Naina, Clarisa dan Gatot sama-sama terkejut dan saling menukar tatapan. Suara benda jatuh di lantai bawah membuat ketiganya terdiam beberapa jenak.
Gatot memberi isyarat pada Naina untuk mematikan lampu lantai atas kembali meski mereka baru saja berdebat. Tapi kali ini ketiganya kompak bekerja sama untuk mencari tahu kenapa ada barang jatuh di rumah ini.
“Tunggu!” Gatot menghentikan langkah kedua gadis itu dan meminta mereka untuk menunggu saja di atas dengan suara berbisik.
“Tapi–“
“Memangnya kamu berani?” potong Gatot.
“Kenapa harus takut?”
Gatot mendengus pelan. “Sudahlah. Tunggu di sini saja. Kalau dia tahu, kita tidak akan bisa menangkapnya.”
Kedua gadis itu bertukar tatapan sebelum Nania mengangguk setuju dan membiarkan pria itu melesat cepat seperti angin.
Clarisa membeliak, meyakikankan dirinya atas apa yang baru dilihatnya barusan.
“Dia masih manusia, Clarisa. Apa yang dilakukannya setauku bisa dipelajari kalau menurut buku yang pernah aku dapet dari Kak Gendhis,” terang Naina menjelaskan lebih dulu.
“Gendhis kakaknya sayang aku di Jogja?”
Naina melotot pada sahabat yang memang sudah sering mengaku-ngaku kalau sang kakak sepupu adalah kekasihnya.
“Ya ampun, Nai. Santei kali. Jangan kaku kaku kayak kerupuk kering lagi dijemur di bawah terik matahari kenapa?”
Naina berdecak pelan. Clarisa hanya mencebikkan bibir sambil mengendikkan bahu tak peduli.
Entah buku apa yang dibaca Naina karena sejujurnya Clarisa pun masih tak paham kenapa ia yang dulunya tak pernah bersentuhan dengan sesuatu yang gaib jadi semakin peka bahkan bisa punya kemampuan yang masih tak bisa dicerna oleh isi kepalanya.
Suara gaduh di lantai bawah pun mengalihkan perhatian mereka beberapa saat kemudian. Gatot yang sudah melesat kembali ke atas membuat Clarisa mencicit kaget.
“Astagfirullohaladzim!” pekiknya spontan mengangkat sandal bulunya dan mengarahkannya ke wajah Gatot.
“Kamu!”
“Assalamualaikum kek. Nongol-nongol nggak diundang udah kayak jelangkung lo tuh tau nggak?”
“Ayo ikut! Penjahatnya sudah saya tangkap. Tapi jangan terkejut.”
Naina dan Clarisa saling tatap sebelum mengikuti langkah normal Gatot kali ini. Mereka tiba di dapur yang masih gelap. Dan Naina yang akan menyalakan lampu langsung dicegah oleh pemuda itu.
“Kenapa?”
“Orang-orang suruhan orangtua kamu pasti akan curiga kalau kamu menyalakan lampu rumah cukup lama di jam seperti ini.”
“Dari mana kamu tau?” Naina terkejut rahasianya ternyata diketahui orang lain. Sementara Gatot juga tak berniat menjawab.
Naina mengalah dan mencari senter di laci agar bisa menyorot sesaat sesosok bayangan yang terlihat duduk dalam keadaan seperti terikat di lantai dapur rumahnya.
“EMILIE!” pekik Naina dan Clarisa bersamaan.
“Kalian kenal dengan hantu ini?”
“Hah? Hantu?” kompak kedua gadis itu lagi.
“Tapi dia bukan hantu. Kami berkenalan dengan dia di mall tadi.”
“Kalian tertipu. Dia ini hantu. Lihat saja. Memangnya saya ikat dia pakai apa?”
Naina menyorotkan senternya ke arah Emilia dan tak menemukan tali apapun yang tampak mengikat tubuh gadis bule itu di sana.
“Kalau tidak percaya, lempar saja sandalmu ke wajahnya,” titah Gatot pada Clarisa.
Gadis itu menurut dan mengucapkan maaf sebelum meleparkan sendalnya ke bagian tubuh lain Emilie.
Namun, Gatot yang sudah bisa menebak hal itu langsung mengarahkan tangan Clarisa untuk melempar sandalnya ke wajah Emili. Gadis itu langsung memekik takut dan loncat merapatkan tubuhnya pada Gatot begitu melihat sandal itu melewati tubuh Emilie.
