“Emelie! Emelie! Bangun!”
Suara itu membuat Emelie membuka kedua matanya.
“Emma. Kau sudah datang?”
Emma mengangguk. Gadis kembaran Emelie itu lantas menatap Gatot dan meminta pemuda itu melepaskan ikatan pada tubuh kembaranya.
Gatot kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam hoodienya. Semacam belati kecil yang digantung pada sebuah kalung.
Tanpa perlu mendekat, Gatot hanya mengarahkan belati kecil itu ke arah Emelie lalu sekilas cahaya horizontal muncul diikuti dengan gerakan tubuh Emelie yang tampak seperti terbebas.
“Akhirnya. Melelahkan sekali semalaman aku diikat seperti ini. Terima kasih,” ujarnya pada Gatot.
Pemuda itu tak peduli. Naina lantas mengajak mereka duduk di kursi bar stoll.
Clarisa membuatkan cokelat hangat untuk dirinya, Naina dan juga Emma. Sementara untuk Gatot, Clarisa membuatkan teh panas yang dicampur tolak angin.
“Pppffffttthhh! Minuman apa ini? Mana panas lagi. Kamu mau meracuniku, ya?”
“Hilih, apa untungnya gue ngeracun lo. Bagus gue kasih minum. Itu teh sama campuran tolak angin. Biar lo nggak sakit, Perkedel Kentang!”
Gatot berdecak kesal lalu mendorong gelas di hadapannya tersebut.
“Habisin nggak lo?! atau gue laporin ke polisi lu ngendap-ngendap ke rumah orang,” ancamnya telak, membuat Gatot mau tak mau patuh.
Naina menggelengkan kepalanya sementara Clarisa tersenyum miring karena berhasil membuat Gatot patuh pada perintahnya.
“Jadi kamu sebenarnya adalah Emma. Hanya saja raga kamu milik Emelie?” buka Naina menatap kedua gadis kembar itu bergantian.
Emma dan Emelie mengangguk. “Jadi, kalian ingin bertukar raga lagi?”
Kali ini keduanya saling menatap sendu. “Kalau kalian bertukar raga, artinya Emma yang akan mati dan Emelie yang hidup.”
“Mungkin itu lebih baik,” sahut Emma terdengar pasrah.
“Tidak! Aku tidak butuh kembali ke ragaku. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kami,” sela Emelie lalu menatap kembarannya. “Aku mohon Emma. Mungkin ini jalan Tuhan. Aku tidak apa-apa.”
Emma menggeleng. “Aku tidak bisa hidup sebagai dirimu. Tidak. Aku tidak bisa. Ini membuatku muak, Emelie.”
“Aku tahu kamu merindukan mereka. Dan sekarang mungkin saatnya kamu bisa memperbaiki hubungan kalian yang jauh karena aku.”
Naina dan Clarisa saling tatap. Sementara Gatot yang berdiri sambil bersandar pada dinding, menatap kedua gadis kembar itu dengan tatapan tak terjemahkan.
“Tapi untuk apa? Mereka tetap saja menganggapku sebagai dirimu, bukan aku, Emma yang sebenarnya.”
“Emma.”
“Maaf,” Clarisa menyela. “Kami tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Tapi itu tidak penting. Tapi maaf aku juga harus mengatakan ini, kami tidak bisa membantu kalian.”
Ucapan Clarisa membuat Emelie terlihat sendu, sementara sang kembaran hanya menghembuskan napas panjang dan berat.
Kedua tangan Clarisa terlipat di d**a, sementara wajahnya berubah serius dan tenang. Tak seperti sebelumnya saat bertengkar dengan Gatot.
“Apa aku boleh tahu kenapa kalian tidak bisa membantu kami?” kejar Emelie.
“Tujuan kami ke sini untuk belajar dan juga memulihkan kesehatan Naina. Kami tidak bisa membantu kalian. Jadi aku harap setelah ini kalian tidak mengganggu kami lagi.”
“Kamu sakit?” tanya Emma diangguki Naina pelan.
“Tapi–“
“Cepat pergi atau kuusir dengan cara paksa dari sini.” Emelie ingin mengatakan sesuatu tapi lebih dulu di potong Gatot.
“Tolong lah. Hanya kalian satu-satunya harapan kami setelah berbulan-bulan ini kami mencari orang yang bisa membantu,” melas Emelie.
“Jika hanya untuk mencari tahu kenapa harus memerlukan bantuan kami? Bukankah kalian bisa melakukannya berdua?” ujar Clarisa.
“Ini tidak sesederhana yang kalian kira. Ada banyak hal yang sebetulnya belum kuceritakan.”
“Apa?” Naina tak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
“Tidak perlu. Kami tidak perlu tahu apalagi jika itu membahayakan nyawa kami,” sela Clarisa membuat Gatot terlihat kagum dengan gadis itu. “Sebaiknya kalian pulang. Kami masih banyak kegiatan yang harus dilakukan.”
Clarisa berjalan ke arah pintu dan membukanya untuk mereka berdua.
Naina tak banyak bicara. Wajahnya menatap maaf pada Emma dan Emelie karena yang dilakukan Clarisa sangat beralasan.
Andai saja kondisi kesehatan Naina baik-baik saja, Naina mungkin tak akan berpikir dua kali untuk membantu Emma dan Emelie, tak perlu merasa kasihan seperti sekarang ini.
Gatot menarik paksa Emelie yang hendak mendekati Naina.
“Cepat pergi! Dan jangan mengganggu manusia manapun lagi.”
“Kau pikir aku hantu pengganggu manusia?” salak Emelie tak terima.
“Kalau bukan kenapa kalian masih di sini dan memaksa?” sinis Gatot sambil terus mendorong Emelie keluar dari rumah.
“Hey! Tidak perlu kasar!” protes Emelie. “Dan lagi tidak ada yang minta pertolonganmu. Aku meminta pertolongan pada Clarisa dan Naina, bukan padamu, manusia kentang!”
Clarisa mengulum tawa geli, mendengar Emelie memaki Gatot dengan panggilan yang ia sematkan.
Namun ekspresinya berubah tak kala tatapan matanya bertumbukkan dengan tatapan Gatot yang memicing.
“Apa lo?!”
Satu alis Gatot menanjak ke atas lalu ia mendengus malas.
“Sekali lagi aku minta maaf. Kami tidak bisa membantu kalian.”
Emma mendesah pelan di hadapan Clarisa. “Maaf atas sikap Emelie yang sudah menganggu kalian,” lirihnya diangguki Clarisa.
Pintu pun tertutup. Emelie yang mencoba menerobos masuk tiba-tiba saja terpental sampai ke tengah taman.
“Aduh!”
“Emelie!”
Emma menghampiri kembarannya. Dan hal itu membuat pengawal Naina yang memperhatikan dari tempat tersembunyi mengernyit heran.
“Kamu baik-baik saja?” Emma menatap Emelie yang terlihat mengerutkan kening saat menatap rumah Naina.
“Kenapa rumah itu seperti ada gelembung pelindungnya sekarang?”
“Kau bicara apa? Aku tidak melihat apa-apa.”
Emma membantu Emelie bangun. Tangannya menunjuk ke arah rumah Naina.
“Rumah itu seperti ada pelindungnya. Dan aku tidak bisa menembusnya.”
“Sudahlah. Ayo kita pulang!”
“Kamu tidak mengurus pendaftaran kuliah?” Emelie segera menyusul Emma yang meninggalkannya begitu saja. “Kamu tidak jadi melanjutkan kuliah?” desaknya tak sabar.
“Percuma.”
“Kenapa?” Emelie berjalan di depan Emma.
“Aku tidak akan bisa mengambil jurusan yang aku mau. Karena itu lebih baik aku bekerja saja di kafe.”
“Tapi Emma–“
“Berhentilah mengomeliku!”
Emma berteriak kencang. Raut wajahnya terlihat marah sekaligus lelah. Ia tak peduli orang-orang memperhatikannya.
“Pergi! Aku tidak mau melihatmu lagi.”
“Emma.”
“Aku lelah, Emilie. Tolong, jangan terus memaksaku.”
“Emma.”
Emma melangkah cepat meninggalkan Emilie yang masih tergugu dengan wajah menyesal.
“Maafkan aku,” gumamnya lalu berbalik ke arah yang berlawanan.
Entah ke mana langkahnya pergi. Emilie hanya tahu kalau Emma butuh waktu sendiri.
Selama ini mereka hidup terpisah. Emma tinggal dengan nenek kakeknya, sedang Emelie tinggal dengan ayah dan ibunya.
Sejak kecil, keduanya terpaksa dipisahkan. Meski begitu bagi Emelie, Emma adalah saudara sekaligus teman terbaiknya.
Emma selalu melindungi Emelie yang memang mudah dibully saat masih sekolah. Karena itu, melihat Emma begitu marah padanya membuat hati Emelie terluka dan sedih.
***
Naina sedang sarapan dengan Clarisa ketika dering teleponnya berbunyi.
“Siapa?” tanya Clarisa sambil mengintip ponsel milik Naina.
“Mommy.”
“Angkat! Angkat cepet!” seru Clarisa antusias.
Lalu…
“Mommy! Aku kangen… muach… muach… muach…” seru Clarisa begitu layar memunculkan wajah Lala.
Padahal baru dua hari lalu mereka berkomunikasi lewat telepon sampai berjam-jam.
“Sarapan apa hari ini?”
Clarisa menunjukkan isi piringnya saat Naina meletakkan ponsel pada phone holder.
“Mommy kok masih pake daster, sih? Nggak jemput trio pulau sama duo bungsu?” omel Naina.
