Bertemu Kembali

1004 Kata
Di sebuah jalanan yang sepi dan gelap terlihat beberapa rombongan orang dengan seragam yang memiliki simbol yang berbeda dengan sabuk sebagai pelengkapnya. Kali ini mereka taruhan untuk sebuah motor sport sebagai hadiah. Dan kali ini yang harus bertarung adalah Aldo dan Dimas. Mereka juga menyewa juri dan wasit untuk menilai pertarungan mereka. Semua orang saling bersorak untuk menyemangati orang pilihan mereka dan hasil akhir pertarungan ini dimenangkan oleh Evellyn dan teman-teman. Dan sesuai kesepakatan, yang kalah harus bersujud di bawah kaki mereka dan dengan terpaksa orang-orang sanggar Teratai terpaksa melakukannya dan menjatuhkan harga diri mereka. Sedikit keterlaluan memang, tapi ini adalah kesepakatan yang tak dapat di ganggu gugat oleh pihak manapun. Mau tak mau mereka yang kalah harus menerimanya tanpa bisa berkata apa-apa. Ini adalah momen balas dendam terbaik yang telah Evellyn sebutkan dan targetkan sebelumnya. Senang dan juga bangga mereka rasakan (Evellyn dan teman-teman) dalam satu waktu. Mereka berlari mendekat kearah Aldo dan memeluknya sebagai ucapan selamat, dan pada saat itu pula Polisi Patroli datang dengan suara sirine yang memekakkan telinga. Diantara Polisi itu ada yang menggunakan mobil Patroli dan ada juga yang memakai motor. Tanpa berfikir panjang mereka semua berhamburan tak tentu arah untuk mengecoh para Polisi yang bertugas. Tak terkecuali dengan Evellyn yang saat itu menggunakan sepeda motor bersama 2 geng ceweknya. Sialnya saat Evellyn hendak kabur, terlihat seorang polisi dengan sepeda motornya mengejar Evellyn hingga peristiwa kejar-kejaran pun tak terelakkan. Evellyn melaju dengan kecepatan maksimal dan menyalip kendaraan yang berada di depannya dengan sangat lincah. Jika orang lain melihatnya mungkin tidak akan menyangka bahwa pengendara motor yang ugal-ugalan itu adalah seorang wanita dan terlebih Evellyn adalah seorang Mahasiswi atau mantan Mahasiswi fakultas hukum karna saat berada di kawasan ramai Evellyn akan berpakaian hitam dan tertutup serta helm yang selalu menempel di kepalanya untuk menyembunyikan identitasnya. Maka dari itu, Evellyn di kagumi oleh banyak pria yang juga berasal dari Club motor ataupun sanggar bela diri lainnya. Evellyn juga sering menolak mereka secara terang-terangan dan membuat mereka semakin penasaran dengan pribadi Evellyn. Dengan lincah Evellyn mengelabui polisi yang mengejarnya saat Evellyn membelokkan motornya kearah jalanan yang menuju sebuah Mansion mewah milik CEO terkemuka di kawasan Asia tersebut dan bersembunyi untuk sementara disana. Sialnya saat Evellyn hendak kabur saat berhasil mengelabuhi polisi itu, Evellyn hendak memutar arah dan menabrak sebuah mobil yang baru saja berhenti. Dan Evellyn yang terjatuh langsung berdiri dan menegakkan posisi motornya yang berharga. Kemudian turun seorang supir dari kursi kemudi dan menghapiri Evellyn. "Anda tidak apa-apa?" tanya supir itu yang bingung harus memanggil Evellyn Tuan atau Nona, karena Evellyn belum juga melepaskan helmnya yang pada malam itu Evellyn menggunakan pakaian trening. "Saya tidak apa-apa Pak," jawab Evellyn yang baru melepaskan helmnya. Supir itu melotot tercengang saat melihat wajah imut Evellyn yang mengendarai sebuah motor matic yang telah dirombak, tidak seperti wanita yang biasannya ia lihat adalah wanita feminim namun Evellyn terlihat sangat sexi. Keheningan melanda saat Evellyn dan Supir tersebut terpaku dan saling memandang walau dengan pikiran berbeda untuk beberapa saat. Namun setelah seorang pria keluar dari kursi penumpang suasana menjadi lebih dingin dan mencekam. Fokus supir tersebut beralih pada pria yang baru saja keluar dari mobil tersebut yang dapat di pastikan adalah bosnya. "Hmm," pria tersebut berdehem sebagai kode dan Evellyn yang paham langsung melihat ke arahnya. Evellyn terkejut, ternyata pria tersebut adalah pria yang sama dengan pria yang waktu itu menolongnya. Ekspresi Evellyn yang tadi nya dingin dan datar kini berubah menjadi sedikit hangat namun canggung. Pria tersebut yang ternyata sudah menyelidiki latar belakang Evellyn memanfaatkan kesempatan ini. "Halo Nona, anda masih ingat dengan saya? Nama saya Abizar," tanya Abizar dengan ramah sambil mengulurkan tangannya berharap Evellyn menjabat tangannya. "Saya Evellyn, panggil saja dengan nama tanpa Nona," jawab Evellyn menyambut uluran tangan Abizar dengan senyum canggung dan kemudian langsung melepaskannya. "Tentu, saya masih mengingat anda. Dan saya berterimakasih untuk itu. Jika saya memiliki kesempatan, saya juga akan membalas anda." sambung Evellyn berharap Abizar tidak memperpanjang masalahnya. Tapi harapannya harus pupus saat ini karena Abizar malah mengajak Evellyn untuk mampir ke dalam Mansionnya. Dan Evellyn juga tidak punya alasan untuk menolak ajakan Abizar. Evellyn terpelongo begitu melihat Mansion mewah milik Abizar yang terlihat seperti istana. Walau Evellyn juga merupakan orang yang cukup berada, namun rumah Evellyn sangat sederhana dibanding dengan kediaman Abizar. Abizar sengaja mengajak Evellyn untuk mampir ke mansionnya agar Abizar memiliki alasan untuk menahan Evellyn untuk waktu yang lebih lama. Tepatnya agar Evellyn bertemu Rahma, mamanya Abizar yang pasti akan sangat senang melihat Abizar membawa gadis untuk dikenalkan. Benar saja, tak berapa lama Evellyn berada di dalam mansion dan ingin pulang, Rahma keluar dari kamar dan menghampiri Evellyn. Evellyn kebingungan saat menghadapi Rahma karena takut jika Rahma akan salah paham padanya. Sebisa mungkin Evellyn memikirkan cara untuk segera menghilang dari sana. "Halo, selamat malam. Siapa gadis cantik yang kamu bawa ini, nak?" Rahma merasa senang Abizar membawa seorang gadis untuk dikenalkan dengan dirinya untuk pertama kali setelah keterpurukannya saat mantan kekasihnya meninggalkannya. "Ah, halo Tante. Saya Evellyn." Evellyn mencoba bersikap normal dalam menjawab pertanyaan Rahma. "Ayo, silahkan duduk. Santai aja anggap rumah sendiri," ujar Rahma dengan ramah hingga membuat Evellyn semakin tidak nyaman. Terpaksa Evellyn mengikuti langkah kaki Rahma yang membawanya duduk di ruang tamu yang sangat besar dan mewah. Abizar menahan tawanya saat melihat wajah bingung dan tertekan Evellyn yang terlihat menggemaskan. Sedang Evellyn menatap Abizar dengan wajah kesal. Tak lama mereka berbincang dengan suasana canggung, untungnya ponsel Evellyn berdering di waktu yang sangat tepat. Dengan cepat Evellyn meminta ijin kepada Rahma untuk dirinya menjawab telepon yang ternyata berasal dari Aldo yang sudah menunggunya dari beberapa jam yang lalu. Abizar dan Rahma sudah menduga jika pasti Evellyn akan pulang setelah selesai menjawab telpon. Benar saja, setelah Evellyn selesai menjawab telepon, Evellyn berpamitan untuk segera pulang dengan alasan mamanya mencarinya dan memintanya untuk segera pulang. Rahma mempercayai kebohongan yang Evellyn ucapkan karena Evellyn terlihat seperti anak baik-baik. Berbeda dengan Abizar yang sudah mengetahui latar belakang keluarga Evellyn. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah Abizar berhasil untuk lebih dekat dengan Evellyn? Dan apakah Evellyn akan menerima Abizar?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN