bc

Help Me!

book_age16+
521
IKUTI
2.0K
BACA
fated
goodgirl
powerful
comedy
no-couple
mystery
campus
friendship
horror
sacrifice
like
intro-logo
Uraian

Blurb:

Terlahir sebagai gadis yang memiliki indera keenam yang tajam serta kemampuan supranatural yang sering dikatakan tak masuk akal, membuat Naina sempat mengalami masa-masa sulit karena dirundung oleh teman-temannya selama bersekolah. Sementara Clarisa yang juga memiliki kisah pilu karena ibu kandungnya yang meninggal dengan cara misterius membuat keduanya menjadi teman dekat yang tak terpisahkan.

Mereka sama-sama memutuskan kuliah di Jerman dan bertemu dengan Gatot. Gatot mendapatkan beasiswa dari yayasan yang dikelola keluarga Naina sebelum dipertemukan dengan keduanya. Pemuda yang memiliki karakter yang misterius dan irit bicara itu juga memiliki indera keenam yang unik dan kemampuan supranatural serupa seperti Naina dan Clarisa.

Pertemuan dari kejadian-kejadian yang berkelanjutan membawa mereka bertemu dengan sosok Emma dan Emelie. Gadis bule kembar yang bertukar raga setelah kecelakaan yang menimpa mereka.

Mengetahui ketiganya memiliki kekuatan dan kemampuan yang tak biasa, Emma dan Emelie meminta bantuan untuk mengungkap misteri dari tragedi kecelakaan yang menyebabkan Emelie menjadi sosok arwah penasaran sementara Emma terbangun di tubuh Emelie setelah melalui masa komanya.

Mampukah Naina, Clarisa dan juga Gatot mengungkap misteri janggalnya kecelakaan yang menimpa Emma dan Emelie, membuat keduanya kembali bertukar raga dan melanjutkan hidup seperti sedia kala?

Bandung, 13 Juli 2021 saat cerita ini pertama kali kutulis.

Bandung, 24 Februari 2022 saat cerita ini dipublikasikan di Dreame dan Innovel.

Cover and design by @sazein01 and owned by Author.

chap-preview
Pratinjau gratis
Help Me 1 - Kamu Siapa?
“Awas!” Suara rem mobil terdengar berdecit sebelum akhirnya sedan hitam itu menabrak jembatan dan terjun ke dalam sungai. Byurrr …. Blubuk blubuk blubuk …. Mobil perlahan tenggelam. Air masuk ke dalam kabin. Dua gadis kembar dengan pakaian kontras terlihat duduk di bangku belakang mobil sedan hitam mewah tersebut. Satu dari mereka menggunakan gaun putih panjang selutut dengan kardigan abu serta rambut panjang yang dikepang. Sementara satunya lagi mengenakan pakaian olahraga pesepeda berwarna hitam dan hijau tua dengan kepangan rambut yang sama. Gadis berpakaian olahraga sempat kebingunan sebelum kembarannya menyadarkan ia untuk segera melepaskan sabuk pengaman mereka. Cetrek …. Sabuk pengaman pada gadis berpakaian olahraga terlepas lebih dulu. Ia langsung mendorong pintu mobil Tapi ia tertegun saat melihat kursi pengemudi kosong sementara sabuk pengaman yang terpasang masih mengunci. Ada yang hilang. Supir di balik kemudi mobil yang kini semakin tenggelam ke dasar sungai. Tak ada waktu untuk memikirkannya. Mereka harus segera menyelamatkan diri. Gadis bergaun putih masih duduk di kursinya dan belum bisa melepaskan diri. Sang kembaran segera menariknya. Dalam kondisi panik, tak kuat lagi menahan napas, air mulai tertelan sedikit demi sedikit ke dalam tubuh gadis yang posisinya masih terkunci sabuk pengaman. Gadis bergaun putih itu berusaha mempertahankan kesadarannya sambil terus melepaskan sabuk pengamannya. Melihat kembarannya kesusahan, gadis berpakaian olahraga bergegas membatu dan berhasil. Dengan tenaga yang tersisa dan paru-paru yang semakin terasa panas, gadis berpakaian olahraga maju ke depan untuk membuka kunci pintu otomatis di posisi pengemudi. Tiba-tiba saja, kumpulan bayangan hitam pekat datang, membuat gadis itu terhempas ke belakang dan menuburuk tubuh kembarannya hingga pingsan. Gadis berpakaian olahraga bergegas memencet tombol otomatis kunci pintu. Tapi usahanya gagal lagi karena sekumpulan bayangan hitam pekat kembali menyerangnya. Ia menendang kaca mobil agar bisa bisa keluar dan berenang ke atas sambil menarik kembarannya. Sayang, bayangan hitam itu muncul lagi dan menarik kembarannya yang pingsan sementara ia berhasil naik ke permukaan sungai seorang sendiri. Ia terengah dan mengusap wajah, meraup oksigen sebanyak mungkin. “Hilfe! Hilfe! Hilfe!” teriaknya meminta tolong. Pisik dan napas gadis penyuka olahraga triathlon itu memang berbeda dari kembarannya yang-tenggelam-yang lebih suka mengurus tanaman atau memasak saat hari libur. Meski terlatih menghadapi situasi berat, panik dalam situasi terdesak membuat pikiran gadis itu kosong untuk beberapa saat. Tak tahu harus melakukan apa sambil terus mempertahankan tubuhnya agar tetap mengambang di atas sungai. “Aku harus menyelamatkan Emilie. Ayo, Emma. Kau bisa!” lirihnya sebelum menarik napas dalam-dalam lalu kembali menyelam. Dengan mudahnya, gadis bernama Emma itu meliuk-liuk di dalam sungai berkedalam belasan meter hingga ke dasar. Meski dengan penglihatan yang terbatas, Emma berusaha mencari kembarannya yang bernama Emilie. Untunglah, pakaian yang dikenakan Emilie cukup mencolok dan mudah terlihat olehnya. Emma bergegas berenang ke arah Emelie. Namun, kondisi pisik yang terbatas tanpa peralatan menyelam membuat gadis itu kesulitan ketika kedalaman sungai semakin dekat menuju dasar. Tiba-tiba saja Emma merasakan dingin yang menusuk tulang. Halusinasi menambah kepanikannya. Meski begitu, Emma tetap berusaha menyelam lebih dalam agar bisa meraih Emelie. “Kumohon Emelie, bertahanlah!’ lirih Emma dalam hati. Emelie perlahan membuka mata dan tersenyum. Glek …. Emma terkejut hingga terbatuk dan menelan air ke dalam tubuhnya. Emelie yang melihat hal itu segera berenang dan meraih sang kembaran, lalu membawanya ke atas permukaan sungai. Dalam keadaan setengah tak sadarkan diri, Emma sempat melihat siapa yang memberikannya pertolongan. Dan ia akhirnya tersedak lalu memuntahkan air yang masuk ke dalam perut dan paru-parunya. Lamat-lamat Emma sempat mendengar Emelie bicara. "Syukurlah Emma, kau bisa selamat.” Lalu semuanya menjadi gelap. Tiga bulan kemudian …. Di sebuah ruangan ICU di salah satu rumah sakit besar di Jerman, Emma yang terbaring di atas tempat tidur dengan berbagai peralatan medis mulai menggerakan jari jemarinya. Pencahayaan ruang yang cukup terang membuat ia merasakan silau dan