(POV : Renata)
Tepat pukul 15.30 sore,ke dua anakku telah bangun dari tidurnya,segera aku memandikan mereka karena sore ini juga aku harus pulang kerumah ku.
Setelah selesai,kamipun bersiap siap untuk pulang.aku menghampiri ayah dan ibu yang sedang menonton televisi diruang tengah.
Melihat kami yang sudah berpakaian rapi,seketika ayah terkejut.
"Loh...,kalian pada mau kemana?"tanya ayah heran sambil memperhatikan ku dan juga si kembar.
"Kami mau pulang,ayah..."jawabku.
"Apa gak seharusnya kalian nginap disini saja,ini sudah sangat sore.takut nanti kemalaman sampai dirumah,"ujar ayah keberatan.
"Gak apa apa ayah,ini masih pukul 16.00,kalau nggak macet mungkin gak sampai pukul 17.00 sudah sampai dirumah.ayah jangan khawatir,"jawabku.
"kalau begitu biar ayah saja yang mengantar,nak".tawar ayah.
"Tidak usah repot repot ayah.insya Allah Rena bisa sendiri...,"ujarku.
"Anak kamu itu memang keras kepala,gak bisa dibilangin.kita sebagai orang tua hanya khawatir,apalagi diperjalanan jauh membawa anak kecil kecil.lagi juga kenapa gak minta jemput sama Nanda saja sepulang kerja nanti malam...,"cetus ibu.
"Bu...bang Nanda kan pasti capek sepulang dari kantor,masa disuruh jemput ke sini.gak apa apa kok bu,insya Allah Rena bisa jaga diri...,"jawabku.
"Kamu itu,dikasih tau ada saja alasannya.ya sudah, terserah kamu saja.jangan lupa itu dibawa cemilannya buat Riko sama Rika untuk dimakan diperjalanan."timpal ibu lagi.
"makasih ya Bu...,"ucapku sambil mengambil bungkusan di atas meja yang sudah dipersiapkan oleh ibu.
"Kalau gak mau ayah antar ya sudah,kamu hati hati dijalan...jangan ngebut ngebut bawa mobilnya.nanti kalau sudah sampai dirumah kabari ayah ya." sahut ayah mengingatkan.
"Baik ayah,Bu...Rena pamit dulu ya,"ujarku sambil mencium punggung tangan kedua orang tuaku.
Ayah dan ibu lalu mengantar kan aku beserta Riko dan rika hingga masuk ke dalam mobil.
-----
Malam hari setelah menidurkan si kembar,aku memilih duduk bersantai diruang tengah sembari menonton televisi dan menunggu bang Nanda pulang.jam sudah menunjukkan pukul 20.30 malam namun sepertinya belum ada tanda tanda bang Nanda akan segera pulang.
Aku mencoba mengirim dua pesan singkat lewat aplikasi hijau.
[Bang,kapan pulangnya?]
[Aku tunggu ya]
Namun sekian menit tak juga ada balasan pesan darinya.dibaca pun tidak.lalu aku berinisiatif untuk menelpon nya saja.
"Tuuut tuuut tuuut..."
Panggilan tersambung,namun tak juga diangkat.aku tak akan menyerah,ku coba telepon hingga beberapa kali.akhirnya diangkat juga,namun yang mengangkat seperti suara wanita.
Deg!
'Pasti itu selingkuhan bang Nanda' gumamku dalam hati.
"Halo...," jawab seorang wanita diseberang telpon dengan suaranya yang lembut.
"Halo,kenapa kamu yang jawab...mana bang Nanda?" tanyaku tanpa basa basi.
"Oh...bang Nanda lagi ditoilet.ini siapa ya?"tanya nya balik.
"Toilet?toilet mana...apa bang Nanda masih dikantor?" tanyaku mengetesnya.
"Mbak ini siapa ya...ada urusan apa dengan bang Nanda?" ujarnya.
"Saya ini istrinya! kamu yang ada urusan apa dengan bang Nanda?kenapa ponselnya bisa sama kamu... sekarang dimana suamiku,aku mau bicara,"Tegasku dengan suara sedikit tinggi karena sudah terlalu geram mendengar pertanyaan nya.
"Oh,jadi kamu istrinya?kamu yang namanya Renata itu kan?kenapa di kontak bang Nanda tidak tertera nama kamu?jadinya aku gak tau kalau yang menelpon ini istrinya bang Nanda hi hi hi...,"ujarnya sambil tertawa kecil.
Sungguh tak terbayangkan sakitnya hatiku mendengar ucapannya.benarkah bang Nanda tidak menyimpan nomor ku dikontaknya? keterlaluan!
"Sekarang jawab dulu pertanyaan ku,kamu siapa nya bang Nanda?" tanyaku.
"Mau tau aku siapa?aku...,"
"tut Tut Tut..."
Tiba tiba ucapannya terhenti dan seketika sambungan telpon terputus.mungkinkah bang Nanda yang mematikan sambungan telepon nya karena takut ketahuan? entahlah...
Aku tak akan menyerah.ku telpon lagi sampai benar benar bang Nanda sendiri yang menjawabnya.
Setelah beberapa kali mencoba,akhirnya diangkat juga oleh bang Nanda.
"Ya,halo sayang...,"ujarnya diseberang telpon.
"Abang lagi dimana sekarang?apa masih dikantor?" tanyaku memastikan.
"I-iya sayang, tapi sekarang Abang sedang diperjalanan mau pulang...,"jawabnya dengan suara gugup.
"Ya sudah,aku tunggu dirumah sekarang!" ucapku datar dan langsung mematikan sambungan telepon nya tanpa menunggu balasan darinya lagi.
Dua puluh lima menit kemudian, terdengar suara klakson mobil tepat didepan rumah.aku yakin itu pasti bang nanda.dan benar saja.aku langsung bergegas membukakan gerbang untuk nya dan ia pun memasukkan mobilnya ke garasi.
Setelah menutup dan mengunci gerbang,aku masuk ke dalam rumah beriringan dengannya tanpa mengucap sepatah katapun,karena memang perasaanku sedang tidak baik baik saja.
Sesampainya di ruang tamu,tanpa basa basi aku langsung mencecar nya dengan pertanyaan pertanyaan yang memang sudah beberapa hari ini terus mengganjal di dalam hati.
"Abang jujur sama aku...,Abang tadi dari mana?kenapa yang mengangkat telponku seorang wanita?aku harap Abang terbuka sama aku jangan ada yang ditutup tutupi...!" cecarku dengan suara bergetar.
"Abang...tadi masih dikantor sayang.abang lembur hari ini,banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan.itu tadi yang mengangkat telpon teman Abang...saat Abang sedang ditoilet," jawabnya dengan sedikit gugup.
"Lancang sekali kalau memang hanya seorang teman sampai berani menjawab telepon seperti itu?berbeda ketika sedang dirumah,ponselnya gak pernah lepas dari genggaman...bahkan ketoilet pun dibawa...
Aku saja yang istri sah Abang gak pernah lancang mengangkat telpon dari siapapun bahkan sampai mengotak Atik ponsel Abang.sepertinya bukan teman biasa ya?" sindirku.
"Rena,kamu ngomong apa sih?dia itu memang teman abang.tadi Abang buru buru ke toilet karena sudah kebelet,jadi ponsel Abang tertinggal di atas meja". jelasnya.
"Siapa yang bisa percaya,karena aku tidak berada disana..."ucapku datar.
"Kamu kenapa sih sayang,kok tiba tiba curigaan begini?gak seperti biasanya,"ujar bang Nanda.
"Jadi karena aku gak pernah mempertanyakan ke mana Abang pergi,sedang apa,bersama siapa,terus Abang berbuat seenaknya...aku hanya mau abang jujur.kalau aku boleh tau siapa nama teman Abang itu?kenapa gaya bicaranya seolah merendahkan aku?siapa dia sebenarnya...,"tanyaku dengan nada tinggi.
"Namanya santi.iya ..Santi,"jawabnya seperti sedang kebingungan.
Aku terus menyoroti wajahnya,melihat raut mukanya yang tampak tegang dan gugup.aku yakin kalau suamiku tengah berbohong.
Aku akan mencari tau sendiri apakah teman sekantor bang Nanda ada yang bernama Santi.
Ku gilir kontak diponselku dan mencoba memilih salah satu nomor teman bang Nanda yang bernama Rian.
Kebetulan aku menyimpan beberapa nomor ponsel teman sekantor bang Nanda yang aku dapat dari ponsel bang nanda sewaktu dirinya sedang terlelap,sekedar untuk berjaga jaga jikalau ada suatu kepentingan.dan benar saja,pada saat seperti ini aku membutuhkan penjelasan dan bukti mengenai suamiku dikantor.
Tanpa membuang waktu aku segera menelponnya,dan panggilan pun tersambung.aku berjalan sedikit menjauh dari bang Nanda.
"Halo...,"sapanya.
"Halo,apa benar ini nomornya Rian,teman kantornya bang Nanda?saya istrinya bang Nanda."ujarku sengaja meloadspeaker ponselku supaya bang Nanda bisa mendengar.
"Iya,benar.ada apa ya mbak menelepon saya?" tanya nya heran.
"Gak...saya cuma mau tanya.dikantor apa ada wanita yang bernama Santi?" tanyaku sambil melirik ke arah bang Nanda yang tampak gelisah.
"Santi? sepertinya gak ada karyawan maupun staf yang bernama Santi.memang nya ada apa ya mbak?" tanya nya lagi
"Oh...begitu.gak ada apa apa.terus aku mau tanya lagi,tadi bang Nanda lembur ya?"tanyaku.
"Nggak mbak,jam 17.00 sore dia sudah pulang."jawabnya.
"Ok,kalau begitu terimakasih banyak ya...," ujar ku sembari menutup panggilan telpon.
"Tuh,Abang dengar sendiri kan?teman kamu Rian yang bilang gak kenal wanita yang bernama Santi dikantor,Abang masih mau bohong sama aku?" tanyaku seraya mendekat ke arahnya.
Namun bang Nanda tampak gelagapan,bingung harus menjawab apa. sepertinya ia tak bisa mengelak lagi dariku.
Seketika ku rogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya.tapi,ada yang ikut keluar bersama ponsel yang ku tarik yaitu sebuah ikat rambut wanita.hatiku semakin panas melihat benda kecil yang berwarna pink itu.
*****