Help Me 8 - Menghilang

1506 Kata
Di tengah kebahagiaan mereka yang akhirnya bisa bersentuhan dengan Emelie, Emma medapatkan telepon dari ibunya. Gadis itu menyingkir agar pembicaraannya tidak didengar terutama Emelie. "Kamu sedang ada di mana?” “Aku sedang di luar. Ada apa?” Emma enggan mengatakan keberadaan pastinya. Ia sudah bisa menebak kalau ibunya itu pasti akan memaksanya pulang jika tahu ia sedang di rumah neneknya. “Jangan lupa. Malam ini kita akan bertemu dengan keluarga Lemar.” “Sepertinya tidak bisa. Aku ada urusan.” “Urusan apa?” “Aku sedang bersama temanku. Dia baru datang dari Inggris.” Emma mencari-cari alasan yang bisa membatalkan pertemuannya malam ini dengan keluarga dari pria yang akan dijodohkan dengannya. “Tapi makan malam ini tidak bisa dibatalkan, Emelie. Kamu bisa menemani temanmu itu nanti. Lemar akan sangat sedih jika kamu membatalkan makan malam ini lagi.” “Tapi–“ “Ayah dan ibu akan menunggumu. Pulang tepat waktu, ya. Aku sudah siapkan gaun cantik.” Emma mendesah frustasi usai sambungan telepon itu berakhir. Namun begitu berbalik, Emma dibuat terkejut ketika melihat Emelie berada tepat di belakangnya. Entah sejak kapan gadis itu ada di sana dan apa saja yang sudah ia dengar meski Emma tidak menyinggung soal Lemar dan acara makan malam itu. Yang Emma tidak tahu, Emelie rupanya bisa mendengar semua percakapan ia dan ibunya dengan jelas meski dalam keadaan normal hanya ucapan Emma lah yang seharusnya bisa di dengar saja oleh Emelie. Mereka saling tatap tanpa kata untuk beberapa jenak sampai sang bibi memanggil keduanya kembali. “Aku ingin tidur siang. Aku ke kamarku dulu.” Emelie terlihat menghindar. “Kalian bertengkar?” tanya nenek mereka dan dibalas Emma dengan gelengan. “Mungkin suasana hatinya sedang buruk. Bukankah dia ingin pergi ke taman hiburan?” sahut bibinya. “Iya. Aku sampai lupa. Untung saja kau mengingatkanku, Agatha.” “Bagaimana kalau akhir pekan ini kita ajak Emelie ke kota? Aku juga harus membeli beberap onderdil untuk traktor kita, Bu. Sudah waktunya diganti.” Sang paman memberi ide. “Ide bagus, Sayang. Emelie pasti senang mendengarnya. Kau juga akan ikut ‘kan Emma?” Emma mengerjap dari lamunanya. “Iya?” “Akhir pekan ini kami akan ke kota dan mengajak Emelie ke taman hiburan. Kamu juga akan ikut ‘kan?” Emma terdiam untuk beberapa jenak. “Memangnya tidak masalah?” Mereka bertukar tatapan. “Kenapa kamu bertanya begitu?” “Bukankah Emelie tidak boleh kelelahan? Jantungnya nanti…” Kalimat Emma menggantung begitu melihat rekasi keluarganya. “Ah, aku lupa.” Tawa pun terdengar ringan. “Kalian pasti masih merasa asing dengan kondisi sekarang ini.” Emma mengangguki ucapan sang bibi. “Tidak masalah. Kalian masih bisa bersama meski kita tidak tahu sampai kapan Emelie akan terus bersama kita.” Nenek mendesah berat. “Apa sebaiknya kita kembali menemui dukun itu lagi, Bu?” ucap sang bibi. “Apa aku boleh ikut?” Emma tiba-tiba menyahut cepat, membuat tatapan semua orang tertuju padanya. “Aku juga ingin tahu kenapa kami bisa bertukar tubuh seperti ini? Dan… sebetulnya...” Semua orang menunggu apa yang akan dikatakan Emma. Namun gadis itu memilih untuk tak melanjutkan apa yang sebenarnya ingin ia katakan. “Sebetulnya apa, Emma?” “Tidak ada. Aku hanya ingin tahu, apakah kami bisa bertukar lagi atau tidak?” “Tapi itu artinya–“ “Tidak masalah, Nek. Ini bukan tubuhku. Jadi sudah seharusnya Emelie lah yang hidup di dalamnya.” “Emma…” Sang nenek menatapnya nanar. “Tidak apa, Nek. Aku tidak sedih.” Emma tersenyum tegar. Namun semua orang tahu gadis itu terlihat frustasi. Dan apa yang dikatakannya bisa jadi adalah salah satu hal yang membuatnya frustasi. “Kalau begitu, beristirahatlah di kamarmu. Akan kubangunkan jika sudah petang.” “Tolong bangunkan aku sebelum senja. Aku rindu melihat matahari terbenam di dekat danau sini.” Emma beranjak menuju kamarnya. Tampak Emelie sudah berbaring di tempat tidur yang sebetulnya hanya bisa ditempati satu orang saja. Emma pun mengurungkan niatnya dan menutup pintu ketika Emelie memanggilnya. “Kau mau tidur? Masuklah. Aku akan jalan-jalan saja,” katanya tanpa menatap Emma. “Emelie. Aku sungguh tidak ingin–“ “Aku tahu. Maafkan aku sudah berburuk sangka padamu.” “Emelie.” “Ini bukan salahmu. Kamu juga tidak bisa menolak karena mereka hanya tahu bahwa kamu adalah aku.” “Tapi aku sungguh tidak ingin bertunangan dengan Lemar. Kau tahu aku tidak menyukainya. Dan–“ Lemar adalah kekasih Emelie yang rencananya akan ditunangkan dengan gadis itu beberapa waktu sebelum kecelakaan terjadi. Pertunangan yang ditunda sudah terlalu lama itu membuat kedua orangtua mereka merencanakannya ulang. “Aku minta maaf, Emma. Tapi bisakah kamu menolongku?” “Apa?” “Gantikan posisiku untuk membahagiakan Lemar. Aku sangat menyayanginya. Jika dia tahu aku sudah menjadi arwah seperti ini, dia pasti akan sedih.” “Aku tidak mau, Emelie!” Emma setengah berteriak, membuat nenek dan bibinya langsung menghampiri. “Ada apa ini?” “Maaf, sepertinya aku tidak bisa menginap di sini. Lain kali aku akan berkunjung lagi. Aku pulang dulu.” “Emma, ada apa?” Emma berjalan menuju pintu dan meninggalkan rumah neneknya. Gadis itu setengah berlari hingga di ujung jalan besar dan sampai di sebuah halte. Sebuah mobil melintas. Pengemudinya bertanya apakah Emma memerlukan tumpangan. Takut Emelie lebih dulu mengejarnya, tanpa pikir Emma masuk ke dalam mobil. Emelie yang berlari mengejarnya terheran karena Emma menghilang dengan cepat. “Ke mana dia?” gumamnya. Beberapa hari lalu terjadi sebuah peristiwa mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa seorang wanita. Emelie takut hal itu terjadi pada Emma meski kembarannya itu pasti sudah hafal seluk beluk desanya. “Emma pasti marah sekali makanya dia pergi begitu saja. Tapi aku takut terjadi sesuatu padanya. Apa aku minta paman menyusulnya saja, ya?” Emelie bergegas kembali ke rumah dan memberitahukan keluarganya. Sementara itu, Emma yang merasa sudah cukup terbantu meminta pengemudi menurunkannya saja. “Tolong turunkan aku di depan sana saja,” tunjuknya ke arah yang diminta. Namun pengemudi itu tidak mau menurunkannya. “Aku akan mengantarmu sampai tujuan. Katakan saja di mana rumahmu.” Emma mulai tak nyaman. Mereka berdebat hingga Emma melawan dan mencoba menghentikan mobil bahkan terkena pukulan. “Hey! Mau ke mana kamu?” “Lepaskan aku!” teriak Emma lalu tanpa pikiran melompat dari mobil meski pria itu berusaha mencegahnya. “Ahhh!” Emma terguling-guling di jalan raya, tubuh menabrak semak-semak. Pengemudi mobil yang ditumpangi Emma menginjak rem hingga tedengar suara decitan nyaring. Dengan perasaan kesal, ia turun dengan mengejar ke arah Emma. Ia membuka bagasi mobil dan mengeluarkan senapan yang dibawa. Emma langsung memaksa tubuhnya bangkit dan lari ke dalam hutan secepat mungkin karena pria tersebut mengejarnya seperti mengejar buruan sambil menodongkan senjata. Meski jago bela diri, Emma tentu saja kalah dari pria yang membawa senjata itu. Ia tak ingin mati dengan cara mengenaskan. “Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?” Emma mencari-cari tasnya dan sial sekali tasnya terjatuh dan lepas darinya saat lompat. “Bodoh!” umpatnya lalu berlari lebih cepat. Padahal kakinya terasa sakit sekali akibat lompat dari mobil. Sejak kecil Emma suka berjalan-jalan di sekitar rumah dan perkebunan milik neneknya. Namun ia tidak hafal dengan tempatnya berada saat ini. Instingnya hanya mengarahkan untuk mencari sumber air yang mengalir. Dengan begitu ia bisa mencari bantuan karena sumber air itu pasti akan mengarah ke pemukiman warga. Sayangnya, kakinya yang sakit membuat langkah Emma tersendat. Apalagi hutan yang ia lewati tidak terlalu lebat. Emma yakin kalau penjahat itu bisa melihatnya. Ia lantas beristirahat sebentar sambil bepikir mencari cara yang efektif untuk terbebas dari penjahat tersebut. Namun baru saja ia menghela napas, suara penjahat itu terdengar dari kejauhan. “Nona! Di mana kamu? Ayo kita pulang. Nonaaaa! Apa kamu mengajakku bermain petak umpat?” “Sial! Pikirkan Emma, Pikirkan!” geramnya pelan lalu menatap ke atas. Tidak mungkin ia menaiki pohon untuk menghindar. Jika ketahuan, pria itu pasti akan menembaknya. Kakinya juga masih sakit dan itu akan semakin membuatnya kesulitan. Apalagi kalau sampai ia jatuh dan semakin terluka. Pohon-pohon itu tidak ada yang berukuran kecil. Semua memiliki tinggi lebih dari dua puluh meter. Emma tidak bisa mengambil resiko. “Ayo Emma. Kamu pasti bisa!” Ditengah usahanya melarikan diri, Emma mendengar suar langkah yang menginjak dedaunan kering. Bergegas ia mempercepat langkahnya tanpa menoleh ke belakang, hanya fokus berlari sambil mencari cara untuk selamat. Namun keberadaannya yang terlihat membuat pria jahat itu melepaskan tembakan dan membuat Emma takut. “Ahhhhh!” Emma terjatuh. Kakinya tersandur akar pohon besar dan hal itu membuatnya kesulitan bangun. Dari jarak yang tidak jauh, Emma bisa melihat pria itu juga melihat ke arahnya dengan seringai kemenangan. Emma sungguh ketakutan tapi dia masih bisa berpikir untuk melarikan diri. Tiba-tiba saja dari arah yang tak terduga, Emma mendengar suara dedaunan kering yang terinjak namun dengan gerakan yang lebih cepat. Seperti orang yang berlari. Pria jahat yang sedang berjalan menuju ke arah Emma pun mendengar hal yang sama. Ia menoleh ke sana ke mari, mencari-cari siapa yang ada di antara mereka. “Hey! Siapa kamu?!” teriaknya si penjahat ketika sebuah bayangan melesat dan membuatnya panik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN