Help Me 3 - Kalian Tertipu

1978 Kata
Sosok yang dibicarakan Clarisa mendekat sambil membawa tas selempang milik Clarisa yang ditinggalkannya begitu saja di dalam toilet. Sementara Clarisa sendiri langsung bersembunyi di belakang Naina. Clarisa ketakutan sementara sang sahabat terus menatap ke arah sosok yang kini hanya berjarak lima langkah dari mereka. Sosok yang disebut hantu oleh Clarisa itu mengulur tangan sambil berkata, “Maaf. Apa ini tas milik temanmu?” tanyanya dalam bahasa Jerman. Naina menatap dalam wajah gadis bule tersebut. Rambut dan tatanannya persis seperti yang dikatakan Clarisa. Namun pakaiannya berbeda dengan apa yang dijelaskan sang sahabat. Tapi, bagaimana bisa dia adalah hantu sedang kakinya jelas menapak di lantai, memakai sepatu, bahkan ada bayangannya. Batin Naina. “Kamu yakin dia hantu?” bisik Naina dengan bahasa Indonesia sambil menoleh ke arah Clarisa. “Beneran, Nai. Pantulannya di cermin wastafel tuh tadi nggak ada sama sekali. Aku nggak bohong,” cicit Clarisa masih takut-takut dan bersembunyi di belakang Naina. “Kamu liat lagi, deh. Pantulan dia di kaca toko keliatan, kok. Bayangannya juga ada. Kakinya nginjek lantai. Masa hantu?” “Masa, sih?” “Beneran. Aku nggak bohong. Liat sendiri dulu cepet!” desak Naina. Ia menarik Clarisa agar berhadapan dengan gadis bule yang kini tersenyum sambil terus mengulur tangan dan memegang tas selempangnya yang jatuh. Clarisa membuka kedua kelopak matanya perlahan. Membukanya lebar-lebar sebelum mengamatinya dengan benar dan mendetail pada sosok yang dilihatnya sebagai hantu toilet. Tangannya mencoba meraih tas selempang yang diulurkan padanya tapi berhenti karena takut. Tatapannya Clarisa memindai tubuh gadis tersebut dari atas ke bawah lalu kembali ke atas dengan lancangnya. Clarisa bahkan tak ragu-ragu mendekat lalu menusuk-nusuk lengan gadis itu dengan jari telunjuknya. “Eh, beneran, Nai. Bukan hantu. Tapi kok mirip, ya? Terus yang tadi di toilet itu siapa?” “Es tut mir leid, mein Freund. Maafkan temanku. Dia salah paham sepertinya,“ ucap Naina mewakili atas sikap tak sopan Clarisa pada sosok gadis bule itu. Sosok gadis bule itu pun tersenyum. “Tidak apa. Ini tasnya. Periksa lagi saja untuk memastikan apakah ada yang hilang. Aku menemukannya di toilet setelah kamu berlari keluar dengan buru-buru tadi,” terangnya menatap Clarisa. Clarisa memeriksa isi tasnya kemudian mengangguk pada Naina. “Nggak ada yang ilang. Lengkap, Nai.” “Danke schön! Terima kasih.” Naina lantas mengulur jabat tangan dan memperkenalkan diri. “Aku Naina. Dan ini Clarisa temanku. Kami baru datang dari Indonesia.” “Ah, begitu. Selamat datang. Aku Emilie,” jawabnya menjabat tangan balik sementara Clarisa masih tampak ragu. “Dingin banget tangannya, Nai,” bisik gadis itu langsung dibalas desisan gemas Naina. “Ini musim dingin, Clarisa.” “Iya. Iya,” rungutnya. “Kalau begitu kami pamit dulu. Terima kasih sudah mengembalikan tas temanku,” tatap Naina sekaligus pamit. “Gerne geschehen. Sama-sama. Selamat datang di Jerman.“ Keduanya pun berlalu sampai menghilang dari pandangan Emilie. Gadis itu kemudian mendesah sebelum berbalik dan menghampiri sosok yang sedari tadi bersembunyi di lorong sepi toilet. “Sudah kukatakan, gadis itu bisa melihatku, Emma,” ucapnya pada sang kembaran yang memperkenalkan diri sebagai Emilie tadi. “Sudahlah. Mereka itu orang asing, Emilie. Jangan melakukan hal aneh-aneh pada orang asing.” Emilie mengikuti kembarannya sambil terus bicara. “Mungkin ini waktunya, Emma. Berbulan-bulan kita tidak bisa menemukan orang yang bisa melihat arwahku dan membantu kita. Bahkan orangtua kita saja tidak mempercayai ucapanmu. Kamu juga dianggap tidak waras. Memangnya kamu mau seumur hidup menjadi aku?” “Dan kalaupun semua terungkap, setelah itu aku pasti akan mati. Karena ini tubuhmu. Dan pastinya kamu yang berhak memilikinya, Emilie.” “Lalu aku harus bagaimana? Setidaknya kita harus mencoba. Aku tidak masalah kalau harus mati dan memberikan tubuhku padamu asal kamu mau membantuku pergi ke surga dengan cara yang benar. Aku tidak mau selamanya gentayangan seperti ini, Emma? Nei! Tidak! Ich mag nicht, Emma! Aku tidak suka suka, Emma!” teriaknya kesal. Langkah Emma terhenti, berbalik menatap kembarannya yang terlihat berkaca-kaca. Kedua gadis kembar identik yang sudah berbeda dunia itu saling menatap untuk beberapa jenak sebelum Emma akhirnya mengangguk setuju. “Baiklah. Kita coba. Tapi bagaimana kita tahu mereka tinggal di mana?” Emilie menyeringai lalu mengendikkan dagu ke arah tas yang dikenakan Emma. “Di sana ada petunjuk. Periksalah,” ucapnya dengan raut sumringah. Emma pun bergegas memeriksa dalam tasnya dan gadis itu mendesah pasrah begitu melihat ponsel yang ada di dalam tas bukanlah miliknya. “Kau ini!” “Ini keberuntungan kita, Emma. Untung saja ponselnya sama dengan ponselmu. Jadi kamu tidak akan dicurigai saat mencari keberadaan mereka nanti.” Lagi-lagi hanya bisa mendesah pasrah, Emma berbalik dan keluar dari lorong sepi itu sebelum berbaur dengan pengunjung mall lainnya. Sementara itu …. “Mungkin nggak sih kalau hantu yang aku liat tadi itu kembarannya si Mbak bule Emilie?” cicit Clarisa setibanya mereka di rumah. Keduanya memutuskan pulang saja karena kurang yakin kalau meminta pertolongan Bernand dan rekannya untuk membereskan belanjaan mereka. “Kamu salah liat kali.” Naina masih tidak yakin dengan apa yang dipikirkan Clarisa. “Masa aku salah liat sih, Nai? Orang jelas bayangannya di cermin wastafel itu nggak ada.” Naina tak menjawab. Ia terus menata barang-barang di dapur sementara Clarisa juga membereskan belanjaan mereka yang lain ke dalam kulkas. “Kamu liat sendiri tadi kalau Emilie itu bukan hantu. Kamu juga pegang dia kan?” “Iya, sih. Berarti kemungkinan kalau yang aku temuin itu kembarannya bisa jadi bener dong, Nai?” kukuh Clarisa. Naina mendesah pelan. “Aku juga nggak tahu, Clarisa. Kita sering dengar bukan? Beberapa orang meyakini kalau setiap kelahiran manusia itu diikuti dengan satu kelahiran lainnya yang tak kasat mata.” Ada jeda sesaat sebelum Naina kembali melanjutkan ucapannya. “Sosok ini biasanya menyerap energi yang ada di tubuh orang tersebut selama mereka hidup. Mulai dari cara bicara, tulisan, bahkan ekpresi dan kebiasaan kecil dari si manusianya.” Gadis itu berbalik dan menatap Clarisa yang juga menatapnya sambil memegang buah apel di tangan. “Itulah yang mendasari orang-orang yang tidak terlalu percaya dengan dimensi lain, menganggap kalau orang yang sudah mati dan terlihat bergentayangan bukan arwah sesungguhnya. Melainkan sosok lain yang sejak lahir sudah hidup berdampingan dengan mereka.” “Pusing aku jadinya, Nai,” keluh Clarisa. “Makanya, yang penting mereka nggak ganggu kita.” Clarisa mengangguk patuh lalu lanjut beres-beres dapur dan rumah, sebelum menghubungi Bernand dan minta diajak pergi sorenya. Sejenak, Clarisa pun melupakan pertemuannya dengan sosok hantu yang mirip Emilie itu dan menikmati waktu jalan-jalan mereka hingga malam harinya kedua gadis itu di antar sampai depan rumah. “Besok tidak usah jemput kami, Bernand,” terang Naina setelah keluar mobil dan bicara di samping pengemudi. “Kenapa?” “Kami mau naik bus saja sekalian jalan-jalan melihat sekitar. Nanti kuhubungi kalau perlu bantuan,” terang Naina. Bernand sempat terdiam sebelum akhirnya mengangguk dan pamit meninggalkan keduanya. Tanpa Naina ketahui kalau ia akan selalu mendapat penjagaan dan pengawalan cukup ketat secara diam-diam. Ya, sang ayah tak akan membiarkan Naina berkeliaran bebas di negeri orang tanpa pengawalan meski paham betul kalau gadis itu akan selalu menolak jika diperlakukan sangat protektif. Jerman termasuk negera yang cukup nyaman dan aman untuk ditinggali mahasiswi perantau seperti Naina dan Clarisa. Karena itu orangtua Naina yang notabene seorang pejabat tinggi di dunia militer memilih untuk menyewa prajurit bayaran, mengawasi sang putri dan temannya yang sudah mereka anggap keluarga selama dua puluh empat jam. Kedua gadis itu pun masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri. Mereka berbincang sebentar di ruang tv sebelum mereka pergi ke kamar masing-masing. Tepat tengah malam kemudian, saat jarum jam belum tegak bergeser ke angka dua belas, seorang dengan pakaian serba hitam menyelinap masuk dengan mudahnya ke dalam rumah. Sosok itu melangkah dengan perlahan sambil mencari-cari sesuatu yang ingin dicarinya hingga sekian menit berlalu sesuatu yang dicarinya itu tak kunjung ditemukan juga. Dengan langkah yang tampak ragu, sosok itu kemudian naik ke lantai atas lalu menghampiri satu dari dua pintu kamar yang dilihatnya. Ia membuka sarung tangan, menempelkan telapak tangannya di salah satu pintu, memejamkan mata beberapa jenak sebelum akhirnya lampu di lantai rumah itu menyala terang benderang. “Kamu cari ini, Mas Gatot?” Clarisa melipat satu tangan di d**a sementara tangan yang satunya mengacungkan sebuah kunci yang dicari Gatot. Pria yang hanya menutupi wajahnya dengan masker dan topi itu lantas berbalik dan mendapati kedua gadis penghuni rumah yang disusupinya sedang berdiri menatap dari jarak sepuluh meter. Gatot yang kepalang ketahuan lantas menurunkan kupluk dan maskernya. Ia menunjukkan wajah aslinya tanpa ragu pada kedua gadis yang ia yakini sudah tahu maksudnya datang ke rumah ini. Naina dan Clarisa bertukar tatapan sebelum sama-sama mendengus karena mengingat percakapan mereka beberapa jam lalu di ruang tv. “Kamu mau nunjukin apa sama aku?” “Sini aku tunjukin sesuatu dari kunci dan gantungan ini.” Naina lantas menggenggam sebelah jemari Clarisa sementara sebelah jemarinya yang lain menggenggam sebuah kunci yang diduga milik Gatot dan terjatuh tadi pagi di rumah mereka. Keduanya memejamkan mata cukup lama sampai Clarisa terkekeh-kekeh, pun dengan Naina yang tak bisa menahan tawa hingga akhirnya mereka terbahak-bahak dan melepaskan tangan satu sama lain. “Gila! Nggak nyangka banget aku. Tapi kamu yakin si Gatot kaca mobil itu bakal dateng malam ini?” “Yakin dong. Kalau nggak, dia nggak akan bisa buka kopernya. Kalau namu lagi yang ada gelut sama kamu. Ya pasti dia bakal nyusup ke sini,” ujar Naina percaya diri. Clarisa terbahak lagi sebelum kembali bertanya apa yang akan mereka lakukan setelah ini. Naina pun membisikkan sesuatu dan mereka terkekeh lagi sebelum akhirnya masuk kamar masing-masing dan mempersiapkan jebakan yang keduanya buat saat ini. Kini, kedua gadis itu menghampiri Gatot tanpa melepaskan tatapan kesal mereka pada pemuda itu. “Kembalikan kunci saya,” ujar pemuda itu dengan nada suara dan tatapan datar. Se-datar wajah orang-orang menyebalkan yang sering berkeliaran di muka bumi ini. “Apa?” ledek Clarisa sambil meletakkan telapak tangan di belakang telinganya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. “Aku nggak denger. Coba ulang!” “Kembalikan kunci milik saya.” Pemuda itu mengulang kalimatnya dengan nada dan ekspresi yang sama. “Kamu ngerti nggak dia bilang apa, Nai?” ucap Clarisa makin membuat Gatot kesal. Naina menggeleng. “Nggak tahu aku. Dia ngomong apa, sih? Minta tolong atau nyuruh?” sindirnya telak, membuat Gatot tersadar. “Tuh, Naina aja nggak paham. Apalagi aku yang IQ-nya di bawah Naina. Coba ulang sekali lagi, Mas Gatot yang budiman,” ejek Clarisa. “Tolong kembalikan kunci saya yang kalian pegang itu. Saya membutuhkannya.” Clarisa dan Naina kompak terkekeh. Clarisa lantas melemparkan kunci itu dari jarak dekat, membuat Gatot sedikit terkejut karena sikap keduanya yang berbeda dengan apa yang dilihatnya tadi pagi. “Ngapain sih mesti nyelinap segala ke rumah orang? Nggak tahu apa cara namu yang baik itu kayak apa?” Ucapan Clarisa kali ini tentu saja menyentil kesalahan Gatot yang bisa dilaporkan atas tindakan kriminal karena ketauan menyelinap masuk ke dalam rumah orang lain. “Maaf. Tapi tadi pagi kamu juga membuat saya hampir digeledah oleh pria-pria itu,” sahutnya membela diri. “Ya salah lo sendiri jadi orang nyebelin. Gue kan cuma keceplosan.” “Tapi keceplosan kamu itu bisa membahayakan keberlangsungan hidup saya di sini.” “Bodo amat! Emang gue pikirin.“ Gatot mendengus sinis. “See! Kamu memang keterlaluan.” “Kamu juga keterlaluan. Nabrak orang nggak minta maaf langsung malah pergi. Koper salah ambil sampe gue harus pinjem baju Naina. Dan tadi pagi juga elo dorong gue sampe hampir jatuh. Kalau nggak Naina yang geserin koper gue, nih p****t udah mendarat rata nyium lantai,” unjuknya sambil menepuk bokongnya sendiri dan menunjukkan ke muka Gatot. Pemuda itu berdeham kikuk dengan wajah sedikit memerah. Sementara Naina yang melihat hal itu ingin sekali tertawa namun hanya bisa mengulum bibir agar tak kelepasan. “Masih mau ngeles apa lo, hah?” imbuh Clarisa dengan wajah kesal meski dengan volume suara yang tetap pelan. “Saya juga–“ Prakkk….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN