Evellyn Aprilia
Pada suatu malam, Evellyn yang pada saat itu sedang pergi bersama kedua temannya yang bernama Renata dan Putri ke sebuah sanggar Karate untuk menonton sebuah pertandingan.
Namun ntah apa yang terjadi sampai Evellyn terpisah dari kedua temannya saat sebuah rombongan orang-orang yang berpakaian hitam-merah mulai berdekatan dengannya. Evellyn yang merasa tidak nyaman sedikit demi sedikit mulai berjalan mundur dan berusaha kabur saat perasaannya tiba-tiba menjadi gelisah.
Dan ternyata orang-orang berseragam hitam-merah itu memiliki niat buruk kepada Evellyn. Dengan sekuat tenaga Evellyn berusaha berlari dan menyalip beberapa pejalan kaki.
Dan dengan tenaga yang tersisa Evellyn terus berlari menghindari kejaran orang-orang itu dan bersembunyi di dalam sebuah mobil yang kebetulan terpakir di pinggir jalan yang sepi dan mobil tersebut terlihat dijaga oleh beberapa orang yang terlihat seperti pengawal yang berarti orang yang berada di dalam mobil tersebut adalah orang penting tanpa permisi.
Evellyn begitu terkejut karena di dalam mobil tersebut terlihat seorang pria dewasa dengan vitur wajah yang tajam hingga membuatnya tampak arogan yang seperti menahan sebuah gejolak dari dalam tubuhnya.
Pria itu juga terlihat terkejut saat melihat seorang wanita cantik masuk ke dalam mobilnya tanpa permisi dengan nafas terengah-engah dan berkeringat yang bercucuran.
"Siapa kau?" tanya pria itu dengan nafas tersengal menahan sebuah hasrat yang sangat kuat dengan sekuat tenaga.
"Saya mohon, Tolong selamatkan saya Pak. Mereka ingin membunuh saya," jawab Evellyn dengan suara berbisik.
Pria itu menatap Evellyn dengan tatapan memangsa dan juga membunuh secara bersamaan hingga membuat Evellyn merasa terintimidasi dan berniat kabur. Dan pria itu bernama Abizar Prayoga.
Sebelum Evellyn berhasil keluar dari sana, Abizar lebih dulu menahan tangan Evellyn saat rombongan tersebut melewati mobilnya dan membiarkan Evellyn tetap aman berada di dalam pelukannya.
Di saat yang bersamaan orang-orang yang mengejar Evellyn tampak curiga dengan mobil pria tersebut dan ingin memeriksanya walaupun penjaga sudah melarangnya.
"Siapa orang yang berada di dalam sana?" tanya seorang dari mereka menunjuk ke arah mobil pria itu.
"Orang itu adalah Bos kami dan ia sedang tidak enak badan, tolong kalian jangan mengganggu dengan membuat keributan. Silakan pergi!" ujar salah satu penjaga mencoba menjelaskan.
Bukannya pergi, mereka malah mendekati mobil tersebut dan hendak melihat hal yang membuat mereka sangat penasaran dan juga curiga.
Pasalnya setelah mengelilingi tempat tersebut mereka tidak bisa menemukan jejak Evellyn dan kebetulan di tempat sepi tersebut terparkir mobil milik pria itu. Itu merupakan hal yang aneh bagi mereka.
Mereka perlahan berjalan mendekati kursi penumpang bagian belakang dengan perlahan.
Penjaga atau pengawal tidak berani melarang mereka karena mereka kalah jumlah jika mereka harus menggunakan kekerasan untuk mengusir mereka. Tidak hanya itu, Bos mereka yang sedang berusaha menenangkan diri tersebut pasti akan sangat murka jika mendengar suara keributan.
Dan saat mereka mengintip dari kaca jendela mobil mereka sedikit terkejut melihat sepasang manusia di dalam sana sedang berciuman tanpa merasa malu dan melupakan kecurigaan mereka bahwa Evellyn bersembunyi di sana. Mereka dengan sendirinya pergi membawa kekecewaan karena tidak bisa menemukan Evellyn.
Flashback On...
Beberapa saat setelah orang-orang yang mengejar Evellyn berjalan mendekati mobil dan Evellyn yang melihat mereka sudah semakin dekat menjadi bertambah panik dan kebingungan hendak mencari tempat untuk bersembunyi. Namun pria yang melihat Evellyn begitu ketakutan menjadi tidak tega dan ikut membantunya dengan memposisikan dirinya dan juga Evellyn seperti orang yang sedang berciuman.
Awalnya Evellyn sangat kaget pada gerak-gerik pria tersebut. Namun Evellyn mencoba tetap tenang agar tidak mengundang perhatian mereka.
Flashback Off...
Setelah mendengar langkah kaki serentak yang mulai menjauh, Evellyn menjauhkan tubuhnya dari wajah pria tersebut dengan canggung.
Sampai saat ini Evellyn belum mengetahui tentang identitas pria tersebut, dia meraih ponselnya dan hendak menghubungi seseorang untuk menjemputnya.
Dan pria tersebut tanpa mengucap satu kata pun terus saja memerhatikan gerak-gerik Evellyn sambil sesekali meringis.
Dan dari sejak saat itu, pria tampan dengan wajah dingin nan arogant itu sepertinya mulai tertarik pada Evellyn saat Abizar hendak membantunya.
Setelah berhasil diselamatkan, Evellyn mengucapkan banyak terimakasih pada pria yang tidakk ia kenal itu dan mengatakan jika Evellyn akan membalas kebaikan pria tersebut dan tak lupa Evellyn memberikan kartu namanya.
Setelah merasa suasana cukup aman, Evellyn berpamitan untuk kembali pulang walau sebenarnya Abizar berniat ingin mengantarkan Evellyn namun Evellyn menolaknya.
"Maaf telah merepotkan Anda, dan Saya sangat berterimakasih pada Anda," ujar Evellyn dengan sopan sambil salah satu tangannya memegang ponsel dan tangan lainnya memegang pintu mobil hendak melangkah keluar.
"Dimana rumahmu? Ini sudah malam, biar saya antar saja. Kamu seorang gadis, tidak baik jalan sendirian di tempat seperti ini. Lagi pula bagaimana jika mereka belum benar-benar pergi?" Ujar Abizar menawarkan bantuan.
"Tidak apa-apa, saya bisa. Terimakasih banyak," balas Evellyn.
Dengan berat hati Abizar terpaksa membiarkan wanita cantik yang baru saja ia kenal ini yang telah mencuri perhatiannya pulang tanpa dirinya.
Para penjaga merasa terkejut begitu membuka pintu mobil Bos mereka dan melihat seorang gadis cantik masuk ke dalam mobil tanpa sepengetahuan mereka yang mereka ketahui bahwa Bos mereka itu sedang berjuang menahan hasratnya saat ini yang disebabkan oleh Chelsea, mantan kekasih Abizar. Namun mereka juga tidak berani menanyakan apa yang sedang terjadi kepada Abizar.
"Tidak apa-apa, Pak. Teman-teman saya sudah menunggu saya di depan jalan ini. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih kepada anda. Lain kali saya akan membantu anda jika anda membutuhkan bantuan saya." Ujar Evellyn berlari setelah sebelumnya memberikan kartu
Tapi Abizar terlihat baik-baik saja setelah Evellyn keluar dari mobil dan menelfon teman-temannya. Abizar melihat kartu nama milik Evellyn secara sekilas dan menyimpannya.
Pria tersebut melirik kepada para penjaga dan pengawalnya yang secara serentak terus memerhatikan Evellyn berlari ke arah depan dengan tatapan tidak suka.
"Hmm," pria tersebut sengaja berdehem untuk menegur perbuatan anak buahnya.
Para penjaga yang menyadari teguran Abizar menjadi merasa tidak enak dan panik.
"Bagaimana keadaan Anda, Tuan ? Apa sudah baikan? Apa perlu kami membawa Anda kerumah sakit?" Tanya salah satu pengawal.
"Tidak, cukup bawa saya ke Mansion Utama," singkat pria tersebut.
Di Mansion Utama...
Abizar tinggal hanya dengan Mama dan para pelayan pilihannya yang telah di uji secara rapat dan tertutup olehnya dan sesuai dengan standar nya.
Para pengawal membantu Abizar yang sedang merasa tidak enak badan ke kamarnya untuk beristirahat.
Mama Abizar yang seorang sosialita level platinum itu jarang sekali berada di rumahnya karena ia terus saja sibuk dengan usaha briliant nya dan jarang memerhatikan Abizar sang putra tunggal.
Sedang ayah Abizar telah meninggal dunia sewaktu Abizar masih sangat kecil sehingga membuat Abizar terpaksa bekerja keras dari usianya yang sangat muda sehingga kehilangan masa-masa bermainnya.