Sudah terhitung hampir dua bulan sejak Alea menyatakan yang sebenarnya perihal menunda momongan kepada Jonathan. Alea pikir, setelah hal itu terjadi, kehidupan rumah tangganya akan mengalami perubahan. Sikap Jonathan akan berubah canggung atau setidaknya akan ada sedikit jarak yang tidak dilihat oleh keduanya. Tapi hal itu nyatanya tidak terjadi, tidak ada jarak yang menghalangi keduanya, malah semakin erat menempel. Jonathan memperlakukan Alea jauh lebih baik lagi meskipun selama ini sudah terbaik. Alea benar-benar merasa sangat di cintai dan begitu bersyukur karena itu. "mau sarapan apa?" Alea mengusap pipi Jonathan dengan lembut, kedunya masih betah bergelung di atas tempat tidur. "mau sarapan kamu" serak Jonathan dengan mata yang masih terpejam. Alea mencebik, jawaban Jonathan tida

