"Kamu yakin mau pulang sendiri?" tanya Aisha.
Aku mengangguk menanggapinya. Aku tahu sekarang sudah jam sepuluh lebih tidak baik untuk berkendara sendiri tengah malam begini. Namun, aku tidak mungkin merepotkan orang lain.
"Aku khawatir sama kamu, Zah. Wajah kamu keliatan lelah banget lho." Aisha menangkup wajahku. "Lihat udah pucet. Yakin pulang sendiri? Aku antar aja deh," sambung Aisha.
Hari ini memang lebih sibuk dari hari biasanya. Tubuhku juga tidak bisa mentembunyikan betapa lelahnya aku. Aku menghela nafas melepaskan tangan Aisha dari wajahku.
"Aku ngga papa. Kamu tenang aja lagian udah biasakan kalau pulang sendiri." Aku mencoba menyakinkan Aisha.
"Ngga, ah...aku ngga percaya. Nanti kamu ketiduran di jalan ngga ada yang jamin."
Aku berdecak. Sialnya aku malah menguap tidak bisa menahan kantuk yang sudah mulai menyerang Ku. Aisha langsung memasang wajah galaknya melihatku menguap yang menguatkan pikirannya yang khawatir dengan kondisiku.
"Tuh, kan kamu ngantuk, Zah!"
"Aisha aku fine. Ngantuk sedikit doang kok."
Aisha sudah mulai jengah ia membuang nafas hampir mendengus mendengar bantahanku sedari tadi yang tiada hentinya. Ia melipat kedua tangannya pertanda mode keibuannya yang khawatir Pada Anak mulai on. Aku tidak heran mengingat dia adalah dokter psikiater Anak yang wajar jika dia harus menjadi ke-ibu-ibuan agar bisa dekat dengan pasien kecilnya. Bahkan seringnya ia mengaplikasikannya padaku seperti sekarang.
"Oke, tapi selama di jalan kamu harus telfonan sama aku. Karena aku mau mastiin biar kamu ngga ngantuk secara tiba-tiba di jalan gimana?," tawar Aisha padaku.
Bukan ide yang buruk menurutku. Aku mengangguk menyetujui sebelum masuk ke dalam mobil.
"Yaudah, aku pulang duluan ya assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, hati-hati!"
Aku mulai melajukan mobilku. Sedangkan, Aisha melambaikan tangan sebelum masuk kembali ke rumah sakit. Ia harus lembur malam ini. Kaila, pasien kecil Aisha sedang membutuhkannya. Kecelakaan yang di alami Kaila bersama kedua orang tuanya yang tragisnya merenggang nyawa di tempat kejadian berdampak trauma dalam diri Kaila. Kaila yang satu-satunya selamat saat kecelakaan mendengar penjelasan polisi secara tidak sengaja bahwa kecelakaan tersebut di akibatkan sabotase pihak tidak bertanggung jawab. Rem blong yang di sengaja. Kaila tidak bisa menerima semuanya. Ia ketakutan. Ia tidak bisa mempercayai orang lain sejak saat itu termasuk Jio, adik ayahnya. Hingga ia di bawa ke rumah sakit untuk berobat mengobati trauma dan mempertemukan Kaila dan Aisha. Lalu, kedekatan keduanya mulai terjalin meski tidak mudah dulunya bagi Aisha agar bisa dekat dengan Kaila.
???
"Kamu tahu ngga. Kalau direktur El media bakal dateng ke rumah sakit kita besok," ucap Aisha. Seperti perintahnya aku benar-benar bertelfon ria selama perjalanan pulang.
"Ouh, lalu?"
"Kok cuma oh doang? Dia tuan Elmo Lho Zah! kamu ngga kaget?"
Elmo? Ah, aku tahu dia tapi sungguh kenapa aku harus kaget?. Sudah jadi hal biasa bagiku mendengar beberapa orang penting datang ke rumah sakit entah untuk periksa kondisi tubuhnya, kecelakaan, atau menjenguk kenalannya. Aku masih ingat terakhir Kali bertemu Wilona artis yang sedang buming saat itu menjenguk saudaranya yang kecelakaan.
"Emang kenapa?" tanyaku.
"Astaga. dia tuh ganteng banget dan ya jangan lupakan betapa dinginnya tuan Elmo yang malah bikin dia berkharismatik di depan wanita."
Bisa Ku tebak kalau Aisha sekarang berbicara sambil membayangkan wajah si Elmo, Elmo itu. Aisha Aisha tidak berubah. Berhadapan masalah cowok pasti dia selalu berada di garis terdepan.
Berbicara tentang Elmo. Aku malah lagi-lagi teringat Anak lelaki di masa laluku. Bayangannya untuk kesekian kalinya datang membuatku tidak fokus menyetir.
"Ah, tidak fokus-fokus," gumamku sambil menggeleng. Tapi, tetap saja aku tidak bisa benar-benar fokus. Aku menepuk pelan pipiku.
"Zah? Are you okey?" tanya Aisha yang malah mengagetkan diriku dan membuatku menyenggol ponselku hingga terjatuh.
"Akh, sial," gumamku menatap miris ponselku yang tergeletak di bawah. Aku memberhentikan mobilku untuk mengambil ponsel.
"Zah, please jawab dong. Jangan buat aku khawatir! itu tadi suara apa? kamu ngga papa kan?"
"Aku ngga papa tadi ponselku jatuh."
"Alhamdulillah, aku Kira kenapa."
????
Di tempat lain Elmo telah memikirkan Cara agar detak jantungnya bisa di dengar wanita masa lalunya. Meski sedikit rumit tapi Elmo bisa mengatasinya. Ia sudah merekam suara detak jantungnya dengan sempurna. Namun, ia sekarang bingung sendiri mendengar suara detak jantungnyam
"Kenapa bunyinya begini?" gumam Elmo tidak mengerti setelah mendengar rekaman suara detak jantungnya.
Sedangkan, Ezha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung dengan pertanyaan Elmo. Bukankah suara detak jantung memang seperti itu.
"Ada masalah, Pak Elmo?" tanyanya takut-takut. Apalagi mengenal Elmo yang dingin dan tegas membuatnya was-was.
Elmo ingin mengatakan iya namun dirinya juga tidak bisa mengatakannya. Karena pada kenyataanya Elmo tahu suara detak jantung memang hanya begitu. Sangat tidak spesial pikir Elmo setelah mendengar ulang suara rekaman tersebut.
"Kalau di jadiin grup band dengan vokal detak jantung apa bisa? terus nanti di bikinkan album best seller?" tanya Elmo asal. Ia ingin suara detak jantungnya ini spesial di dengar oleh gadis masa lalunya.
Ezha yang awalnya ingin membereskan alat-alat rekaman Karena merasa semuanya telah usai langsung melongo tak percaya dengan pendengarannya. Grup band detak jantung? Blue band aja belum bikin album malah jualan mentega lah ini suara jedag jedug mau di bikin album? Best seller lagi siapa yang mau beli pikir Ezha dengan gelengan kepala bepikir direktur El Media sedikit kurang sehat.
Ezha mengambil air. Ia merasa dehidrasi akibat perkataan Elmo yang luar binasa. Plus tenggorokannya juga sudah kering. Namun, belum juga air masuk ke tenggorokannya Elmo sudah bertanya semakin asal.
"Ez, kamu bisa kasih sesuatu untuk suara detak jantung saya? misalnya lagunya Lisa blakpink yang money money itu?"
"Uhuk!" Inginnya membasahi tenggorokannya yang kering yang terjadi malah sebaliknya. Ezha ingin rasanya mengumpat. Tenggorokan Ezha sakit termasuk hidung nya yang terkena imbas efek tersedak gara-gara Elmo. Ingin sekali Ezha mengatakan tidak sekalian saja duet maut.
"Kenapa lagu money pak?"
"Kamu tau siapa saya?"
"Tau, pak."
"Kalau tahu kenapa masih bertanya? saya ini orang penting jangan buang-buang waktu saya untuk pertanyaan yang tidak penting," ucap Elmo dengan begitu angkuhnya Pada Ezha yang mencoba bersabar menghadapinya.
Ezha mengelus dadanya. "Sabar sabar..," batin Ezha. Lalu, berpikir siapa disini yang melakukan hal tidak penting dengan merekam suara detak jantung untuk siara televisi. Ia tahu Elmo pemiliknya tapi menyiarkan detak jantung dengan lagu Lisa? Ah, Ezha sampai tidak bisa berkata-kata lagi dalam pikirannya sendiri mengenai Elmo.