“Apa kubilang kan, Nai. Aku nggak bohong liat hantu. Dan bener kan dugaanku kalau Emilie ini sebenernya hantu,” cicitnya sambil tak sadar mencengkram lengan Gatot dengan erat, membuat pemuda itu jadi salah tingkah.
“Jadi, kamu benar–“
“Aku memang hantu. Tapi yang kalian temui itu kembaranku. Tolong lepaskan aku. Aku ke sini hanya ingin meminta bantuan kalian.”
“Hantu tidak seharusnya mengganggu manusia. Apalagi memintanya mengurusi masalah kalian,” sela Gatot dingin.
“Tapi hanya kalian yang bisa membantuku. Tolong lah kasihani Emma. Dia terkurung dalam tubuhku. Sementara jasadnya sudah dikubur.”
“Jangan percaya mahluk seperti ini. Mereka itu manipulatif.” Gatot meyakinkan agar Naina dan Clarisa tidak terpedaya.
Emilie menggeleng keras. “Aku tidak bohong.”
Emilie menangis. Tangis yang sungguh tak dibuat-buat meski air mata yang jatuh itu menguap entah ke mana. Clarisa jadi iba, begitu pun Naina yang merasa kalau Emilie tidak membohongi mereka.
“Lalu di mana kembaranmu sekarang?” Naina jadi ingin membuktikan.
“Dia ada di rumah. Dia tidak tahu kalau aku ke sini,” terang Emilie.
“Lalu bagaimana bisa kamu menemukan rumah kami?” Kali ini Clarisa yang penasaran.
“Aku tidak sengaja melihat kalian saat jalan-jalan di pusat kota. Jadi kubuntuti saja,” akunya.
Rumah mereka ternyata berdekatan. Hanya terpisah beberap blok saja dari kawasan pemukiman semi premium itu.
“Baiklah. Bagaimana aku menghubungi kembaranmu sekarang?”
“Kalian telepon saja ke nomer Clarisa.”
“Kenapa nomerku?” heran Clarisa yang namanya disebut.
“Karena ponselmu kutukar dengan milik Emma saat di mall tadi.”
“Hantu kurang ajar!”
“Tapi kita tidak mungkin mengundang kembarannya ke sini sekarang. Ini sudah malam,” terang Naina.
“Mas Bear dan kawan-kawannya pasti bakal laporan terus ketauan deh kita ketemu hantu lagi. Padahal kita ke sini ‘kan buat ngindarin hantu,” sahut Clarisa.
“Sebaiknya memang begitu,” tambah Gatot.
“Nggak ada yang nanya lo, Perkedel Kentang!”
“Apa kamu bilang?”
“Ssssttthhh! Jangan ribut. Sekarang mending kamu lepaskan dia.” Naina menatap Gatot.
“Saya tidak mau. Arwah gentayangan seperti dia ini berbahaya.”
Emelie mendengus dan merotasikan bola matanya.
“Kalau dia tidak dilepas berarti dia akan di sini sampai besok pagi?” tanya Naina.
“Memangnya mau di mana lagi?”
“Tapi kami mau tidur.”
“Tidur saja. Memangnya kenapa?” jawab Gatot tak peduli.
“Tapi kami tidak tenang kalau dia ada di sini.”
“Aku tidak akan mengganggu kalian. Sungguh.”
“Tidak ada yang memintamu bicara!” sentak Gatot membuat Emilie menjenggit takut.
“Galak sekali teman kalian.”
“Nei! Nei! Nei! Dia bukan temen kami, ya. Catat! Ogah gue punya temen perkedel kentang nggak jelas gini.”
“Kamu bicara apa?”
“Per-ke-del ken-tang,” eja Clarisa tanpa takut, membuat Gatot menggeram pelan.
“Apa lo! Mau marah?”
“Udah… udah. Kalian nih kenapa, sih? katanya nggak temenan tapi ribut mulu.”
“Dia!”
“Dia!” kompak sambil saling menunjuk muka. Naina dan Emilie sampai menggelengkan kepala kompak.
“Elo tuh!”
“Kamu yang mulai mengatai saya!”
“Elo yang mulai nggak berakhlak juga!” solot Clarisa tak mau kalah.
“Aduh! Udah… udah… udah! Sekarang ini kita pikirkan siapa yang mau jaga dia?”
“Dialah. Dia ‘kan yang nangkep dan ngiket nih Mbak hantu bule,” unjuk Clarisa berani.
“Saya harus pulang!”
“Ohh, tidak bisa, Ferguso! Anda mau ke mana?” Hadang Clarisa namun kali ini dengan gestur yang terlihat percaya diri.
“Minggir atau ku… ahhh… ahhh… ahhh!”
Gatot mengaduh berulang kali ketika Clarisa dengan sekuat tenaga menginjak kaki, menjambak rambut hingga kepalanya menengadah ke atas sebelum lututnya menendang pusat kehidupan Gatot hingga membuat pemuda itu tersungkur di lantai.
“Clarisa!”
Naina mencoba menolong Gatot. Namun langkahnya terhenti karena ingat reaksi yang diberikan Gatot ketika hendak menolongnya tadi pagi.
Clarisa sendiri langsung mencari tali dan mengikat Gatot dengan simpul yang mematikan.
Bahkan ikatan yang dibuatnya saling terhubung sehingga Gatot harus melepaskannya satu persatu.
“Perempuan bar-bar!”
Clarisa menjulurkan lidah seraya mengejek Gatot yang masih terlihat kesakitan di bagian pangkal pahanya.
“Nah, sekarang aman kalau gini. Biar mereka tidur bersama di sini.”
“Tapi Clarisa, gimana kalau Gatot sakit tidur di lantai begini?”
“Pemanas ruangan ‘kan nyala, Nai. Nggak akan dingin kok.”
“Tapi–“
“Sssttthhh! Udah deh. Percaya sama aku.”
Clarisa lalu menarik Naina pergi dan membiarkan Gatot bersama Emilie di dapur.
“Kita apa nggak kejam, ya?”
“Nggak. Memangnya dia mau laporin kita? Bisa-bisa malah dia yang masuk penjara kalau ketahuan nyelinap ke rumah orang.”
Clarisa mengajak Naina masuk kamar yang sama lalu mengunci pintu sebelum merebahkan tubuhnya lebih dulu di atas kasur.
“Tidur, Nai!”
“Tapi–“
Clarisa bangun dari tidurnya dan menatap Naina dengan serius.
“Inget, tujuan kita ke sini apa? Kamu nggak mau ‘kan bikin Mommy Lala cemas? Kalau Mommy sampai kepikiran kamu, Daddy Janu juga bakal sedih. Kamu nggak suka ‘kan liat mereka berdua begitu karena kamu?”
Bahu Naina luruh jatuh. Tubuhnya menyandar di pintu sementara pandangannya jatuh ke bawah.
Clarisa menghampiri Naina, meraih kedua jemari Naina sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Terkadang kita perlu sedikit tega sama diri sendiri. Dan itu demi kebaikan kita juga, Nai. Kamu nggak mau apa memperbaiki masalah kamu sama Umi Yuni? Nggak mau balikan sama Aa Naga Bonar?”
Naina mencebik kesal. “Apa, sih?”
“Apa, sih…” cibir Clarisa mengejek. “Masih sayang mah nggak usah sok jual mahal.”
Naina menarik hidung Clarisa hingga membuat gadis itu mengaduh.
“Udah yuk tidur!”
Naina menurut dan keduanya tidur dalam selimut yang sama.
“Terus Emilie gimana?”
“Ya, nggak gimana-gimana. Kita minta Gatot lepasin dia besok terus suruh kembarannya jemput.”
“Gatot?”
“Alah… apaan sih mikirin Gatot kaca mobil. Dia cowok. Biarin aja. Palingan masuk angin karena tidur di lantai. Tinggal kasih tolak angin nanti juga sembuh.”
Naina tertawa kecil dan akhirnya mengikuti Clarisa yang langsung memejamkan mata.
Sementara itu, Gatot yang ternyata menguping pembicaraan keduanya tampak terdiam di depan pintu kamar mereka. Ia lantas kembali ke dapur dan mengikat dirinya sendiri kembali.
Bukan hal sulit bagi Gatot melepaskan ikatan yang dibuat Clarisa. Hanya saja tidak ada yang tahu kenapa ia melakukan hal itu kembali. Mengikat dirinya sendiri dan memilih tetap tinggal bersama Emelie di dapur.
“Kenapa kamu tidak kabur?”
“Bukan urusanmu,” ketus Gatot lalu memejamkan mata dengan posisi menyandar pada kitchen set.
Emelie juga melakukan hal yang sama sebab dia juga tidak bisa ke mana-mana.
Entah apa yang dililitkan Gatot ditubuhnya sedang Emelie juga tidak bisa melihat namun hal itu sukses membuat Emelie tak bisa berkutik.
“Lebih baik aku juga tidur saja,” gumamnya kemudian memejamkan mata.