Help Me 6 - Hantu Kok Kabur

1595 Kata
“Risa? Ris? Kok ngelamun?” Clarisa tersentak, buru-buru menjawab tanpa membuat curiga. “w******p-an doang, Mom. Pake voice note. Papi lagi di Hongkong. Katanya urusan bisnis di sana sampai dua minggu,” kilahnya membuat Lala menyadari sesuatu. Ia pun hanya menatap tenang kedua gadis itu bergantian. Naina dan Clarisa sama-sama lahir dari keluarga yang berada. Bedanya, nasib Naina lebih beruntung daripada Clarisa. Keduanya sama-sama kehilangan orang yang mereka cintai bahkan sebelum keduanya sempat mengenal masing-masing dari orang yang dicintainya itu. Namun Naina sudah memiliki Janu sejak sang ayah meninggalkan dunia ini. Sedang Clarisa, ayah Clarisa tidak menikah lagi setelah ibu Clarisa meninggal. Sayangnya sikap ayah Clarisa jadi kurang perhatian sebab kematian sang istri yang membuatnya trauma dan begitu kehilangan. Karenanya, Clarisa dan Naina cenderung memiliki sikap yang berbeda. Meski tampak luar kedua gadis itu memiliki banyak kesamaan pisik yang membuat orang di sekitarnya tertarik. Naina dan Clarisa termasuk gadis yang ramah dan dermawan. Selain itu keduanya juga memiliki paras yang kecantikannya menjadi ciri khasnya masing-masing. Naina dengan darah campuran Sunda-Jawa-Belandanya, sementara Clarisa yang juga mewarisi darah Jawa-Ambon-Tionghoanya terbilang tumbuh menjadi gadis yang spesial. Clarisa juga lebih atraktif dan senang menjadi pusat perhatian, sementara Naina lebih kalem dan tertutup dengan orang baru. Mirip dengan mendiang ayahnya. Karena itu lah, meski terlahir menjadi anak konglomerat, dalam kesehariannya Naina jarang menggunakan fasilitas yang diberikan keluargannya dengan bebas. Gadis itu lebih suka hidup dengan caranya. Seperti kisah hidup mendiang sang ayah yang selalu diceritakan Lala dan keluarganya yang lain setelah sang ayah meninggal tepat setelah ia dilahirkan ke dunia ini. Ayah yang tak pernah bisa ia lihat dan peluk dalam wujud nyatanya, namun selalu hadir dalam mimpi-mimpi dan ingatannya. Obrolan mereka pun berlanjut hingga sarapan mereka tandas ke dalam perut lalu bel pintu rumah mereka terdegar dipencet berulang kali oleh seseorang. Naina dan Clarisa saling melempar tatapan. “Mas Bear kali,” lirih Clarisa dalam hati. “Pagi gini?” balas Naina lalu menatap layar ponsel. “Udahan dulu, ya, Mom. Kayaknya ada tamu.” “Kalian udah punya temen?” Untungnya mereka mengangguk kompak. Seperti mengerti satu sama lain agar tak membuat Lala cemas di sana. “Cewek cowok?” desak Lala penasaran. “Cewek.” “Cowok.” Dan jawaban mereka kali ini membuat Lala mengernyit heran. “Kalian bohong, ya?” “Nggak!” kompak keduanya lalu saling membatin. “Memang temennya cewek cowok, Mom. Clarisa kenalannya sama cewek. Namanya Emma. Dia yang nolongin Clarisa waktu di toilet, Mom,” imbuh Clarisa diangguki Naina dengan cepat. “Terus kalau yang cowok?” “Itu loh, Mom. Yang Kakak cerita kemarin waktu Clarisa kopernya ketuker. Mahasiswa Indonesia yang lagi studi S2 di sini.” “Yang namanya Gatot?” Keduanya mengangguk cepat. Berusaha santai meski jantung mereka mulai tak tenang karena bel pintu terdengar kembali dibunyikan mengingat orang-orang yang mereka ceritakan jelas bukan teman mereka sampai saat ini. “Udah dulu, ya, Mom? Kasian belum dibukain pintu. Kedinginan nanti jadi manusia salju,” seloroh Clarisa membuat Lala tertawa dan terlihat lega. “Ya udah. Kalian hati-hati, ya, kegiatan hari ininya. Have a good day, sayang-sayangnya Mommy.” “Love you, Mom.” “Love you too, Kakak Sayang.” “Risa juga sayang Mommy Lala dan Daddy Janu.” “Genit!” cibir Naina sambil mendelik sebal. “Dih! Cembokur,” ejek Clarisa lalu melambaikan tangan ke kamera. “Mommy juga sayang kamu, Risa. Baik-baik, ya, kalian berdua di sana.” Naina membereskan meja dan mencuci piring gelas. Sedang Clarisa berjalan ke arah pintu. “Ya, tunggu sebentar,” teriaknya lalu menarik gerendel pintu dan memutar handel. “Cari si… kamu?” Emma berdiri dengan wajah gusar sambil memegangi tali tas selempangnya. Clarisa sendiri hanya berdiri di depan pintu tanpa berniat mempersilakannya masuk. Kedua tangannya terlipat di d**a. Menunjukkan gestur tak senang sekaligus mengintimidasi lawan bicaranya. “Mau apa lagi ke sini? Aku sudah bilang bukan kalau kami nggak bisa–“ “Apa Emelie ke sini?” potong Emma ragu. “Dia saudaramu. Kenapa kamu bertanya padaku?” “Dia tidak pulang sejak hari itu.” “Lalu apa hubungannya dengan kami?” “Aku kira dia ke sini untuk membujuk kalian. Karena hari itu–“ “Siapa, Clarisa?” suara Naina terdengar dari dalam. Baik Clarisa maupun Emma langsung menoleh. “Emma.” Naina menyapanya dengan suara ramah. “Ada apa datang ke sini?” “Aku mencari Emelie, Naina. Apa dia datang ke sini?” Naina menggeleng. “Dia tidak datang ke sini. Memangnya dia tidak bersama kamu?” Emelie mengangguk. “Dia tidak pulang. Dan aku sudah mencarinya ke mana-mana.” Wajahnya terlihat sendu. “Tapi Emelie tidak ada di sini. Kami jelas tidak akan menyembunyikannya,” ucap Clarisa datar. “Kalian bertengkar?” Seperti mengerti, Naina sekarang membuat bola mata Emma mulai memupuk telaga. “Masuk dulu! Ayo bicara di dalam. Di luar dingin.” “Nai!” “Dia tamu. Setidaknya dia datang dengan baik-baik Clarisa. Dan di luar dingin.” Clarisa berdecak. Terpaksa membuka pintu rumah lebih lebar agar Emma bisa masuk. Naina membuatkan segelas cokelat panas untuk gadis itu. Namun Emma malah menangis setelah meminumnya sedikit. “Aku membentaknya. Aku kesal karena dia terus memaksaku. Aku pikir dia hanya pergi sebentar. Tapi sampai keesokannya dia belum juga pulang. “Kutunggu sampai hari ini pun sama. Nihil. Keberadaannya menghilang. Aku tidak tahu dia pergi ke mana. Emelie tidak punya banyak teman. Dan aku juga tidak mungkin bertanya pada teman-temannya.” “Kenapa?” Naina bertanya sementara Clarisa diam seraya membentengi diri agar tidak terpengaruh dengan cerita Emma. “Emelie gadis lemah. Dia sering dibully oleh teman-temannya. Karena itu kami bertukar sekolah tanpa sepengetahuan orangtua kami selama satu bulan.” Emma tampak menarik dan menghembuskan napas beratnya sejenak. “Selama satu bulan itu aku membalas orang-orang yang membullynya. Berharap setelahnya mereka tidak akan berani mengganggunya lagi. “Tapi usahaku sia-sia. Padahal sejak kecil kami tidak tinggal bersama. Dan seseorang yang mengenali kami membuka rahasia kalau kami anak kembar. Sehingga ketika Emelie kembali ke sekolah, ia malah dibully lebih parah bahkan sampai masuk rumah sakit.” “Semengerikan itu?” Emma mengangguk. “Dulu kami tinggal di Perancis karena Ayah bekerja sebagai diploma. Dan setelah kejadian itu ibu membawa kami ke Jerman.” Naina mendesah pelan. Sementara Clarisa masih dengan mode yang sama. Tak sedikitpun tersentuh dengan cerita Emma meski ia sendiri pernah mengalami hal serupa. “Kamu punya sesuatu yang menjadi milik Emelie?” Emma menatap Naina bingung. “Seperti benda. Misal bandana kesayangannya atau sepatu?” “Untuk apa?” “Mungkin aku bisa membantu dengan mencari keberadaan kembaranmu dengan benda kesayangannya itu,” terang Naina membuat Clarisa sengaja mendengus. “Ada. Tas ini benda yang Emelie sukai dan sering kugunakan sejak pindah ke tubuhnya.” Emma menyerahkan tas itu pada Naina. Naina menatapnya sesaat sebelum meletakkan telapak tangannya di atas tas selempang itu dan memejamkan mata. Kening dan alisnya tampak berkerut-kerut tajam. Tak biasanya Naina seperti itu jika sedang melakukan penerawangan. Dan hal itu membuat Clarisa cemas. Naina tersentak membuka mata dan membuang napas cepat. Seperti orang yang kehabisan napas karena berlari jauh. “Kenapa?” Emma bertanya lebih dulu. “Nai, kamu nggak kenapa-kenapa ‘kan?” Naina menggeleng seraya menenangkan Clarisa yang terlihat panik dan mencemaskannya. Namun Clarisa yang kesal langsung mengambil tas itu dan memberikanya dengan kasar pada Emma. “Pulanglah. Temanku jadi tidak baik-baik saja karenamu.” “Tapi–“ “Emelie ada di perkebunan. Di rumah nenekmu.” “Benarkah?” Naina mengangguk. “Aku melihat percakapan beberapa orang di dalam rumah kayu yang indah dan dikelilingi taman bunga. Benar?” “Iya. Itu tempat nenek, paman dan bibiku tinggal.” Emma langsung bangun dari duduk, menyelempangkan tasnya dengan seraut berbinar-binar. “Terima kasih, Naina. Aku janji tidak akan mengganggu kalian lagi.” Naina mengangguk lalu ia dan Clarisa mengantarnya hingga ke pintu. Emma tampak berlari tak sabaran ke arah jalan dan menyetop sebuah taksi. Wajahnya kemudian menoleh ke samping kaca begitu masuk ke dalam mobil. Tangannya melambai riang ke arah Naina dan Clarisa yang masih berdiri di depan pintu. “Nai!” “Aku nggak papa, Clarisa.” “Ini yang terakhir kali. Kalau kamu kayak gini terus, aku nggak mau ngomong sama kamu lagi.” “Clarisa.” “Hantu kok kabur. Kenapa nggak sekalian aja pergi ke alam baka? Nyusahin aja. Ah tapi semua hantu yang kita pernah temuin ‘kan memang nyusahin. Bahkan sampai bikin kamu sakit,” desisnya tajam. Clarisa masuk lebih dulu, meninggalkan Naina yang kemudian memilih duduk lagi. Raut wajahnya tampak berpikir keras. Ada sesuatu yang sebetulnya ingin ia utarakan. Namun melihat reaksi Claris, Naina memilih diam dan memberikan sahabatanya waktu untuk menenangkan diri. Selagi itu, Naina lantas menghubungi Bernand untuk menanyakan sesuatu. “Bisa kamu carikan saya nomer teleponnya?” “Untuk apa kalau saya boleh tahu, Nona?” “Tidak ada. Aku hanya ingin minta maaf dan bertanya tentang tempat tinggalnya di Indonesia.” Bernand tampak terdiam di seberang telepon sana. “Baik. Akan saya carikan segera.” “Terima kasih, Bernand.” “Apa hari ini anda mau ditemani?” Naina menoleh ke arah tangga dengan tatapan sendu. Clarisa pasti masih marah dan mengurung dirinya di kamar. “Tidak. Sepertinya kami akan di rumah seharian ini.” “Baiklah, Nona. Jika ada sesuatu atau anda perlu bantuan kami, segera hubungi saya.” “Iya. Terima kasih sekali lagi, Bernand. Semoga harimu menyenangkan.” “Anda juga, Nona.” Merebahkan punggungnya ke sandaran sofa, Naina memejamkan matanya sejenak. “Bayangan hitam itu kenapa seperti bisa kayak ngeliat aku, ya, tadi?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN