"Who are you? " Clarisa mengulang pertanyaan. Takut pemuda di hadapannya tak mengerti bahasa Indonesia.
Tapi bukannya menjawab, pemuda bertopi hitam itu malah celingukan sebelum akhirnya menatap Clarisa.
"Saya mencari Tuan Bernand. Bisa tolong panggilkan?"
"Bisa ngomong ternyata. Orang Indonesia juga lagi."
Pemuda bertopi hitam itu tak mempedulikan sindiran Clarisa.
“Bernand tidak tinggal di sini. Kamu siapanya?” sahut Naina sambil muncul di belakang Clarisa.
Bernand adalah orang sewaan ayah Naina yang sebelumnya membantu mereka setibanya di Jerman.
Pemuda itu tertegun sejenak saat menatap ke arah mereka berdua sebelum berdeham dan mengatakan bahwa, “Nama saya Gatot. Saya ke sini mau mengantarkan koper yang tertukar,” unjuknya pada koper yang ia bawa di sebelah kaki.
“Ahhhhh! Koperku!”
Clarisa berseru riang. Gadis itu sekonyong-konyong jongkok dan memeluk koper miliknya yang sempat hilang. Gatot langsung menyingkir seperti orang ketakutan.
Naina sempet mengernyit melihat sikap pemuda itu sesaat.
Gatot yang merasa diamati pun langsung menoleh Naina.
“Bisa tolong ambilkan koper saya?” ucapnya tenang.
Clarisa mengecek lebih dulu kopernya sebelum mengangguk pada Naina. “Ini koperku, Nai. Masih dikunci. Aman,” ucapnya yakin.
Naina balas mengangguk. “Tunggu di sini kalau begitu,” katanya menatap Gatot tanpa berniat mengizinkan pemuda itu masuk ke dalam rumah.
Clarisa yang tak peduli dengan keberadaan Gatot, terus memeluk koper berwarna biru dongker itu sambil bercicit apa saja.
“Gadis gila!” umpat Gatot dalam hatinya.
Clarisa mendongak. Ia mendelik tajam lalu berdiri menghampiri pemuda yang kini terkaget dan perlahan mundur.
“Bilang apa lo?”
Gatot tersentak dalam hatinya. “S-saya tidak bilang apa-apa,” gagapnya mencoba tenang.
“Nggak usah belaga oon lo! Gue denger lo ngumpatin gue gila barusan. Ngaku lo?” salak gadis itu dengan wajah galak.
“Kenapa gadis ini bisa tahu?” batin Gatot sambil menatap ngeri gadis yang terus memojokkannya itu.
Clarisa berhenti memojokkan Gatot lalu mendengus sambil melipat kedua tangan di dadanya dan berkata, “Kenapa? Heran ya gue bisa tahu apa yang lo omongin dalam hati? Jangan suka aneh-aneh makanya. Kalau mau ngatain, langsung sini depan muka,” ketusnya berani.
“S-sa–“
Kehadiran Naina yang membawakan kopernya pun menyelamatkan pemuda yang malah spontan mendorong Clarisa hingga gadis itu limbung ke belakang.
“Ahhhhh!”
“Clarisa!” teriak Naina kaget.
Tangan Gatot reflek terulur untuk meraih Clarisa. Dan di saat itu lah, koper Clarisa yang berada tak jauh dari gadis itu bergeser cepat untuk menahan panggul gadis itu dengan sendirinya.
“Alhamdulillah. Hati-hati dong, Clarisa,” ujar Naina lalu mengulur tangan pada sang sahabat.
“Dia nih!” omelnya masih menatap Gatot Galak kemudian,
Tap ….
Splash ….
Naina membeku sambil memegangi sebelah tangan Clarisa. Sebuah adegan masa lalu seketika melintas di kepalanya.
Gatot yang juga sedang memegangi sebelah tangan Clarisa yang lain langsung melepaskannya dengan kasar.
“Aduh!”
Naina tersentak lalu membuang napas kasar sebelum menatap Gatot dengan seraut rumit. Sementara Clarisa yang kembali dibuat kesal oleh Gatot langsung mengomeli pemuda itu dengan ocehannya.
“Heh! Nggak sopan banget sih, lo? Bukannya terima kasih kopernya dijagain malah dorong gue. Emang ya, cowok nggak ada ahlak banget.”
Gatot tak memedulikan omelan Clarisa. Pria itu memilih mengecek dan memastikan koper miliknya.
“Terima kasih sudah mengembalikan koper ini. Saya pamit.”
“Eh tunggu!” hadang Clarisa merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di hadapan Gatot.
“Ada apa lagi?”
Tatapan Clarisa menyelidik wajah Gatot yang sedikit tersembunyi di balik topi hitamnya.
“ELO?!”
“Ada apa?” balas Gatot tenang.
“Elo yang nabrak gue di garbarata kemaren kan? Iya, Bener. Elo orangnya.”
Gatot mengernyitkan alis. Mencoba mengingat-ngingat apa yang dituduhkan gadis itu padanya.
“Wah kurang ajar banget lo ya! Dua kali lo bikin gue jatoh nggak ada rasa bersalah. Sini lo!” amuk Clarisa lebih dulu sebelum Gatot sempat menjawab.
Gadis itu melepaskan sandal bulunya dan memukulkannya pada pemuda itu.
“Aduh!”
“Clarisa!”
“Hey! Berhenti!” erang Gatot sambil menyilangkan tangan menghalangi wajahnya. Tapi posisi bokongnya sekarang malah jadi tidak aman.
“Enak aja! Ini balas dendam gue. Udah bikin gue jatuh di garbarta, bikin koper gue ketuker sekarang lo juga bikin gue hampir jatuh lagi. Dasar perkedel kentang!”
“Aduh! Berhenti!”
Naina yang hendak melerai memilih urung, ia tertawa mendengar u*****n lucu sang sahabat sambil melihat keduanya berkejaran.
“Hey! Tolong suruh temanmu berhenti.” Gatot memcoba meminta bantuan. Tapi Naina merasa tak perlu ikut campur. Toh, Clarisa hanya memukul Gatot dengan sandal ringan. Itu pun bukan ke area berbahaya seperti wajah dan kepala. Pikirnya.
Clarisa terus mengacungkan sandal dan memukulkannya sambil mengejar Gatot, seperti ibu yang sedang mengomel sambil menghukum anaknya yang bandel.
“Sini lo! Ngeselin banget jadi orang! Nyokap bokap lo nggak ngajarin di rumah apa kalau bikin salah itu harus– “
Dukkk ….
“Aduh!”
Gatot berhenti menghindar. Membuat Clarisa menubruk tubunya, hampir jatuh lagi saat tangan Gatot justru mencengkram kedua pergelangan tangan Clarisa dan menatapnya dengan napas menderu-deru.
Clarisa sempat tertegun memandangi wajah Gatot yang menurutnya lumayan tampan sebelum gadis itu sadar dan kembali kesal lantas membenturkan kepalanya ke wajah Gatot hingga membuat hidung pemuda itu terluka.
“Ahhhh!”
“Rasain itu!”
“Clarisa! Kasian itu berdarah,” omel Naina hendak membantu, namun Gatot menepis bantuannya.
“Tidak perlu. Tidak usah sentuh saya,” ketusnya.
“Heh! Masih nggak sadar juga ya, lo?! Mau ditambahin, hah?” salak Clarisa dibalas tatapan tajam Gatot.
“Clarisa udah!” Naina berusaha menahan Clarisa yang kembali mengacungkan sandal bulunya ke udara.
“Cewek bar-bar!”
“Apa lo bilang?”
“Clarisa udah! Malu ih nanti tetangga denger kita ribut!”
“Ada apa ini?”
Yang dibicarakan akhirnya datang. Bernand dan seorang pria menghampiri di mana keributan pagi itu berlangsung.
“Mas Ber... tangkep ini cowok! Dia nyelundupin obat terlarang di kopernya!” fitnah Clarisa spontan.
“Clarisa!”
“Ssttt!” gadis itu melotot sambil menyilangkan jari telunjuk di bibirnya pada Naina.
Bernand langsung menghampiri Gatot, hendak memeriksa pemuda itu dengan cara baik-baik.
Sayangnya, Gatot yang terlanjur dibuat kesal, langsung menepis dan meraih kopernya yang tak terjangkau dengan mudahnya.
Naina dan Clarisa dibuat melongo ketika roda koper melesat ke arah sang pemilik dengan cepat.
“Nai, dia–“
“Iya, Clarisa."
“Hey! Jangan pergi kau!” erang Bernand hendak menarik baju Gatot namun gagal.
Gatot berhasil menghindar dengan gerakan super cepat, secepat kedipan mata. Pria yang datang bersama Bernand ikut menghadang, berusaha menarik topi yang menutupi wajah Gatot, namun sama saja.
Gatot kembali berkelit hingga perkelahian di antara keduanya tak terelakan lagi.
Tanpa perlawanan yang pasti, Gatot hanya terus menghindar hingga Bernand dan rekannya malah bertabrakan dan jatuh ke rumput halaman.
Pemuda itu dengan mudahnya pergi, membawa serta kopernya dan menyetop taksi yang kebetulan melintas.
“Nggak usah dikejar!” seru Naina menghentikan Bernand dan rekannya.
“Kenapa?”
Naina kemudian mengacungkan sebuah kunci asing yang jatuh, ia tersenyum ke arah mereka berdua.
“Dia pasti kembali.”
Clarisa langsung merampas kunci di tangan Naina dan ikut menyeringai senang.
“Siap-siap lo, Kentang. Gue bikin perkedel beneran. Dasar cowok nggak berahklaqul karimah,” katanya lalu terbahak seperti orang gila.
Naina geleng kepala lalu mengajak dua pengawalnya yang kebingungan itu masuk ke dalam rumah.
Mereka sarapan dan bersiap pergi ke supermarket untuk mencari barang-barang kebutuhan yang diperlukan.
“Kamu yakin si Gatot kaca mobil itu bakal balik?” tanya Clarisa sambil mendorong troli belanjaan di salah satu supermarket di kota mereka tinggal.
“Nanti aku tunjukkin sesuatu sama kamu lewat kunci itu.”
Clarisa angguk-angguk kepala saja. Keduanya mengitari hampir seluruh lorong di antara rak-rak supermarket hingga isi troli mereka menumpuk.
“Bayar sekarang aja, yuk! Jadi tinggal cari perabot yang kurang buat di rumah. Habis itu cari makan di luar aja. Sekalian liat-liat sekitar,” ujar Naina.
“Suruh Mas Ber pulang aja bawain belanjaan kita. Nanti kita pulang naik bus.”
“Ide bagus, sih,” ucap Naina sambil mengeluarkan satu persatu belanjaan mereka ke atas meja kasir.
“Aku ke toilet dulu ya, Nai!”
“Aku tunggu depan toko roti itu, ya. Biar nggak kesasar,” unjuk Naina ke sebuah toko roti yang berada tak jauh dari area depan supermarket.
Clarisa mengangguk lalu berjalan menuju toilet.
“Huh! Kenapa sih orang bule nggak mau cebok pake air? Untung bawa tisu basah. Kan nggak banget cebok nggak pake air,” dumal Clarisa lalu keluar dari bilik toilet.
Dukkk ….
“Verzeihung. Maaf,” ucap seorang gadis dengan rambut di kepang usai Clarisa mencuci tangannya di wastafel.
“Nggak masalah, Nona,” jawab Clarisa dengan bahasa Jerman yang cukup baik.
Gadis itu tersenyum lalu meraih tisu untuk mengeringkan tangannya yang basah sebelum meninggalkan toilet.
“Warte ab! Tunggu!” seru gadis berkepang itu lalu maju dua langkah ke depan Clarisa.
“Ja? Iya?” sahut Clarisa balik badan.
“Kamu bisa melihatku?”
Kening Clarisa langsung mengerut. “Apa maksudmu, Nona?”
“Kau sungguh bisa melihatku?” ulang gadis itu lagi.
“Tentu saja. Kau kan–“
Clarisa akhirnya menyadari sesuatu. Pantulan bayangan gadis itu di cermin wastafel tidak ada sama sekali. Dan itu artinya gadis yang sedang berdiri di hadapannya sekarang ini bukan manusia.
Kaki Clarisa mendadak seperti disemen. Ia jadi tidak leluasa bergerak.
Clarisa spontan melepas tas selempangnya. Dengan gugup, ia mengacungkannya ke depan sebagai alat pertahanan.
“K-kamu… kamu mau apa?”
Gadis bule itu menyeringai. Membuat Clarisa gugup setengah mati dan susah payah menelan ludah.
Jangankan berusaha pergi, berteriak pun ia tak berdaya. Bukan hanya kakinya, tapi seluruh tubuhnya kini seperti jelly.
“Gimana ini ya, Allah. Papih, Momy Lala, Daddy Janu, Naina, tolong!” jerit Clarisa di dalam hati sambil perlahan mundur.
Meski sering berurusan dengan mahluk halus, Clarisa masih belum terbiasa berhadapan langsung dalam situasi mendadak seperti sekarang, Ia masih tak suka dengan segala hal yang berbau mistis dan gaib.
“Aduh! Ampun Nona hantu bule. Aku masih gadis. Jangan dulu diajak ke alam baka. Please! Aku belum punya pacar! Please! Aku belum pernah valentine-an sama cowok,” cicitnya panik menggunakan bahasa Indonesia.
Langkah gadis hantu itu sempat terhenti sesaat, heran dengan ucapan Clarisa sebelum dirinya kembali mendekati Clarisa yang berjalan makin mundur dan akan membentur tembok.
“Aduh, Nai! Naina! Kok nggak denger sih aku minta tolong?” batin Clarisa lagi-lagi menjerit.
Clarisa memberanikan dan menguatkan diri untuk menghadapi sosok itu sebelum menjerit kencang dan berlari ke luar untuk menyelamatkan diri.
Pintu yang seharunya ditarik ke dalam tapi malah didorong, membuat Clarisa tidak bisa keluar.
“Aduh, kok nggak bisa dibuka, sih?” omelnya panik.
“Tarik pintunya! Bukan didorong, gadis bodoh!” maki si hantu lalu terkekeh. Kekehan yang membuat bulu kuduk Clarisa malah berbaris rapi.
“Ah, iya. Aku lupa.”
Clarisa masih sempat menjawab bahkan mengucapkan terima kasih karena sudah diberi tahu cara membuka pintu yang benar, membuat hantu bule itu terbahak semakin kencang. Tawa yang membuat Clarisa juga semakin bergidik ngeri.
“Astagfirullohaladzim. Bismillahirahmanirrahim, Ayat Kursi! Eh! Qulhu! Eh! Kul auzubirobbinas …. Malikinas … Ila … Ila … duh, Ila apa? Kok jadi b**o, sih? Ahhh! Kabur dulu!”
Dan…
Brakkk!
“Ahhhh! Papih! Daddy Janu! Tolong!” teriaknya dan berlari sambil meneriakkan apapun yang melintas di kepalanya.
Naina yang sebenarnya sempat mendengar teriakan Clarisa namun tanggung karena hitungan belanjan di kasir belum selesai, bergegas menitipkan troli begitu selesai. Ia mencari Clarisa ke arah toilet. Dan...
Brukkk!
“Aduh!”
“Clarisa!”
Keduanya bertabrakan namun tak sampai jatuh.
“Kamu kenapa?”
“Gawat Nai! Hantu! Hantu! Aku dikejar hantu di toilet!” Gadis itu terus bicara sambil mecengkram lengan Naina cukup kencang.
“Mana? Kamu liat hantu di mana? Masa siang gini ada hantu?” Naina meragu sambil mencari-cari.
“Benaran, Nai. Aku nggak bohong. Tadi ada mbak hantu bule. Cantik. Pake dres putih gitu sama kardigan abu. Rambutnya pirang dikepang. Tapi biarpun cantik kan tetep han … ahhhhh! Itu dia, Nai!"