(POV : Renata)
"Nih...ini milik siapa?kenapa bisa ada ikat rambut disaku celana Abang?sekarang Abang jujur sama aku sebelum aku yang mencari tau sendiri...,"teriak ku sembari melempar benda itu ke lantai.
Bang Nanda masih diam terpaku dengan wajah gelisah.ku buka ponsel nya namun ternyata dikunci.
"Buka dulu kuncinya...,aku yang istri sah saja gak pernah tau isi ponsel suamiku sendiri,bahkan untuk memegangnya saja gak pernah.aku penasaran apa aja isinya...,"ujarku sambil meyerahkan ponsel padanya.
"Untuk apa ren...gak ada apa apa didalam,kamu jangan curigaan terus sama abang.mengenai ikat rambut itu abang gak tau itu milik siapa,mungkin gak sengaja terbawa tadi saat buru buru pulang...,"ujar bang Nanda sembari menggenggam ponsel nya dan menyimpannya kembali disaku celananya.
Namun tiba tiba ponsel nya berdering menandakan bahwa ada yang menelpon nya.bang Nanda kembali mengambil benda pipih itu dan memperhatikan layar ponsel cukup lama tetapi tak kunjung ia jawab.ia tampak gelisah dan berusaha mematikan panggilan.
Aku penasaran,siapa gerangan yang menelpon?kenapa gak di angkat?seketika kurebut ponselnya dan kini ponselnya sudah berada di tanganku.
Bang Nanda terlihat gusar dan berusaha merebut kembali ponsel yang sudah berpindah ke tanganku.
Ku perhatikan riwayat panggilan masuk barusan,tertera nama Sarah disana.aku sudah tau sebelumnya nama selingkuhan bang Nanda adalah sarah.tanpa ragu,aku mengklik tombol telepon untuk memanggilnya.aku sengaja me-loadspeaker supaya bang Nanda tak bisa lagi berkutik.
Tak menunggu lama, panggilan pun diangkat.
"Halo,sayang....kok lama sekali ngangkat telponnya?Abang marah ya sama aku...aku tadi gak bermaksud ngomong macam macam sama istri abang...," ujarnya dengan suara manja.
"Heh... perempuan gatal! maksud kamu apa...,ngomong langsung sama aku sini...! jadi kamu yang menjawab telpon dari aku tadi hah?"bentak ku dengan emosi.
"Eh,ada mbak Renata.maaf ya mbak...aku gak bermaksud...,"ucapannya terhenti karena langsung ku potong dengan cepat.
"Gak perlu basa basi! aku sudah tau semuanya.kalian udah selingkuh dibelakang aku kan,sekarang kamu jujur sama aku.sejak kapan kamu berhubungan dengan bang Nanda?" seruku menahan emosi.
"Ehm...gini ya mbak,aku itu sebenarnya mantan pacar nya bang nanda.jauh sebelum kalian menikah,kami pacaran sudah hampir lima tahun,tapi ternyata bang Nanda malah menikahi kamu.jadi aku gak merasa merebut bang Nanda dari kamu...justru kamu yang telah merebut bang Nanda dari aku...!" ujarnya dengan suara lantang.
"Aku gak pernah merebut bang Nanda dari siapapun,karena sewaktu kami menikah,dia sudah putus hubungan dengan mantan mantan nya...,termasuk kamu!" sahutku tak mau kalah.
"Kata siapa kami putus?aku gak pernah merasa diputusin sama bang Nanda...,selama ini aku sabar menjadi yang ke dua bahkan hubungan yang kami jalani disembunyikan dari semua orang,itu semua demi menjaga perasaan kamu...Renata! seharusnya aku yang saat ini berada diposisi kamu," serunya diiringi Isak tangis.
Aku langsung menoleh ke arah bang Nanda yang tampak kebingungan.
"Bang...tolong jelasin sama aku! kenapa bisa jadi seperti ini...Abang tega bohongi aku,ternyata Abang belum selesai dengan mantan Abang...kenapa harus menikah sama aku," cecarku sambil berlinang air mata.
Bang Nanda masih terdiam tak bisa menjawab pertanyaan ku.
"Jawab bang...," teriakku lagi.
Bang Nanda terlihat menarik nafas dan menghembusnya dengan kasar,lalu melangkah mendekatiku.
"Ok,ok...Abang minta maaf.abang tau Abang yang salah.tapi Abang mohon setelah ini jangan tinggalin Abang...," ucap bang Nanda seraya memohon dan menyatuka kedua telapak tangannya dihadapan ku.
"Sekarang Abang tentukan pilihan,Abang pilih aku...atau Sarah!" ujarku memberi pilihan.
"Jika Abang memilih aku,Abang harus segera selesaikan hubungan Abang bersama sarah.dan begitu juga sebaliknya...," lanjutku lagi.
"Jujur,Abang gak bisa memilih... Abang gak tega ninggalin Sarah karena kami juga sudah mempunyai anak," ujar bang Nanda sambil tertunduk.
Air mataku semakin mengalir dengan deras mendengar pengakuannya.
"Abang cinta sama kalian berdua...," lirihnya lagi.
Aku menggeleng dengan cepat.
"Bang... sampai kapanpun aku gak akan mau berbagi suami.kalau memang kalian masih saling cinta lebih baik aku mundur dan Abang lanjutkan saja pernikahan dengan Sarah...," ujarku berusaha legowo.
"Ren...aku juga cinta sama kamu.kita punya anak yang masih kecil kecil,Abang gak tega melihat mereka menjadi korban perceraian orang tuanya." timpalnya.
"Itu karena ulah kamu sendiri bang...gak usah beralasan anak.nanti juga mereka bakalan ngerti." ketus ku.
"Abang mohon ren,tolong ngertiin Abang...," ujar bang Nanda kembali memohon.
"Gak bisa bang...maaf.aku gak bisa menjalani pernikahan seperti ini.aku gak sanggup dipoligami...," jawabku seraya menyeka kedua mataku yang masih basah.
Namun tanpa kusadari,sambungan telepon bersama Sarah masih terhubung.pasti Sarah mendengar semua yang kami ucapkan.
"Maaf bang,sekali lagi aku mengatakan aku gak bisa melanjutkan pernikahan ini jika Abang gak bisa mengakhiri hubungan dengan sarah.abang harus bisa memilih Antara kami berdua," ujarku dengan tegas dan sengaja mendekatkan ponsel ke mulutku,supaya Sarah mendengar dengan jelas.
Tak ku sangka,Sarah langsung menyahut ucapan ku.
"Aku juga gak mau diduakan,aku mau menjadi istri satu satunya.silahkan mbak Rena kalau mau mundur,mundur saja.memang seharusnya begitu.karena akulah yang lebih dulu menjalin hubungan dengan bang Nanda, bukan kamu...," sahutnya dari ujung telepon yang juga didengar oleh bang Nanda.
Ku serahkan ponsel itu ke tangan bang Nanda lalu aku langsung berlari ke kamar menaiki tangga menuju lantai atas.
Sungguh, malam ini menjadi malam yang sangat memilukan bagiku.tak ku sangka pernikahan yang masih seumur jagung sudah kandas karena hadirnya orang ketiga.
Aku sudah bertekad tidak akan melanjutkan pernikahan ini, biarlah aku menjadi janda dari pada harus menahan cemburu dan sakit hati yang berkepanjangan.aku akan segera mengurus perceraian secepatnya, supaya tidak ada lagi beban yang harus ku tanggung.
Terdengar suara ketukan pintu diiringi suara bang Nanda yang memanggil manggil namaku dari luar kamar,namun sedikitpun tak ku hiraukan.perasaanku sudah teramat sakit,tak bisa digambarkan dengan apapun.
Ku kemasi pakaian ku dan juga pakaian ke dua anak kembarku Riko dan Rika ke dalam koper.aku berencana akan pulang ke rumah orang tuaku keesokan paginya.aku tak peduli apakah bang Nanda akan setuju atau tidak.yang jelas ini sudah menjadi keputusan ku dan tidak bisa lagi diganggu gugat.
Kubiarkan bang Nanda tidur diluar malam ini.rasanya aku sudah jijik jika harus tidur sekamar dengannya.sudah terbayangkan dalam benakku bagaimana ketika dirinya sedang bersama Sarah dan melakukan hubungan layaknya suami istri yang juga sering ia lakukan sama terhadapku.
Setelah mengemasi semua pakaian ku dan juga anak anak,berkas berkas penting,perhiasan dan barang berharga lainnya,aku merebahkan tubuh disamping anak anakku yang sedang terlelap.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.45 malam,namun mataku sulit sekali untuk terpejam.pikiran ku kalut tak menentu.
Ditengah kegalauan yang aku rasakan,aku berniat mengirimkan pesan kepada sahabat ku,sindy.
[Sin..., sepertinya aku akan pisah dengan bang nanda.besok aku akan ke pengadilan untuk mengajukan gugatan.doa kan aku ya,supaya bisa menghadapi ini semua...]
Pesan terkirim,namun belum dibaca oleh sindy.mungkin saja sindy sudah terlelap.tak mengapa,besok pasti akan dibaca juga olehnya.
*****