menutup matanya kembali setelah berusaha membukanya. Suara-suara asing yang terdengar ribut di sekitar membuat kepalanya terasa sakit. “Apa kau bisa mendengarku, Nona?” Emma mengerang. Ia sulit bergerak. Pandangannya masih buram. Semua terasa menyilaukan dan berat. “E-eme–lie!” “Apa kau bisa mendengarku, Nona Emelie?” Suara itu kembali terdengar berat, lambat serta mendengung di telinga Emma. “Aku … di mana?” lirihnya terus berusaha memulihkan kesadaran hingga semua kembali menggelap. Emma tertidur dan bermimpi, mimpi tentang kecelakaan yang dialaminya bersama Emelie. Tapi mimpi itu terlalu nyata. Ia seolah menjadi penonton kecelakaan itu dari sisi jembatan bersama Emelie. “Emelie, bukankah–“ “Iya. Itu kita Emma.” Emelie menoleh saat Emma menatap bingung kejadian yang sedang berlangsung di bawah jembatan sana. “Apa yang terjadi sebenarnya?” “Aku juga tidak tahu Emma,” sahut Emelie lalu keduanya kembali menatap sosok ke bawah jembatan. Tak berapa lama, sosok Emelie di sungai muncul sambil menarik Emma yang terlihat tak sadarkan diri. “Ini tidak mungkin?” “Apa yang tidak mungkin?” “Kau kan tidak bisa berenang.” “Tapi memang itu yang terjadi, Emma,” jawab Emelie. Emma masih kukuh, menggeleng tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Emelie di sana terlihat memberikan pertolongan hingga Emma sadar dan terbatuk mengeluarkan air. “Terima kasih sudah menyelamatkanku Emelie,” lega Emma membuat Emelie tersenyum getir. “Tapi itu apa?” imbuh Emma sambil menunjuk gumpalan bayangan hitam pekat yang bergerak ke arah mereka, mengukung keduanya di bawah sana. Awan itu membentuk wujud yang menyerupai bayangan menyeramkan seperti cerita dongeng hantu di masa kecil mereka. “Menyingkir! Lari!” panik Emma berteriak sia-sia. Ada penghalang yang membuat Emma dan Emelie di bawah jembatan sana tak bisa mendengar teriakannya. “Kenapa aku tidak bisa ke sana?” panik Emma mencoba turun lalu kemudian terhempas, seolah ada dinding yang menghalangi dan mendorongnya. “Kita tidak akan bisa melakukan apapun, Emma. Mereka tidak akan bisa melihat dan mendengar kita,” jawab Emelie sendu. “Kenapa?” “Karena mereka hanya bayangan.” Dan suara Emelie pun terdengar lebih menyedihkan. “Apa maksudmu Emelie?” Belum sempat Emelie menjawab, bayangan hitam yang semula mengukung sosok mereka di bawah sana tiba-tiba berbalik dan kini memburu marah ke arah Emma dan Emelie yang sedang berada di jembatan. “Emelie lari!” “Ayo Emma!” Dan... Splash …. Suasana seketika berpindah ke sebuah kabin pesawat di mana seroang gadis menjenggit kasar dan terbangun dari mimpi buruknya itu. “Kamu kenapa, Nai? Kok keringetan gini?” Naina menerima sapu tangan dari gadis yang duduk di sebelahnya. “Aku mimpi aneh, Clarisa.” “Mimpi aneh apa?” desak Clarisa. Belum Naina menjawab pertanyaanya, Pramugari sudah lebih dulu mengumumkan bahwa pesawat yang mereka tumpangi akan mendarat sebentar lagi. Pesawat pun mendarat dengan baik dan keduanya turun. Dukkk …. “Aduh!” “Maaf!” ucap seorang pria dalam bahasa Jerman lalu buru-buru pergi, meninggalkan Clarisa yang kini sudah terdistraksi dengan hal lain. Clarisa hampir jatuh. Untungnya sempat ditahan seroang pria di belakangnya. “Kamu baik-baik saja?" "Oh, tentu. Berkatmu aku terselamatkan. Terima kasih, ya,” sahut Clarisa dengan mimik centilnya. “Tidak masalah,” jawab si pria lalu pamit lebih dulu ketika mereka berjalan di dalam garbarata. Clarisa kemudian celingukan mencari sosok pria bertopi hitam yang menabraknya tadi. “Mana tuh cowok, Nai? Kurang ajar banget habis nabrak kabur gitu aja. Ketemu aku geprek sama cabe.” “Dia udah pergi. Keliatannya buru-buru. Makanya nyenggol kamu dan cuma minta maaf terus pergi,” terangnya. “Nggak bisa gitu dong! Habis nubruk maen pergi aja. Udah kayak banteng. Banteng bukan kok nggak ada nyeselnya,” sungut gadis periang itu. “Kan udah minta maaf, Nona Clarisa,” sahut Naina gemas dan mencubit pipi Clarisa “Tetep aja. Kan yang ditabrak aku. Harusnya liat kondisiku dulu baru pergi. Lima menit mah.” “Karena dia pasti tahu kalau urusan sama kamu nggak akan cukup lima menit,” cibir Naina membuat Clarisa berdecak kesal. “Untung ada Mas bule ganteng yang bantuin. Coba kalau nggak, jatuh terus kepalaku kejedot dinding garbarata dan geger otak gimana?” “Iya. Iya. Yang penting kan nggak. Udah yuk! Nanti keburu orang suruhan Daddy dateng.” Naina berusaha menenangkan emosi Clarisa. Keduanya melanjutkan langkah menuju tempat pengambilan koper sebelum mengurus imigrasi dan menemui orang yang akan menjemput mereka. “Loh, Nai. Ini bukan koper aku.” Naina menoleh ke arah koper yang diletakkan di dekat kaki Clarisa. “Lho, kamu barusan ambil koper siapa? Bukannya ini koper kamu?” “Kopernya emang sama. Tapi tag-nya beda. Ini punya cowok. Namanya aja Gatot. Sejak kapan nama aku berubah jadi Gatot?” Naina ikut membaca nama yang ada di-tag koper tersebut sebelum berkata, “Eh, iya. Kita urus imigrasi dulu, baru nanti urus koper kamu.” Clarisa mendesah berat dan panjang. Gadis itu terus menggerutu sampai akhirnya mereka tiba di bagian imigrasi. “Sial banget, sih, hari ini. Turun dari pesawat hampir jatuh ditabrak orang. Sekarang malah koper ketuker. Ini mah kudu ke pantai, Nai. Renang dilarung sama kembang biar kebuang sialnya.” Naina terkekeh. “Gimana mau dilarung sama kembang. Emang kamu kuat renang? Jerman lagi minus empat derajat loh. Bisa jadi malah lautnya beku.” “Astaga! Lupa 'kan? Duh, nambah sial lagi deh aku,” rungutnya makin kesal. Naina geleng kepala lalu merogoh ponselnya berbunyi. “Siapa?” kepo Clarisa sambil melihat nomer asing yang muncul di layar. “Kayaknya orang suruhan Daddy.” “Angkat aja. Video call lagi. Siapa tahu ganteng.” Naina memutar bola mata. Untuk urusan pria, Clarisa memang biang genitnya. Naina sering dibuat gemas bahkan malu dengan kegenitan sahabatnya tersebut. Setelah menerima telepon dari seseorang yang akan membantu mereka, tak lama seorang pria datang menghampiri keduanya. Pengawal sewaan ayah Naina itu membantu mereka mengurus imigrasi dan kehilangan koper yang dialami Clarisa. Menunggu cukup lama, ponsel Naina kehabisan daya. Padahal baru saja ia ingin menghubungi keluarga dan memberi mereka kabar. Begitupun dengan ponsel Clarisa. Mereka lantas meninggalkan bandara setelah pengawal menyelesaikan semua urusan dan membawa keduanya menuju sebuah rumah yang akan dihuni selama keduanya tinggal di Jerman. Ya, Naina dan Clarisa memutuskan kuliah di Jerman setelah Naina merelakan keinginannya untuk masuk Akademi Militer karena masalah kesehatan yang membuatnya dipastikan gagal jika tetap memaksa diri untuk mengikuti tes. “Ini kartu nama saya. Jika perlu sesuatu, segera hubungi nomer itu. Kapanpun,” terang pengawal setibanya mereka di rumah yang akan ditempati Naina dan Clarisa. “Dua puluh empat jam juga?” tanya Clarisa langsung diangguki. “Mas-nya kelelawar, ya? Emang nggak tidur?” imbuh gadis cerewet itu dengan wajah polos. Naina hampir saja terbahak mendengar ucapan Clarisa. Pengawal hanya tersenyum tenang tenang menjelaskan bahwa, “Ada satu orang lagi yang akan bergantian membantu saya menjaga serta membantu kalian selama di sini.” Clarisa mengangguk paham dan memilih bertanya apakah ada makanan yang bisa dibeli karena perutnya mulai keroncongan. “Makanan akan diantar sebentar lagi. Besok saya akan datang lagi sambil memperkenalkan rekan saya yang lain,” tutur pria berambut cepak tersebut. “Soal koper Clarisa bagaimana?” tanya Naina. “Saya yang akan mengurusnya segera.” “Baiklah. Terimakasih. Sampai bertemu besok.” “Makasih, Mas ganteng,” timpal Clarisa masih tetap mempertahankan kecentilannya. “Aku pinjem baju kamu dulu berati, Nai,” ucap Clarisa usai menutup pintu. “Boleh.” Keduanya lantas membersihkan diri, makan malam dan tidur hingga keesokannya bangun terlambat karena efek jetlag yang masih terasa di kepala mereka. Dering weker yang berbunyi nyaring di atas nakas terus berteriak membangunkan keduanya yang tidur dalam satu kamar. “Jam berapa, Nai?” “Jam tujuh, Clarisa.” “Pantes berisik banget bel rumah. Si Mas kelelawar pasti ngirim sarapan.” “Di Jerman mana mungkin sarapan sepagi ini.” “Iya, sih. Mungkin dia bawain makanan buatannya sendiri.” “Bisa jadi. Ayo bangun! Cuci muka dulu.” “Aduh, nggak usah. Masih glowing kok. Ayo! Kasian nanti dia nungguin lama jadi manusia salju lagi entar dia di luar,” seloroh Clarisa sambil menarik tangan Naina. Masih menggunakan piyama juga rambut yang acak-acakkan, Clarisa pun membukakan pintu dan berseru, “Selamat pagi, Mas Ke … eh, kamu siapa?”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
200.5K
bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

read
5.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.9K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.5K
bc

Kali kedua

read
219.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook