Ketika aku hendak membangunkan si kembar ke kamarnya,ternyata mereka sudah lebih dulu bangun dan terlihat sedang bermain diatas kasur.aku langsung menghampiri ke duanya untuk ikut bergabung bermain dan bercanda dengan mereka.gemas sekali melihatnya apalagi bau badannya yang khas ketika baru bangun tidur.
Setelah puas bercengkerama dengan Riko dan Rika dikamar,segera aku memandikan keduanya secara bersamaan, memakai pakaian lalu membawa mereka turun kelantai satu untuk sarapan.
Setelah selesai menyuapi Riko dan Rika,aku berniat menghubungi sahabatku Sindy untuk minta ketemuan.semoga saja Sindy ada waktu luang dan aku bisa menceritakan segala kegundahan yang aku rasakan padanya.karena hanya Sindy lah satu satunya sahabat yang paling baik dan pengertian apapun keadaannya.walaupun karakter kami berbeda satu sama lain,sering berdebat,punya pandangan yang berbeda,namun kami tetap kompak.
Kuraih ponsel disaku celana ku dan mencari daftar kontak sindy.tanpa membuang waktu segera ku tekan tombol telepon untuk memanggilnya.
"Tuuut...tuuut...tuuut...,"
"Halo...,"sapa Sindy dengan suaranya khasnya.
"Halo...Sindy,lagi sibuk kah?"tanya ku.
"Enggak sih,ada apa ren...tumben pagi pagi telpon?kangen ya...he hee,"ujar Sindy diiringi tawa kecil.
"Aku mau ketemu sama kamu,ada yang mau aku ceritakan,penting".sahutku.
"Ya udah,ke rumah aja.kebetulan hari ini aku gak ada kegiatan apa apa."jawab Sindy.
"Oke...nanti sekitar jam 9 aku kesana ya..."ujarku.
"Boleh...aku tunggu ya.jangan lupa ajak si kembar juga."ujarnya.
"Pasti dong...ya udah, sampai ketemu nanti,bye...,"jawabku lalu menutup telepon.
***
Pukul 08.40 pagi aku memboyong ke dua anak ku menuju kediaman Sindy yang berjarak sekitar 4 km dari rumahku.tak lupa aku singgah ke toko roti dan membeli beberapa jenis buah buahan sekedar oleh oleh untuk diberikan padanya.
Jalanan yang begitu padat hingga mengalami kemacetan dan harus melewati beberapa lampu merah,akhirnya tepat pukul 09.05 aku sampai dirumah sindy.
Ku bunyikan klakson beberapa kali,tidak lama kemudian terdengar langkah kaki seseorang menghampiri gerbang.
"ceklek ceklek"
"Greek"
Gerbang pun terbuka,terlihat sindy dengan kaos oblong dan celana jeans sepaha tersenyum lebar menyambut kedatangan kami.ku arahkan mobil menuju parkir ke halaman rumahnya yang cukup luas.
Sindy begitu antusias membantu menurunkan Rika Riko dari baris ke dua mobilku.tak heran karena Sindy memang suka sekali dengan anak kecil,hanya saja ia belum juga mendapatkan jodoh yang tepat.pernah beberapa kali Sindy menjalin hubungan dengan beberapa orang lelaki,namun sepertinya tidak ada komitmen untuk meneruskan ke jenjang yang lebih serius.sindy juga termasuk wanita yang sangat pemilih dalam hal mencari calon suami,tapi apapun itu biarlah menjadi urusan sindy karena dia yang akan menjalaninya.
"Kelihatannya sepi sekali,apa orangtua kamu gak dirumah,sin?"tanyaku heran.karena aku melihat hanya ada mobil sindy yang terparkir digarasi rumahnya.
"Papa dan mama ku lagi pulang kampung,sudah tiga hari nenek dirawat dirumah sakit akibat penyakit komplikasi,ren."ujar Sindy.
"Owh...semoga nenek kamu cepat sembuh dan penyakit nya segera diangkat oleh tuhan...,"ucapku mendoakan.
"Aamiin...Iya,ren.makasih ya doanya",sahut Sindy sambil menuntun ke dua anakku berjalan menuju teras.
"Tapi ngomong ngomong kamu gak ikut?"tanyaku.
"Aku gak dibolehin ikut sama papa, karena siapa yang akan jagain rumah, mengawasi toko dan juga restoran.tadi juga papa mengabari kalau siang ini nenek sudah boleh pulang dan hanya menjalani rawat jalan.kemungkinan besok atau lusa papa dan mama udah kembali.yuk...silahkan masuk,"ujar Sindy.
Aku meletakkan Tote bag yang berisi buah tangan berupa roti keju,donat dan buah buahan ke atas meja.sedangkan Sindy menuju ke dapur untuk membuat kan minuman.
Beberapa saat kemudian, Sindy datang dengan membawa juice mangga serta s**u kemasan untuk ke dua anakku.lalu ia duduk di sampingku sedangkan Rika dan Riko ku biarkan bermain diteras yg tak jauh dari ruang tamu yang kami duduki.
"Gimana kabar suami kamu,eh...maksudnya soal yang kemarin?"tanya sindy penasaran.
"Itulah yang akan aku ceritakan sama kamu...",jawabku serius.
Sindy seketika menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan ku dan sudah siap mendengarkan apa yang akan aku sampaikan.
"Bang Nanda tidak mengakui kalau yang difoto itu adalah dirinya...,dia mengelak dengan berbagai macam alasan."ucapku memulai pembicaraan.
"Terus apa tindakan kamu,ren?tanya Sindy penasaran.
"Sebenarnya hatiku sakit sekali Sin,apalagi tadi pagi aku gak sengaja membaca pesan di ponsel bang Nanda dari seorang wanita.sepertinya bang Nanda memang bermain dibelakang ku".lirihku sedih.
"Nah,itu sudah jelas kalau Nanda berselingkuh dibelakang mu.apalagi aku melihat sendiri dengan mata kepalaku sewaktu di mall mega.waktu itu aku gak berani menegurnya,karena gak mau dituding terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian.kenapa kamu gak interogasi saja si Nanda?Kenapa diam saja ren?"tukas Sindy geram.
"Aku masih memikirkan nasib anak anak, Sin.aku gak mau terburu buru mengambil keputusan.aku harus mendapatkan sebagian harta bang Nanda demi masa depan Rika dan Riko.aku gak mau gara gara keteledoran ku,bang Nanda lalu mencampakkan aku begitu saja tanpa aku mendapatkan apa apa...',terangku.
"Jadi apa yang akan kamu rencanakan?"tanya Sindy menatapku serius.
"Aku butuh bantuan kamu Sin...tapi aku bukan bermaksud mau memanfaatkan kamu...mau kan kamu membantuku?"pintaku dengan wajah memelas.
"Aku akan berusaha bantu kamu semampu aku ren.aku harus melakukan apa?"tanya Sindy.
"Serius kamu mau?"tanyaku girang.
Sindy mengangguk ragu dengan senyum kecut.
"Begini...tadi pagi disaat bang Nanda sedang mandi,aku membaca pesan di ponsel bang Nanda dari seorang wanita yang bernam sarah.mereka sepertinya janjian untuk makan siang bareng di kafe anthor.nah,aku gak mau buru buru melabrak mereka.aku minta bantuan kamu supaya berpura-pura berpas pasan dengannya disana dan seolah olah kamu kaget".usulku.
"Terus,gimana kalau dia ngancem aku ren...?"tanya Sindi ragu.
"Justru kamu yang harus ngancem dia Sindy...,kamu katakan akan memberitahu aku dan merekam mereka.dengan begitu pasti dia gak akan bisa mengelak lagi.nah ini kesempatan kamu buat minta uang sebagai tutup mulut supaya kamu gak membocorkan rahasia nya dia.kalau bisa minta diatas 30 juta atau lebih...aku sangat membutuhkan uang itu untuk tabungan anak anak ke depannya,kamu pasti akan mendapat bagian Sin,"ujarku memohon.
"Sepertinya itu gampang,ternyata kamu pintar juga ya...aku malah gak kepikiran sampai ke sana.tapi kamu gak usah pikir kan bagianku.aku ikhlas bantu kamu dan anak anak kamu ren...kalau begitu siang ini aku akan ke sana...,"ujar Sindy menyanggupi.
"Ya ampun... makasih ya Sin kamu baik banget mau bantuin aku.kamu benar benar sahabat aku yang paling baik dan pengertian...,''ujarku merasa terharu dan seketika langsung memeluk nya.
"Biasa aja,ini mah kecil...kalau urusan beginian serahkan sama Sindy".ujarnya sembari menepuk d**a nya meyakinkan.
"Kalau bisa kerjain aja sekalian cewek yang bernama Sarah itu...,"tukasku.
"Aman...!"ucap Sindy seraya mengacungkan jempolnya ke arahku.
Aku sedikit merasa lega daripada sebelum bertemu dengan sindy.aku benar benar bersyukur karena masih ada orang yang peduli dengan ku.aku tak bisa membayangkan jika Sindy tidak ada,apa yang akan terjadi dengan rumah tangga ku.pasti aku hanya bisa pasrah dikhianati oleh suami daripada harus tersingkir dan hidup menderita.
*****