(POV : Renata)
Sepulang nya dari rumah sindy,aku berniat berkunjung ke rumah orang tua ku yang berada di batuhijau dengan jarak yang lumayan jauh yang menempuh perjalanan sekitar 45 menit.aku sengaja mengendarai mobil dengan kecepatan sedang supaya selamat sampai tujuan.
Sesampainya di rumah orangtuaku,aku disambut hangat oleh ayah dan ibu.apalagi sudah hampir satu bulan aku tidak pernah berkunjung ke sini,hanya bertukar kabar melalui sambungan telepon saja karena memang kesibukan mengurus sikembar dan juga bang Nanda tidak pernah ada waktu untuk menemaniku.
Ayah dan ibu sempat terkejut dengan kedatanganku yang tiba tiba,karena memang sebelumnya tidak direncanakan.
Aku langsung menyalami punggung tangan ke dua orang tuaku.kedua anak ku Riko dan Rika sangat senang bila diajak mengunjungi kakek dan neneknya.ayah langsung menggendong kedua anakku masuk ke dalam rumah sedangkan aku dan ibu menyusul di belakangnya.
"Gimana kabarnya nak,kok gak bilang bilang mau ke sini.kalau tau kamu bakalan datang hari ini pasti ibu akan masak makanan kesukaan kamu...,"ujar ibu sambil memelukku.
"Kabar ku baik baik aja Bu,anak anak juga sehat.tadinya memang gak ada rencana mau ke sini.tapi karena lagi suntuk gak ada kerjaan ya udah,aku pulang aja ke rumah ibu sambil mengajak sikembar jalan jalan,"jawabku.
"Suami kamu mana,kok gak nemenin?ibu khawatir kalau kamu nyetir mobil sendiri jauh jauh ke sini...?"tanya ibu.
"Bang Nanda lagi kerja Bu,mana bisa nganterin aku.tapi gak masalah kok aku bisa sendiri.he hee...,"ujarku sambil menggandeng tangan ibu.
"Apapun itu tetaplah hati hati,apalagi saat melewati jalan yang sepi.bukannya apa,khawatir ada penjahat atau pun begal yang mengintai di mana mana.ya sudah,kamu istirahat saja dulu.biar ibu siapkan makanan,"ujar ibu sambil berjalan ke arah dapur.
Begitulah ibu,selalu mengkhawatirkan keadaanku dimana pun aku berada.apa karena aku anak satu satunya jadi perhatian dan kasih sayang ibu dan ayah tercurahkan hanya untuk ku saja.
Sementara itu,Riko dan Rika sedang asyik bermain bersama kakeknya diruang tamu.terlihat sekali jika ayah sangat merindukan cucu cucu nya.
Sesampainya didalam rumah tepatnya diruang tengah,aku langsung merebahkan tubuhku dikarpet depan televisi.rasanya pegal sekali setelah hampir satu jam menyetir mobil sendiri.pikiran ku sedikit merasa tenang dan nyaman jika sudah berada dirumah orang tuaku,rumah masa kecilku dulu.dirumah inilah aku dibesarkan dan menjalani masa masa remaja dan bersekolah.dengan begitu,sedikit banyak masalah rumahtangga ku bisa terlupakan.
Aku tak ingin ayah dan ibu tau apa yang tengah terjadi dengan rumah tangga ku saat ini,karena tak mau mereka kepikiran lalu sedih.biarlah aku pikirkan sendiri jalan keluarnya.aku tau mana yang terbaik buat aku dan juga anak anak.
"Ren,kita makan siang dulu yuk ke belakang.ajak anak anakmu...,"panggil ibu memecahkan lamunanku.
Aku segera bangkit dan duduk sejenak sambil meregangkan otot otot ku yang terasa kaku.
"Iya Bu...,"sahutku.
Aku menghampiri dan mengajak ayah dan juga Riko dan Rika untuk makan bersama ke ruang makan.
Sudah lama tak merasakan masakan ibu,rasanya ingin berkumpul seperti ini setiap hari menemani ayah dan ibu dimasa tuanya.tapi apa daya,aku harus ikut dengan suami yang tinggal jauh, biarpun masih satu kota tapi berbeda kecamatan.
Setelah selesai makan,aku menidurkan kedua anakku didalam kamar karena sudah tampak kelelahan.
Sambil merebahkan tubuh dikasur,aku iseng mengecek ponselku.terlihat tiga pesan dari Sindy yang belum ku buka.aku tak sabar ingin membaca nya.
Pesan pertama sindy mengirimkan sebuah foto yang memperlihatkan bang Nanda sedang berada di kafe dengan seorang wanita.hatiku tetap saja merasa perih melihat pemandangan itu, walaupun aku sudah tau kelakuan suamiku sebenarnya.
Lalu lanjut k*****a pesan kedua.
[Ren,aku sudah menangkap basah Nanda bersama selingkuhan nya.nanda pasrah tak bisa mengelak lagi dariku,dan mereka mengakui hubungan nya yang ternyata sudah menikah siri dan dikaruniai seorang anak.]
[Kamu tenang saja ren.aku sudah minta 50 juta pada Nanda dan aku sudah transfer ke rekening kamu,cek saja]
Selain itu,sindy juga mengirimkan sebuah rekaman percakapan pada saat ia sedang menemui bang Nanda dikafe itu.
Setelah membaca pesan serta mendengarkan rekaman dari Sindy,air mataku luruh begitu saja di pipi.ternyata sudah sejauh itu hubungan mereka sampai mempunyai anak.sebegitu bodoh nya kah diriku hingga tak mengetahui apa yang suamiku lakukan diluar rumah?bahkan wanita itu ternyata adalah mantan pacar bang Nanda.
Apa mungkin bang Nanda sengaja memanfaatkan kesibukan ku mengurus sikembar sehingga aku tidak terlalu fokus dan memberi perhatian lebih kepada dirinya,hingga dengan begitu mudahnya ia membohongi ku dan bermain dibelakang ku.
Ya Tuhan!aku sangat menyesalkan semua yang telah terjadi,aku tak terima dikhianati seperti ini oleh suamiku sendiri.
Selama ini aku terlalu percaya kepada bang Nanda sampai sampai tak pernah menaruh curiga sedikitpun terhadap nya.namun,ternyata bang Nanda menyalahgunakan kepercayaan yang telah aku berikan.
Sampai kapanpun aku tidak akan mau diduakan, walaupun didalam agama memperbolehkan hal itu namun bukan lah seperti itu caranya.didalam ajaran agama mana pun, selingkuh itu tidaklah dibenarkan.
Aku akan mengatur waktu yang tepat untuk bisa memberinya pelajaran serta memergokinya sendiri.sepertinya aku sudah siap dengan apapun yang akan terjadi nanti.walaupun sakit,tetap harus aku jalani.
Aku bahkan tidak peduli lagi tentang uang yang harus aku dapatkan darinya.semua niatan itu seketika sirna mengalahkan rasa sakit hatiku yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Biarlah aku akan berusaha sendiri mencari uang demi masa depan anak anak ku.aku tak mau berharap apapun darinya lagi.
"Tok tok tok"
Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.pasti ibu yang mengetuk,karena kalau bukan ibu siapa lagi.
Aku segera mengusap wajah menyeka kedua mata supaya tak terlihat basah.dengan langkah gontai aku menarik gagang pintu untuk membukanya.
"Rena...,wajah kamu kenapa sembab begitu?ada apa nak,apa sedang ada masalah?"tanya ibu sembari memperhatikan wajahku.
"gak ada masalah apa apa kok Bu...Rena hanya kecapean aja,"jawabku berusaha tersenyum.
"Jangan bohong,ibu tau wajah kamu seperti habis nangis.ibu tau luar dalam kamu seperti apa Rena,jadi kamu gak akan bisa membohongi ibu,"cecar ibu sambil berjalan menuju ranjang.
"Benar ibu...gak ada masalah,Rena baik baik aja kok."jawabku mencoba meyakinkan ibu yang masih menatapku sayu.
"Ya sudah,kalau kamu gak mau cerita sama ibu.nanti juga ibu bakalan tau sendiri..."ujar ibu kecewa.
"Kenapa ibu bicara seperti itu?"tanyaku heran.
"Karena ibu gak bisa kamu bohongi!"ucap ibu dengan tegas.
Aku berfikir sejenak,apakah aku harus menceritakan yang sebenarnya kepada ibu atau tetap menyembunyikan masalah ku untuk sementara waktu, sampai benar benar jelas dan mendapat pengakuan langsung dari mulut bang Nanda mengenai perselingkuhan nya itu.
Jika semuanya sudah jelas,barulah aku akan memberitahukan hal itu kepada ayah dan ibu.
*****