Dua tahun kemudian. "Aku mau balik ke kamar! Lepasin, nggak?" ancam Anyelir sambil melebarkan mata. Shakalon menahan lengan Anyelir, menggenggam jemari perempuan itu. "Besok hari minggu. Kenapa buru-buru tidur?" Anyelir mengacak rambutnya sendiri. "Karena aku ngantuk," Wajah perempuan itu memelas. "Aku di sini juga rasanya percuma. Kamu sibuk sama kerjaan doang!" "Aku kerja sambil pegangin tangan kamu, nih." Anyelir memberengut. "Dikira mau nyebrang kali, ah." Shakalon mengulum senyum. Sebelah tangannya yang bebas ia arahkan ke kepala Anyelir lalu mengelusnya. Jangan heran jika Shakalon sering menahan perempuan itu agar tetap di sampingnya. Seringkali sekali Shakalon menculik Anyelir di ruang kerjanya. Keduanya duduk di sofa bersebelahan. Shakalon meletakkan laptop di atas p

