Help Me 7 - Keajaiban

1730 Kata
Sejak terbangun di tubuh Emelie, ia tak pernah berani menemui nenek, bibi dan pamannya. Takut mereka mengenali kebiasaan dan gestur tubuhnya yang jelas berbeda dengan Emelie. Emma masih berusaha keras untuk beradaptasi kehidupan barunya sebagai Emelie agar kedua orangtuanya tidak curiga. Sayangnya menggantikan peran Emelie memang sangat tidak mudah, meski mereka terlahir sebagai anak kembar identik. Taksi yang membawanya berhenti tepat di ujung jalan menuju perkebunan. Emma menatap ke sekitar setelah turun dari taksi yang mengantarkannya lalu berjalan kaki menuju rumah sang nenek. Tak banyak perubahan yang terjadi setelah hampir satu tahun ia tidak pernah berkunjung. Di waktu seperti sekarang ini, nenek, paman dan bibinya pasti sedang sibuk di kebun. Dan biasanya Emma juga akan ikut membantu mereka. Ia pun memutuskan pergi ke kebun dan menyaksikan dari kejauhan. Sambil mencari-cari keberadaan Emelie yang mungkin ikut bersama mereka. Meski Emelie tidak akan bisa berkomunikasi dengan keluarganya, Emma yakin gadis itu pasti tidak suka ditinggal sendirian di rumah. Apalagi di rumah ada kucing milik Emma. Dan Emelie alergi dengan bulu kucing. “Tapi sekarang dia arwah penasaran, apa dia masih bisa merasakan alergi karena bulu kucing?” gumamnya sambil terus berjalan dan melihat-lihat sekitar. Tiba di dekat sebuah pohon besar, dari kejauhan Emma melihat sang paman sedang mengemudikan traktor bersama nenek dan bibinya yang sedang menggarap kebun mereka. Emma memperhatikan kegiatan itu sambil duduk dan bersandar pada pohon besar. Pohon yang sering ia datangi jika ingin sendirian. Cuaca tampak bagus. Namun karena terlalu lama menunggu, Emma akhirnya tertidur. Semilir angin pedesaan yang dirindukan membuat Emma nyaman hingga waktu bergulir cepat dan gadis itu masih terbuai dalam tidur siangnya. Sang paman yang melihat keberadaan Emma jadi penasaran karena seperti mengenali ketika ia membawa traktor melintas pulang. “Sayang, tolong lihat gadis itu!” serunya menunjuk ke arah pohon. Sang istri turun dari traktor sementara sang ibu hanya melihat dari tempat duduknya. Sang bibi menggoyangkan bahu Emma, membuat Emma terbangun dan menoleh. “Emma?” “Bibi?” “Ibu… Emma datang!” Gadis itu belum menyadari kalau sang bibi memanggilnya dengan nama aslinya. Hingga sang nenek dan pamannya ikut turun dan menghampiri, Emma masih bingung ketika sang nenek memeluk gadis itu sambil terus menggumamkan namanya. “Cucuku. Akhirnya kamu datang, Sayang.” “Emma. Kau datang dengan siapa?” tanya sang paman kali ini membuat Emma akhirnya menyadari sesuatu yang janggal. “Kenapa kalian memanggilku dengan sebutan Emma?” Mereka bertiga hanya terus menatap haru. “Kamu pasti ingin menemui Emelie bukan? Ayo kita ke rumah. Aku sudah tahu kamu pasti akan datang.” Emma masih kebingungan saat ia dibawa pulang. Dan begitu sampai, Emma baru menyadari sesuatu ketika Emelie langsung mengomel secara tak sadar. “Kenapa nenek lama sekali? Chloei terus menatapku saat menon… ton… Emma! Kenapa kamu ada di sini?” “Emelie, aku…” Emma tak sempat menuntaskan ucapannya karena tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing dan kesadaranya hilang begitu saja. *** “Maafkan aku.” Emma hanya bisa diam begitu mendengar sang nenek menceritakan apa yang terjadi saat Emelie datang ke rumah mereka. “Jadi… kalian bisa melihat Emelie dan sudah tahu kalau kami tertukar?” semua mengangguk. “Bagaimana bisa?” Tatapan lainnya terlihat sendu. “Saat itu Emelie sakit parah.” Sang bibi mulai bercerita. “Tapi dokter tidak tahu penyebabnya apa. Lalu dukun yang kami temui mengatakan pada ayahmu kalau dia ingin kedua anaknya hidup sampai besar, kalian harus dipisahkan.” Emelie terdengar mendesah berat. “Karena itulah, ayah dan ibumu membawamu ke sini dan Emelie yang sakit-sakitan dirawat oleh mereka agar lebih mudah ditangani jika memerlukan perawatan intensif,” ujar sang bibi. “Tapi apa hubungannya dengan kalian yang bisa melihat Emelie?” Emma masih belum mengerti. “Kami kembali menemui dukun itu dan meminta cara agar bisa melihat siapa arwah yang datang ke rumah ini.” Kali ini sang paman yang bicara. “Beberapa waktu setelah kedatangan Emelie, Chloei bertingkah aneh. Kami pikir itu mungkin karena ia rindu padamu. Tapi Chloei menunjukkan sikap garang setiap kali ia bertingkah seperti sedang berhadapan dengan seseorang. Hingga akhirnya kami menyadari kalau kalian tertukar setelah kami berhasil melihat arwah Emelie.” Chloei yang masuk ke dalam kamar Emma langsung loncat ke atas kasur dan naik ke atas pangkuan. “Kamu merindukanku?” Chloei mendengkur setelah mencari posisi nyaman untuk memejamkan mata. “Dasar kucing manja!” desis Emelie sebal lalu mundur ke belakang bibinya ketika kucing hitam besar itu bangun dan menatapnya dengan penuh permusuhan. Suasana yang semula sendu berubah menjadi lucu karena melihat hubungan antara Emelie dan Chloei yang tidak pernah bisa akur. “Aku ke sini untuk menjemputmu. Ayo pulang! Aku kesepian di rumah ayah dan ibu.” Emma akhirnya bicara. “Tidak. Aku lebih suka di sini. Bukankah kamu sendiri yang menyuruhku pergi dan tidak mengganggumu lagi?” Emma kembali merasa bersalah. “Bukan begitu maksudku, Emelie. Aku minta maaf. Saat itu aku sedang kesal karena kamu terus memaksaku.” “Aku tidak peduli. Tidak apa aku jadi arwah penasaran. Aku akan tinggal di sini menemani nenek, paman, bibi dan juga…” Emelie menatap horor pada Chloei yang entah kenapa setiap ia menatapnya, kucing itu selalu tahu. Chloei yang semula tertidur di pangkuan Emma langsung bangun. “Kau harus belajar menerimaku kucing hitam jelek.” “Roarrrr!” Chloei memberi respon galak dan membuat Emelie kembali bersembunyi di belakang sang bibi. “Kau tidak boleh menjahatinya, Chloei.” “Dengarkan kata-katanya kucing jelek!” “Roarrr!” “Sudah Emelie. Kau bisa dikejar seharian olehnya nanti.” “Aku tidak peduli. Dia memang kucing jelek, Bibi.” Dan kali ini Chloei benar-benar mengejar Emelie. Emma tertawa dan membiarkan sang kembaran dan kucing kesayangannya ‘bermain’. “Kenapa wajah nenek sedih seperti itu?” Sang nenek rindu dengan anak dan menantunya yang sejak kematian salah satu putri mereka tidak pernah lagi datang mengunjunginya. “Bagaimana kabar ayah dan ibumu? Apa kamu tahu kenapa mereka tidak pernah lagi datang ke sini?” Emma menggelengkan kepalanya lalu meraih jemari tua yang masih giat bekerja itu. “Nenek pasti merindukan mereka. Aku juga tidak tahu kenapa mereka tidak mengunjungimu lagi. Aku pernah mengajak mereka ke sini. Mereka bilang belum sempat karena kesibukan.” “Tidak apa. Mungkin pekerjaan ayah dan ibumu memang sedang banyak.” Mereka masih berkomunikasi. Tapi intensitasnya masih bisa dihitung dengan jari. “Mungkin mereka sedang berusaha memulihkan perasaan mereka sebelum menemui kami.” “Bibimu benar. Mereka mungkin tidak ingin melihatku cemas karena kondisi mereka yang buruk setelah kehilangan anaknya.” Sang nenek meraih tangan Emma dan mengusap-usapnya lembut. “Ibu mana yang rela dipisahkan dengan anaknya. Tapi ia rela berpisah denganmu demi membuat kalian berdua tetap hidup. Karena itu, kematian yang mereka kira menyebabkan dirimu tiada, mungkin membuat mereka merasa semakin bersalah dan belum sanggup datang ke sini.” Emma hanya mengangguki meski yang ia rasakan kedua orangtuanya justru seperti tidak menginginkan kehadirannya. Emma tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Namun sedikit banyak perasaan itu membuatnya ingin mencari masa lalu mereka. Tapi kini ia harus membawa Emelie pulang terlebih dulu. Karena hanya Emelie yang bisa membantunya untuk tetap bertahan hidup bersama kedua orangtuanya. Suara perut Emma terdengar keroncongan. Nenek dan bibi menatap perut Emma lalu wajahnya bergantian. Gadis itu cengengesan karena malu. “Kau pasti lapar sampai pingsan. Akan kubuatkan makanan kesukaanmu dulu, ya.” Bibinya kemudian berlalu sementara sang nenek yang terlihat masih sangat rindu padanya kembali membelai-belai rambutnya. “Apa kau akan bermalam di sini?” “Aku ingin tidur denganmu, Nek. Aku juga sangat merindukanmu.” “Aku juga. Oh cucuku yang malang. Mengapa semua ini harus terjadi pada kalian.” “Jangan menangis.” Mereka berpelukan. Di bawah tatapan Emelie yang diam-diam memperhatikan tanpa ingin dilihat. Emelie pergi ke dapur untuk menemani bibinya memasak meski yang ia lakukan justru terus menghindari Chloei yang tak henti memburunya. “Lakukan saja sampai kau lelah. Sampai kau jadi arawah sepertiku, jangan harap kau bisa menyentuhku,” desis Emelie berani meski ia masih menjenggit kaget setiap kali Chloei memberikan tatapan permusuhan dan suara yang mengancam. “Emelie, panggilkan nenek dan saudaramu.” Gadis itu mengangguk, diikuti Chloei yang terus mencoba mencakar-cakarnya dan gagal karena tak sedikitpun ia bisa menyentuh musuhnya itu. Mereka duduk bersama di meja makan. Emma memperhatikan Emelie yang membaui semua aroma masakan yang dibuat bibinya. Emelie mendekat ke arah Emma yang sedang memangku Chloei dan membaui makanan kesukaannya. “Ini–“ “Roarrr!” “Awww!” “Chloei!” Emma terkejut karena kali ini Chloie bisa menyentuh Emelie hingga membuatnya terluka. “Kenapa dia bisa menyentuhku? Ini aneh.” Emelie menjauh dan menghindar ketika Chloei loncat dan berusaha meraihnya. Namun yang terjadi berikutnya kucing itu malah membentur kitchen set yang berada di belakang Emelie. Semuanya dibuat kaget dengan kejadian lucu sekaligus mengenaskan itu. Chloei tampak pusing lalu berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sedang Emelie tertawa puas karena melihat musuhnya malu sekaligus kesakitan. “Rasakan kau kucing jelek!” Emma berpikir sejenak lalu mendekat ke arah Emelie seraya menyentuhnya. Emelie yang merasakan sesuatu pada dirinya menoleh dan terkejut ketika mendapati tangan Emma ada di bahunya. “Kau…” “Aku bisa menyentuhmu. Ada apa ini? Kenapa sekarang kita bisa bersentuhan.” Emelie mencoba merasuki tubuh Emma, namun yang terjadi berikutnya mereka saling bertabrakan dan terhuyung beberapa langkah ke belakang. “Kenapa aku tidak bisa masuk ke dalam tubuhmu lagi?” “Aku juga tidak tahu Emelie. Ini aneh.” “Ada apa ini?” Bibi dan Paman yang baru datang bertanya heran. “Bibi, bisa kau mendekat padaku?” tanya Emma hati-hati. Agatha lantas menghampiri keponakannya yang mengulur tangan. “Coba bibi sentuh Emelie?” Agatha mengerutkan wajah namun tetap melakukan apa yang diperintahkan Emma. Dan kini, keterkejutan itu dirasakannya juga. “Aku…” Emma mengangguk lalu bergantian meminta paman dan neneknya melakukan hal serupa. “Ini sungguh ajaib, Emelie. Akhirnya bibi bisa memelukmu.” “Iya, Bi. Aku juga senang kita bisa besentuhan sekarang.” Sang nenek terlihat sangat bahagia karena bisa memeluk cucu kembarnya bersama-sama meski Emelie terasa dingin di kulitnya. Chloei juga mendongak dan menatap Emma seolah meminta giliran untuk diperlakukan sama. Namun Emma menggeleng keras sambil berkata, “Aku tidak mau kamu menyakitinya.” “Meoww!” “Tidak.” “Meoww!” “Tidak, Chloei. Sampai kau mau berteman dan memperlakukan Emelie dengan baik.” Emelie menjulurkan lidah dengan bangga seraya mengejek Chloei yang memelas dengan eokannya sementara yang lain tertawa-tawa sambil menikmati makan siang mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN