Akibat Ulah Evellyn

1021 Kata
Setelah dua orang pengawal membawa Abizar ke kamarnya, mereka pun segera keluar dari sana untuk mengurus hal lain. Salah satunya dengan mengabarkan atau melaporkan apa yang sedang di alami Abizar oleh Asisten pribadinya dan juga salah satu sahabatnya yang paling mengenalnya, Kiky. Sedang di tempat lain, Evellyn akhirnya bertemu dengan teman-temannya dan segera pergi dari sana menuju Caffe langganan mereka dengan menggunakan 1 mobil yang di dalamnya ternyata sudah berisikan 5 orang. 3 di antara mereka adalah laki-laki sedang 2 lainnya adalah seorang wanita. Namun Tiara tak mempermasalahkannya dan pergi bersama mereka. Selama di perjalanan, Evellyn di introgasi oleh ke lima teman-temannya tanpa jeda sehingga membuat Evellyn jengkel dan malah membentak mereka. "Kalian bisa diam tidak sih? Aku tuh capek! Bukannya menghibur ini malah nanya mulu. Kalian tau gak kalau kalian itu lebih cocok jadi wartawan atau reporter," ujar Evellyn menggerutu sebal. "Bukan gitu Lyn, kami seperti ini karena kami khawatir sama kamu." Jawab Renata. "Oke, sorry. Sepertinya aku sedikit terbawa suasana karena kepanikanku tadi. But, thank you guys." Ujar Evellyn setelah menyadarkan pikirannya. "Oke Lyn, gak masalah," jawab yang lain. "Sekarang kita mau kemana?" Tanya Revan yang saat ini sedang menyetir. "Tempat biasa aja," jawab Evellyn singkat. "Tapi Lyn, kamu gak apa-apa, ‘kan? Ada yang luka ga?" tanya Renata karena teman mereka yang satu sudah tertidur karena memang ia sangat suka tidur. "Enggak, santai aja." singkat Evellyn menyalakan ponselnya untuk mengabari David, teman dan sekaligus pelatih Karate mereka yang bertanggung jawab atas insiden ini. "Terus Lyn, kok bisa sih kamu selamat? Maksut aku, bagaimana cara kamu selamat dari mereka yang jumlahnya segitu banyak sedangkan kamu sendirian?" Tanya Renata lagi karena sangat penasaran. "Ren, please deh. Kamu bisa diem gak sih? Bentar aja," ujar Evellyn yang lelah meladeni segudang pertanyaan Renata yang jika ia terus menjawabnya, maka temannya yang satu ini akan terus bertanya tanpa henti. Saat sudah mau sampai di lokasi yang mereka sepakati tiba-tiba teman wanita mereka yang sangat suka tidur itu pun terbangun dan melihat kesekelilingnya tanpa bersalah dan hanya memasang wajah polosnya. Dia lah Putri, teman Evellyn yang sangat suka tidur sehingga di juluki sebagai Putri Tidur oleh semua member sanggar Karate. "Uhhmm, uda sampe ya?" tanya Putri sembari menguap dan merenggangkan badannya tanpa rasa malu ataupun canggung di hadapan teman-temannya. Evellyn yang sebal dengan tingkah Putri yang tidak mencerminkan sikap Putri itu pun akhirnya meninggalkannya sendirian di mobil saat yang lain telah keluar lebih dulu. "Eh Lyn, tungguin aku dong. Kamu tega banget sih ninggalin aku sendirian disini,” ujar Putri menggerutu. Di dalam ruangan ternyata David sang pelatih dan senior mereka telah menunggu mereka cukup lama. David tidak ikut menjemput Evellyn dikarenakan David harus mengurus anggota sanggar yang lain. "Oke semuanya. Silahkan masuk dan duduk di tempat kalian. Kalian tau kenapa kalian Saya kumpulkan disini?" Ujar David, leader mode on. Bukannya menjawab, mereka malah saling melempar pandangan tak tentu arah untuk mencari tau apa yang sebenarnya ingin mereka bahas. Tidak dengan Evellyn yang malah santai dengan kopi di tangannya. "Kalian tau siapa yang mengejar Evellyn dan apa sebabnya?" Sambung David dengan pertanyaan lagi memasang wajah serius. "Tidak Kak," jawab yang lain serentak. Jika dalam pertemuan formal mereka akan memanggil David dengan sebutan Kakak (pelatih) dan di luar itu mereka boleh memanggilnya dengan nama dan bercanda dengannya. Tidakkah kalian salut dengan etika mereka? Walau mereka adalah teman, namun dalam satu keadaan tertentu mereka juga harus profesional agar dapat menjalankan sanggar dengan seimbang. "Maaf," jawab Evellyn dengan wajah datar dan dinginnya. "Evellyn, ini peringatan awal dan terakhir buat kamu karena setelah ini aku berharap kalian semua memahami dengan apa yang aku katakan. Aku sudah pernah mengatakan untuk jangan menyinggung sanggar atau fakultas lawan dengan sengaja atau pun tidak apapun yang terjadi . Karena dampaknya akan sangat mengerikan. Kali ini Evellyn bisa selamat dan itu hanya keberuntungannya. Bagaimana jika hal ini terjadi pada kalian? Kalian tau akibatnya bukan?" Jelas David dengan tegas. Evellyn dan teman-temannya hanya bisa tertunduk malu karena merasa bersalah tanpa membantah sedikitpun. "Jadi, apa kalian sudah menyadari kesalahan kalian? Kalian sudah paham dengan yang aku katakan?" Tanya David memijit pangkal hidungnya karena merasa lelah. "Paham Kak, maaf." Hanya kata itu yang mampu mereka katakan pada David sekarang ini karena apa yang di katakannya adalah hal yang benar. “Sekarang kalian pulang dan jangan keluyuran. Kabarkan padaku jika kalian sudah berada dirumah. Untukmu Evellyn, aku akan mengantarmu. Aku takut kalau mereka masih mengincarmu, jadi aku akan mengantarmu agar tetap aman," jelas David memberi perintah dan membubarkan pertemuan mereka. Dirumah Evellyn. Seperti biasa Evellyn tinggal di rumah hanya berdua dengan seorang pembantunya karena Mamanya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Evellyn tidak perduli pada hal itu karena ia sudah terbiasa hidup tanpa seorang ibu yang mendampinginya. Bik Sumi membukakan pintu untuk Evellyn dengan sedikit berlari saat Evellyn memencet bel rumahnya. "Maaf Non, Bibi baru dari belakang tadi," ujar Bik Sumi masih terengah-engah. "Gak apa-apa, Bik. Makasih ya, Bibik kembali aja ke belakang," ujar Evellyn menutup pintu dan berlalu ke kamarnya yang berada di lantai 2. "Non Evellyn uda makan?" Tanya Bik Sumi yang perhatian seperti biasa dan Evellyn senang akan hal itu karena Mama nya sangat jarang berada di rumah apalagi memperhatikannya. "Sudah Bik. Bibik istirahatlah, jangan bergadang." ujar Evellyn. Bik Sumi merasa kasihan dengan Evellyn karena sedari Evellyn kecil , dia sudah sering di tinggal oleh Ibunya apalagi Ayahnya yang sejak berpisah telah menikah lagi dan kini mereka hidup bahagia. Entah apa alasan kenapa orang tuanya berpisah, Evellyn tidak bisa memahami hal itu sampai sekarang dan saat ini Evellyn sudah tidak perduli lagi dengan alasan mereka. Baginya tidak ada cinta sejati di dunia dan semua hal di atur oleh uang. Begitu masuk kedalam kamarnya, Evellyn langsung saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat nyaman setelah sebelumnya menutup pintu terlebih dahulu. tanpa mengganti pakaian dan membersihkan diri, Evellyn memejamkan mata nya yang sedikit lelah sambil memikirkan hal yang baru saja terjadi padanya beberapa waktu lalu tanpa berniat menceritakannya kepada siapa pun. Beberapa saat setelah Evellyn baru saja tertidur, bertepatan dengan Luziana sang Mama yang baru saja pulang. Begitu tiba di rumah, Luziana langsung bergegas menuju kamar Evellyn, putri kecilnya yang sangat ia sayangi itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN