???
20 tahun kemudian.....
Roda brankar berputar mengikuti iringan langkah kaki cepat melewati koridor rumah sakit menuju ruang UGD. Dari arah koridor lainnya seorang dokter wanita berjalan tergesa-gesa menghampiri brankar tersebut.
"Kenapa ini?" tanyanya pada salah satu suster yang mendorong brankar.
"Kecelakaan mobil, dok."
Dokter bername tag Zahrah. A. itu mengangguk ikut mendorong brankar. Memeriksa tubuh pasien pria korban kecelakaan dengan teliti.
"Pendarahan di kepala, luka gores di tangan dan patah tulang di bagian kaki," ucapnya lalu mulai menginstruksi untuk segera menangani pasien.
Semuanya mulai melakukan tugas masing-masing. Memberikan penanganan terbaik, mengerahkan semua tenaga meski tidak bisa di pungkiri Zahrah menghela nafas kecewa. Ada harapan yang pupus kembali untuk kesekian kalinya. Menatap ke luar jendela ruang kerjanya dengan tatapan sendu. Padahal dia sudah menekankan untuk tidak berharap tinggi untuk bertemu lagi jika tahu ujungnya akan kecewa. Namun, Zahrah tetap melambungkan harapan tersebut.
Setelah, menangani pasien Zahrah harus menelan kekecewan karena lagi-lagi bukan dia. Mungkin terdengar sedikit kejam kalau Zahrah mengharapkan dia yang ia cari tanpa nama itu mengalami kecelakaan dan membuat ia dan dia bertemu. Banyak yang menyuruh Zahrah untuk berhenti dan fokus ke masa depan tanpa menoleh terus ke masa lalu yang belum tentu di ingat olehnya yang Zahrah Cari.
"Apa salah kalau aku mencari seseorang yang sempat hadir dalam hidupku?"
"Ya, ngga sih tapi cuma gimana ya...," Aisha bingung bagaimana harus menjelaskannya Pada Zahrah. Menurut Aisha, sahabatnya ini terjebak ruang masa lalu yang menjadi awal semuanya.
Aisha berdiri mendekati Zahrah yang menatap pemandangan malam dari jendela. Cahaya Indah dari gedung yang dimakan gelapnya malam. "Di dunia ini ada miliyaran orang, Zah. Dan orang yang kamu Cari aja kita ngga tahu dia ada di belahan dunia mana."
"Bahkan kamu aja ngga tahu namanya," sambung Aisha mencoba menjelaskan kalau ruang masa lalu Zahrah sekarang hanya bagaikan ruang hampa yang tidak ada apa-apa. Tidak ada titik jelas di dalamnya.
Zahrah mengerti maksud Aisha. Namun, ia sendiri tidak tahu darimana harapan besar ini menjadi semakin besar setiap harinya. Harapan kabut yang berasal dari masa lalu. Sekarang wajah dia pun menjadi misteri yang bercampur khayalan dalam benak Zahrah.
Seperti apa dia sekarang?
bagaimana hidupnya sekarang?
Apakah dia bahagia?
Begitu banyak pertanyaan yang masih misteri dan kunci jawabannya hanya jika saja keduanya bertemu.
Tujuan kedua Zahrah menjadi dokter selain melayani masyarakat adalah mencari dia. Di Ibu kota Indonesia dengan penduduk paling padat harusnya ada peluang untuk bertemu.
Aisha menepuk pundak Zahrah. Jujur saja Aisha merasa kasihan. "Saranku jangan di Cari lagi."
Zahrah menoleh, "Kenapa?"
"Pertama, kamu bakal Capek sendiri dan kedua kamu aja ngga tahu dia di mana, dia masih hidup apa udah mati emang kamu tahu? ngga kan?" Zahrah diam tidak tahu harus membalas apa. Apa yang dikatakan Aisha benar. Tapi,...
"Aku sudah berjanji padanya."
Aisha menghela nafas. Memang sulit memberikan saran pada orang yang terlalu terjebak Pada suatu hal. Mereka kebanyakan akan buta dan tuli.
"I Know. But, kamu udah berusaha. Kalau ngga ketemu? yaudah. Itu bukan urusan kamu lagi. Pertanyaanya sekarang apa dia nungguin kamu yang mati-matian nyariin dia?"
Dalam permainan ada menang dan kalah. Di setiap permainan Zahrah selalu menjadi pemenang haruskah sekarang ia memilih menyerah lalu mengaku kalah begitu saja setelah dua puluh tahun lamanya ia lalui untuk mencari dia.
"Oke, kalau dalam satu tahun ngga juga ketemu aku nyerah dan akan ngga nyari dia lagi," putus Zahrah. Tidak ada tanda-tanda keberadaan dia. Setiap Kali ada pasien datang harapan muncul. Namun, 2 tahun ia menjabat sebagai dokter di rumah sakit Ina Jakarta sama sekali Zahrah tidak menemukan detak jantung yang selalu ia jadikan acuan pencariannya.
"Satu tahun?" tanya Aisha tidak percaya. Satu tahun ada 12 bulan 366 hari 3666 detik namun Zahrah gunakan lagi waktu sebanyak itu untuk hal yang sia-sia.
"Iya, salah lagi?"
"Kebanyakan tau," komentar Aisha.
"9 bulan?"
"Mau lahiran?"
"6 Bulan?"
"Kurangi lagi."
"Sebulan?"
"Nah, cakep segitu aja cukup. Inget waktu itu cuan. Cuan ngga dateng begitu aja. Kamu harus fokus kerja biar bisa nraktir aku."
"Dih!"
???
Di tempat lain.
Seorang pria duduk dengan angkuh di kursi kebesarannya. Menatap satu persatu foto yang tergeletak di meja kerjanya. Meneliti setiap inci foto-foto wanita dengan wajah putih dan semu merah di pipi sebelum berdecak kesal lalu membuang semua foto ke tong sampah.
"Ck, tidak ada satupun yang mirip!" bentaknya pada pria di depannya.
"Maaf, tuan. Saya akan mencarinya lagi."
Setelah kepergian pria suruhannya. Pria itu menggeram kesal, tangannya mengepal meremas kuat kertas yang bertuliskan sebuah nama yang sangat di bencinya. Elmo Zachariah. Nama yang telah 21 tahun ia gunakan sebagai indentitasnya. Usia 4 tahun ia di adopsi rasanya bahagia. Akhirnya harapan Fikra kecil tercapai. Memiliki keluarga kaya yang menyayanginya. Namun, semua itu terasa hambar setelah 5 bulan setelah ia di adopsi, orang tuanya mengganti namanya sama dengan nama anak mereka yang telah tiada. Lalu, menyuruhnya merubah sikap sama seperti Elmo dihadapan semua orang. Menjadikannya sebagai figur pengganti.
Karena sakit hati ia memilih bersembunyi, menangisi takdirnya yang begitu terasa tidak adil. Ia pernah bertanya pada ibu panti bagaimana ia bisa berada disana dan kenyataan menyakitkan yang Fıkra kecil terima. Ia dibuang kala masih bayi di depan pintu panti saat hujan deras. Suara tangis kencang membuat ibu panti keluar lalu menemukan Fıkra kecil dan sejak saat itu Fıkra kecil tinggal di panti asuhan sampai usianya menginjak 4 tahun ia di adopsi. Lalu, ia bertemu gadis kecil manis dengan kulit yang putih dan semu merah yang selalu melekat di pipi gadis itu. Terlihat manis di mata Fıkra yang telah berganti nama menjadi Elmo. Gadis yang selalu bisa menemukan ia ketika bersembunyi.
"Kapan kamu akan menemukan saya?" tanyanya pada diri sendiri. Lalu, tangannya memegang d**a. Detak jantung. Itulah yang Elmo ingat. Gadis itu berkata jika mudahnya ia menemukan Elmo karena detak jantung.
"Haruskah saya melakukan siaran detak jantung saya agar kamu menemukan saya lebih cepat?" Tanyanya lagi. Pemilik stasiun televisi tercanggih se-Indonesia itu menghela nafas idenya gila dan terlalu absurd. Tapi, mungkin tidak ada salahnya di coba jika itu memudahkan gadis masa lalunya menemukannya. Tapi, bagaimana caranya? tidak mungkin jika ia langsung menyiarkannya suara detak jantungnya begitu saja. Itu akan menimbulkan banyak pertanyaan bagi media lainnya.
???