Jerman baru saja pukul tujuh, sedang di Indonesia, jam sudah menunjuk angka setengah satu siang.
“Daddy ‘kan ke Malang dari kemarin, Sayang. Adik-adik kamu juga les dulu nanti. Lagian ada Onti Mayang sama supir. Mbah ‘kan lagi di sini.”
“Mentang-mentang nggak ada Daddy nggak dandan, ya. Diculik penculik bapak-bapak nanti kejer loh, Mom,” timpal Clarisa ikut mengomeli ibunda dari sahabatnya itu.
“Eh!”
“Hush!” kompak Naina dan Lala.
“Justru kalau Mommy pake daster begini bahaya. Bisa-bisa Naina punya adik lagi, Risa,” sarkas Lala yang sengaja menggoda anak sulungnya tersebut.
Clarisa langsung tergelak sedang Naina memutar bola mata jengah menanggapinya.
“Gimana, Kak? Kamu mau punya adik lagi? Kalau mau, Mommy susulin Daddy nih nanti sore.” Lala sengaja mengajukan pertanyaan provokatif bernada candaan tersebut.
“Mom, inget umur kenapa?”
Lala puas tertawa kemudian.
Usia Lala menjelang lima puluh tiga tahun. Namun siapa yang akan percaya jika setiap kali tampil dengan outfitnya, Lala malah terlihat seperti ibu-ibu muda di usia tiga puluhan.
Dan hal itu lah yang membuat Lala selalu percaya diri di depan semua orang. Termasuk suami dan anak-anaknya.
“Mommy masih menstruasi lancar loh, kak. Mana Daddy kalau nembak tokcer banget.”
“Wuih, Pantes aja. Mommy sama Daddy memang top.” Clarisa mengacungkan kedua jempolnya.
“Itu mah Mommy aja yang ganjen. Suka nantangin Daddy. Makanya aku sampe punya lima adik.”
Mereka tergelak. Clarisa sampai memukul-mukul meja makan saking merasa lucunya obrolan mereka.
“Lagian Mommy nih, kalau Daddy dines jauh tuh kintilin aja kenapa, sih?”
Ayah Naina adalah seorang pilot jet tempur angkatan udara dulunya. Sosok yang diidamkan banyak wanita di luaran sana.
Alih-alih sering memamerkan dan bersikap posesif pada sang suami, Lala lebih sibuk dengan urusan bisnis yang sebelumnya di kelola sang suami yang memang bukan seorang anggota TNI biasa.
Terlahir dari keluarga kaya raya, sebelum menjadi prajurit Janu–sang suami sudah mulai merintis usaha sejak masih duduk di bangku sekolah.
Di usianya yang belum genap dua puluh tahun, Janu dan adiknya sudah memiliki puluhan kos-kosan dan aset saham di beberapa perusahaan dalam dan luar negeri.
Karenanya, abdi negara adalah cita-cita yang menjadi kebanggan. Bukan sesuatu yang diambisikan untuk mengejar karir meski pada kenyataannya karir Janu melesat dengan baik berkat kemampuan intelektual dan pengalamannya selama menjalani dinas.
Karena itu juga Janu tidak pernah memaksa Lala mengikuti kegiatan yang banyak dilakukan istri-istri prajurit pada umumnya.
Janu justru mendukung dan menyerahkan semua kepemilikan aset yang ia miliki untuk dikelola oleh Lala.
Meski untuk melalaui proses itu, ia harus mengupayakan banyak hal dan menorobos beberapa tradisi yang untungnya dipermudah oleh atasannya sendiri.
Atasan yang kala itu juga adalah paman dari mendiang suami pertama Lala. Ayah kandung dari Naina yang juga seorang dokter di kesatuan angkatan darat.
“Mommy ‘kan nggak pernah aktif giat ibu-ibunya, Risa.”
“Ya tapi ‘kan dampingin Daddy mah nggak apa atuh, Mom,” sangkal Clarisa. “Salah-salah nanti Daddy dikira duda. Anaknya mulu yang dibawa dines. Istrinya malah nggak keliatan.”
“Istrinya sibuk ngurusin kontrakan sama restorannya yang katanya mau buka cabang lagi di Bali coba,” cibir Naina lagi-lagi membuat Lala tertawa renyah.
“Nggak papa dong. Makin kaya sahabat aku ini. Jadi kalau Mommy nggak mau angkat aku jadi anaknya, ‘kan kamu bisa angkat aku jadi sodara.”
Naina berdecih. Padahal kenyataannya, keluarga Naina sudah menganggap Clarisa seperti keluarga mereka sendiri.
Lala diam-diam tersenyum melihat kedua gadis kesayangannya itu saling mencebik.
“Kamu udah telepon papi kamu belum?”
Dan pertanyaan Lala itu sukses membuat Clarisa tersentak.