjalan cepat teman-temannya mulai banyak yang diadopsi membuat dia selalu termenung sendirian di jendela menatap wajah ceria teman-temannya yang dijemput keluarga baru mereka. Menunggu. Itulah yang dia lakukan. Menunggu kapan ia akan mendapatkan keluarga. Setiap ada yang datang dia akan menunjukan keahliannya untuk menarik perhatian sayangnya tidak ada satupun perhatian yang tertuju padanya. Hingga hari penantian tiba dia merasa begitu bahagia. "Aku bahagia cekali waktu itu," katanya kala bercerita. Tergambar Dari ekspresinya yang mengingat kejadian bersejarah dalam hidupnya. Sampai ekspresi tersebut berubah sendu membuat keningku berkerut tanya padanya. "Tapi itu cuma cebental," sambungnya dengan Nada sedih. "Kenapa?" tanyaku. "Aku cuma pengganti anak meleka yang udah meninggal." Semunya langsung berubah ketika dia mengetahui fakta menyayat hati. Hatinya hancur beserta dunianya. Ia anak yang penurut termasuk kepada kedua orang tua barunya. Sampai ia disuruh mengubah diri menjadi sama seperti putra kandung kedua orang tuanya pun ia menurut meski ada luka teramat dalam yang harus ia pendam. Menjadi figur pengganti dalam sebuah film mungkin tidak mengapa. Namun, menjadi figur pengganti dalam kehidupan nyata? bukanlah sesuatu yang mudah dijalani. "Yey! Aku menemukan amu!" sorakku dengan gembira karena berhasil menemukannya. Sedangkan dia sudah memasang wajah masam dengan bibir yang mengerucut. Sangat lucu. "Yahh...amu nemuin aku lagi," ucapnya dengan bibir yang semakin manyun layaknya bebek yang sedang ngambek. "Adahal elum satu menit lho agaimana bica?" sambungnya. Aku tersenyum menanggapinya. Lalu, tangan mungilku menyentuh dadanya. Pusat utama yang menjadi titik alasan kenapa aku bisa menemukan dirinya dengan mudahnya. Dia menatapku dengan dahi berkerut. Tangannya juga ikut menyentuh dadanya bertumpuh dengan tanganku. Detak jantung. "Cemua ini kalena cuala detak jantungmu." Aku tahu ini terdengar aneh namun itulah faktanya. Saat aku berusia tiga tahun aku mendengar suara yang begitu mengusik. Waktu itu aku tidak tahu suara apa. Ayah membawaku ke dokter THT namun tidak ada apa-apa yang terjadi pada telingaku dari hasil pemeriksaan sampai aku mengetahui sendiri jika itu adalah suara detak jantung. Tidak semua detak jantung bisa ku dengar. Hanya beberapa orang saja Ibu, ayah, dan juga dia saat itu. Karena itulah sejauh mana ia bersembunyi aku bisa menemukannya. "detak jantung?" "Um." Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. "Kalau begitu amu bica menemukan aku cetelah ini?" "Tentu caja." "Janji amu akan mencaliku?" Ia mengacungkan jari kelingkingnya ke arah ku. Aku menatap sejenak sebelum menautkan kelingkingku dengan kelingkingnya. Yakin jika aku bisa menemukan dia. "Janji." "Aku akal pelgi jauh," ucapnya dengan menunduk. "Sembunyi lebih jauh. Tapi, aku mau amu nemuin aku lagi." "Memang jauh cekali?" Dia mengangguk lemah. Disaat itu aku menyadari kalau pertemuan dan permain ini menjadi yang terakhir bagi kami. "Kemana?" "Lahasia," katanya lalu memutar tubuhku menyuruhku kembali menghitung dan dia akan bersembuyi kembali. Namun, kali ini sembunyinya lebih jauh. "Cekalang amu hitung lagi ya. Belbaliklah kalau hitungannya celecai kalena aku tidak akan menjawab kalau amu beltanya," ucapnya dan lagi aku hanya mengangguk menanggapinya. Aku kembali mulai menghitung, sedikit berbeda aku mempercepat hitungan berharap dia tidak ada waktu untuk bersembunyi. Petak umpet adalah kesukaannya. Dimana dia akan merasa di perhatikan dengan dia dicari-cari keberadaanya. Merasa berharga. Ketika kebahagiannya terasa hampa Karena dijadikan pengganti ia memilih sering bersembunyi meluapkan kesedihan hingga air mata mengering di bawah pohon besar di taman. Lalu, aku menemukan dia. Merasa kasihan aku menghiburnya dengan mengajak dia bermain petak umpet dan setelahnya permainan itu menjadi favoritnya. Apalagi aku bisa menemukan dia dimana pun ia berada. Hitungan berakhir aku membalikan badan dan dia sudah tidak ada. Detak jantungnya tidak terdengar lagi. Aku mencarinya kemana-mana hingga hari menjelang malam aku masih berusaha mencarinya terus. "Ara!" panggil ibu melambaikan tangan membuatku berjalan ke arah ibu dengan sorot Mata yang melirik ke Sana-kemari berpikir siapa tahu aku tidak sengaja melihat dia. Ibu membelai pipiku lembut berjongkok mensejajarkan diri. "Kamu Cari siapa Ara sayang?" tanya ibu. "Aku cali temanku." "Mungkin dia sudah pulang." Ibu menunjuk ke arah langit yang berubah menjingga. "Lihat langit sudah akan berganti. Ibunya pasti tadi nyariin terus bawa dia pulang deh. Sekarang Ara juga harus pulang besok pasti bisa ketemu lagi." Aku yang biasanya percaya dengan ucapan ibu namun tidak kali ini. Aku merasa tidak yakin dengan hari esok, lusa bahkan kedepannya. "Baik, Ibu ayo kita pulang," ucapku pada ibu. Ibu mengulas senyum berdiri lalu membela rambutku sebelum menggandengku berjalan pulang. "Amu dimana?" batinku sedih. saat itu aku sungguh merasa frustasi untuk pertama kalinya aku tidak dapat menemukan dia. Aku tidak bisa mendengar detak jantungnya bersamaan dengan aku yang tidak bisa menemukannya. Dia menghilang begitu jauh. Aku berharap bisa menemukannya tidak perduli seberapa jauh dia pergi. Tapi, bisakah aku? Dirinya sudah bersungguh-sungguh bersembunyi sangat jauh agar aku mencarinya. Lalu, haruskah aku juga bersungguh-sungguh dalam mencari keberadaan dirinya? ☁☁☁

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook