(POV : Renata)
Keesokan paginya,aku telah bersiap siap untuk pergi meninggalkan rumah ini.aku sudah mempersiapkan mental dan juga hati untuk berpisah dari suamiku.tekad ku sudah bulat,semuanya sudah ku pikir dengan matang.
Ku ayun langkah dengan perlahan sembari menggandeng kedua anakku keluar dari kamar.sedangkan koper dan beberapa tas sudah aku letakkan disudut teras beberapa saat sebelumnya.
Aku tak melihat bang Nanda,mungkinkah dirinya belum bangun karena memang tak ku bangunkan sama sekali pagi ini.aku juga tak melihatnya disofa ruang tamu maupun ruang tengah.mungkin saja ia memilih tidur dikamar lainnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 7.00 pagi,sudah pasti bang Nanda akan terlambat pergi ke kantor.
Aku bergegas memasukkan koper beserta tas ke bagasi mobil.kemudian memboyong kedua anakku masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilku keluar dari gerbang.
Kutinggalkan rumah suamiku yang penuh dengan kenangan,bahagia,suka dan duka,canda tawa yang selalu mewarnai hari hari kami.
Aku melajukan mobil menuju arah kediaman kedua orang tuaku.karena disitulah satu satunya tempat aku berlabuh dan mengadukan semua permasalahan yang aku alami.
Namun baru saja menempuh perjalanan sekita 4 km,tiba tiba ponselku berdering.aku sengaja mengabaikan karena tak mau perjalanan ku menjadi terganggu.
Mungkinkah bang Nanda yang menelepon ku karena tak menemukanku dirumah.setelah aku cek,ternyata benar.lantas aku langsung me-non aktifkan ponselku.
Empat puluh lima menit kemudian,aku sampai juga di rumah kedua orang tuaku.terlihat ibu sedang menyiram tanaman dipekarangan rumah sedangkan ayah sedang mengumpulkan sampah kering yang hendak dibakar.
Melihatku datang,sontak kedua orangtuaku terkejut dan langsung menghampiriku dengan wajah heran.
"Rena...,"ujar ibu menyambut ku dengan wajah sayu.
Aku langsung menghampiri dan memeluk ibu dengan erat sambil berlinang air mata.
Melihatku menangis,ibu bertanya.
"Ada apa nak...,kenapa kamu menangis?pasti ada masalah dengan suami kamu,iya kan?"tanya ibu seraya memegang kedua pundakku.
Aku tak mampu menjawab, hanya Isak tangis yang bisa aku tunjukkan menandakan kalau aku begitu merasa terpuruk.
"Sekarang lebih baik kita masuk kedalam rumah,gak enak dilihat orang,"ujar ibu sambil menggandeng tanganku menuju teras sedangkan ayah menggendong Riko dan Rika keluar dari mobil.
Sesampainya di ruang tamu,ayah dan ibu duduk disisi kanan dan kiriku,seolah sudah siap mendengarkan cerita dan kabar yang ku bawa.
"Ayah...ibu...,bang Nanda selingkuh dibelakang ku,"ucapku dengan suara bergetar.
"Apaaa?"ujar ayah dan ibu hampir bersamaan, keduanya terlihat syok.
"Bahkan perselingkuhan itu sudah berlangsung lama,mereka sudah menikah siri dan mempunyai seorang anak yang sudah berumur 1 tahun...,"ujarku lagi.
"Kurang aj*r si Nanda,benar benar keterlaluan!" timpal ayah dengan muka merah padam menahan amarah.
"Dari kemarin ibu sudah feeling,pasti kamu sedang punya masalah dengan suami kamu.karena gak biasanya kamu pulang sendiri tanpa didampingi suami kamu,ternyata benar dugaan ibu...," ujar ibu sedih.
"Biar ayah kasih pelajaran,ayah gak terima anak ayah diperlakukan seperti ini oleh Nanda,dasar lelaki bej*t." sahut ayah geram.
"Gak perlu membuang tenaga yah..., Rena ingin pisah saja.lebih cepat lebih baik,karena rena tak ingin berlarut larut dalam masalah ini.secepatnya rena akan mengurus perceraian," balasku sambil menyeka kedua mataku yang masih basah.
"Ibu setuju nak,buat apa mengulur ngulur waktu.lelaki seperti itu tak pantas untuk diperjuangkan.biarlah kamu dan anak anak tinggal disini bersama ayah dan ibu,biar ibu yang akan menjaga Rika dan Riko dan kamu urus perceraian kamu bersama ayah kamu," timpal ibu.
"Makasih ya bu,dan rena minta maaf kepada ayah dan ibu karena Rena tak bisa menjaga pernikahan Rena dengan baik.rena gagal menjadi seorang istri sekaligus ibu yang baik...," ujarku menahan sedih.
"Kamu gak salah Rena, justru ibu setuju dengan tindakan kamu.lelaki kalau sudah selingkuh tidak pantas dipertahankan,apapun alasannya.karena kalau tidak ketahuan dia akan terus membohongi kamu terus menerus...," timpal ibu.
"Benar sekali apa yang dikatakan ibumu,nak.kalau bisa hari ini juga kita ke pengadilan,ayah akan temani kamu." tambah ayah sambil menatapku sendu.
Ketika sedang berbicara serius,tiba tiba terdengar suara mobil berhenti tepat dihalaman rumah.setelah ku perhatikan, ternyata bang Nanda yang datang.mau apa dia ke sini,pasti ingin memohon mohon meminta maaf kepada ayah ibu.
Sudah kuduga,dan ketika aku,ayah dan juga ibu sedang memperhatikan nya di ambang pintu,ia langsung menghampiri kami dan sontak ia bersujud di kaki ayah sambil menangis meminta maaf.
"Masih berani juga kamu datang ke sini Nanda!" ujar ayah datar.
"Maafkan aku yah...aku bisa jelaskan seperti apa kejadiannya...," sahut bang Nanda sembari bersimpuh dihadapan ayah.
"Gak perlu kamu jelaskan.ayah sudah tau semuanya.lebih baik sekarang kamu pergi saja dari sini.saya sudah tidak butuh menantu seperti kamu lagi...,paham!" teriak ayah sambil berusaha menjauh dari bang Nanda.
"Ayah...aku mohon dengarkan dulu penjelasan aku...,aku sayang sama Rena,aku gak mau pisah dari Rena dan anak anak,aku akan perbaiki semuanya.tolong beri aku kesempatan sekali lagi.aku mohon ayah...," pinta bang Nanda dengan suara bergetar.
"Saya tidak akan bisa menerima kamu lagi,kamu sudah benar benar keterlaluan,nanda.sekarang lebih baik kamu lepaskan anak saya daripada batinnya tersiksa.biarkan ia bahagia bersama kami disini.sekarang juga kamu pergi...!" seru ayah sambil menunjuk ke arah gerbang.
Bang Nanda pun beralih bersimpuh dikaki ibu.ia memohon mohon sambil menangis meminta maaf berulang kali,namun tetap di abaikan oleh ibu.
Akupun tak kuasa menahan tangis melihat pemandangan itu.ada perasaan iba yang sesekali muncul,namun segera ku tepis.aku tak boleh menyerah,aku harus optimis dalam menghadapi ini semua.
Tiba tiba ayah menarik lengan bang Nanda untuk berdiri,lalu menggiring tubuhnya menuju keluar halaman.
"Pergi kamu dari sini, sebelum saya berbuat kasar dan menyakiti fisikmu.percuma kamu menangis tak ada gunanya,dasar lelaki bej*t.urus saja selingkuhanmu itu, jangan pernah berharap lagi untuk bisa kembali kepada anak saya...," seru ayah dengan sangat geram.
Dengan raut wajah sedih,bang Nanda sempat menoleh ke arahku.aku langsung membuang muka,rasanya tak sanggup menatap matanya.tak dipungkiri sebenarnya aku juga merasa sedih.bagaimana tidak,tiga tahun aku menjalani hidup bersamanya tiba tiba harus berpisah dalam waktu yang singkat.
Perlahan,bang Nanda melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil yang terparkir diluar gerbang.
Aku segera masuk dan menghampiri kedua anakku yang sedang bermain diruang tengah.ku peluk mereka dengan sangat erat sambil berlinang air mata.
Tak lama kemudian,ibu datang menghampiri dan menenangkan ku seraya mengusap punggung ku dengan perlahan.
"Sudah lah nak,sudahi tangismu...hapus air matamu,ibu mengerti perasaan mu.tapi kamu harus kuat dan tegar untuk bisa menghadapi semuanya.ingat anak anak kamu butuh sosok ibu yang kuat.ingat,jangan sekali kali kamu perlihatkan sisi lemahmu didepan anak anak,supaya mereka tidak kehilangan sosok pelindung bagi mereka." ucap ibu menasehati ku.
Aku mengangguk dan segera menyeka ke dua mataku yang basah,berusaha tegar dan tersenyum ke arah ibu.
"Makasih ya Bu...,"ujarku seraya memeluk ibu.
*****