(POV : Renata)
Setelah kepergian bang Nanda,aku segera menghampiri Aldo yang terlihat gusar.
"Aldo...,maaf ya ini semua gara gara aku.aku gak menyangka kalau bang Nanda datang diam diam dan melihat kamu berada disini, akhirnya menimbulkan salah paham."ujarku merasa bersalah.
"Kamu gak salah Ren,Nanda yang gak mau mendengarkan penjelasanku lebih dulu.dia sedang emosi dan juga cemburu,jadi wajar dia seperti itu."sahut Aldo.
"Aku takut dia akan memutar balikkan fakta dan menuding jika aku yang telah berselingkuh.akhirnya membuat dia menang dalam persidangan nanti."imbuhku merasa khawatir.
"Tenang saja,itu semua gak akan terjadi.dia gak punya bukti yang kuat,ren."balas aldo.
"Betul sekali nak,jangan terlalu dipikirkan ucapan nanda.ayah yakin itu hanya sebuah gertakan saja dan dia juga gak punya bukti yang menjurus ke perselingkuhan kamu.sudahlah...,jangan khawatir.ada pak Arya pengacara mu yang akan membantumu menyelesaikan masalah ini." timpal ayah membuatku sedikit lebih tenang.
Ibu langsung mendekat dan merangkul ku.
"Iya rena.kamu jangan khawatir ya.kami akan selalu ada untuk kamu,nak."
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya om,Tante,Rena...,"ujar Aldo pamit kepada kami semua dan melangkah menuju ke arah mobilnya yang terparkir.
"Iya,Al...hati hati dijalan ya."balasku.
Kami memperhatikan mobil Aldo keluar dari gerbang sampai tak terlihat lagi dari pandangan.setelah itu aku bergegas masuk ke kamar menyusul kedua anakku yang sudah terlelap.
-----
Keesokan harinya...
Aku sampai dikantor lebih pagi dari sebelumnya.bahkan teman teman yang lain belum ada satupun yang datang.aku duduk di lobby sambil memainkan ponsel.
Lima belas menit kemudian,tampak para karyawan mulai muncul satu persatu.mereka menyapaku dengan ramah sembari melangkah memasuki ruangan kerjanya masing masing.
tampaknya semua karyawan sudah datang, namun aku tak melihat aldo.rasanya mustahil jika Aldo datang terlambat,karena dia termasuk orang yang sangat disiplin dan taat dengan aturan perusahaan.
Aku mencoba menghubungi ke nomor ponsel nya,namun diluar jangkauan.aku khawatir karena tak biasanya seperti ini.karena tak berhasil mendapat kabar darinya,aku memutuskan untuk masuk keruangan kerjaku.
Saat melewati ruangan Aldo, tampak pintunya masih terkunci rapat.aldo benar benar belum hadir pagi ini.namun aku tak mau berfikiran macam macam dahulu,mungkin saja ada halangan yang membuatnya terlambat datang ke kantor hari ini.
Namun, semakin aku berusaha untuk tenang dan berfikir positif,aku semakin kepikiran dengan aldo.aku takut dia diancam oleh bang nanda.jangan sampai itu terjadi.
Aku memulai pekerjaan ku dengan perasaan khawatir tak menentu,hingga membuatku kurang konsentrasi dalam bekerja.
Hingga jam istirahat makan siang, ruangan Aldo masih tetap sama seperti tadi pagi ku lihat.karena penasaran,aku mendatangi ruangan sekretaris untuk mencari info tentang kabar ketidakhadiran Aldo hari ini.
Namun, lagi lagi aku kecewa karena tak mendapatkan info apa apa tentangnya.bahkan semua teman teman sudah kutanyai dan mereka tak ada satupun yang tau.
Akhirnya aku memutuskan untuk makan siang bersama teman teman yang lain dan sesekali mencoba untuk menghubungi Aldo tapi hasilnya nihil.
"Gimana kalau kita datangi rumah nya nanti sore sepulang kerja?" usul Arfan kepada kami semua.
"Setuju...lebih baik kita samperin aja kerumahnya,biar lebih jelas."sahut Amira.
"Aku ikut aja,siapa tau dia sedang sakit atau sedang ada masalah,ya gak,"timpal Dian setuju.
"Tapi kemarin malam Aldo tampak sehat sehat aja,gak terlihat seperti orang sakit.kayaknya gak mungkin sakit deh,"imbuhku menimpali ucapan Dian.
"Jadi kemarin malam kamu ketemu sama dia?"tanya Dian penasaran yang membuat semuanya kompak menatapku.
Sontak aku menjadi salah tingkah, karena tak mungkin juga aku menceritakan perihal aku mengundang Aldo untuk makan malam di rumahku.pasti semuanya akan menganggap aku mempunyai hubungan khusus dengan Aldo.
"Eh,gak sih...maksud aku pas kita pulang bekerja kemarin dia kelihatan sehat sehat aja," jawabku meluruskan.
"Owh...iya sih,tapi kita harus cari tau kabarnya gimana.nanti kamu ikut kita bareng ya kerumah Aldo." ajak Dian kepadaku.
"Iya,aku pasti ikut.kita sama sama ke rumahnya."sahutku.
Pada pukul 16.30 wib sepulang bekerja,sesuai dengan yang sudah disepakati kami sama sama pergi menuju rumah Aldo.
aku semobil dengan Amira dan Dian sedangkan Arfan membawa mobil sendiri.aku membuntuti mobil Arfan karena hanya dia yang tau tempat kediaman Aldo yang baru.
Sekitar lebih kurang dua puluh menit,Arfan menghentikan mobil nya tepat didepan sebuah rumah mewah dengan pagar yang menjulang tinggi.kami menduga pasti ini rumah Aldo.
Tak lama kemudian,Arfan keluar dari dalam mobilnya dan menekan bel beberapa kali.cukup lama kami menunggu, akhirnya seseorang membukakan gerbangnya.mungkin itu adalah asisten rumah tangga Aldo.
Seketika Arfan memberi kode kepadaku untuk ikut memasukkan mobil ke dalam carport setelah dipersilahkan oleh asisten rumah tangga tersebut.
Lalu kami dipersilahkan untuk masuk dan menunggu diruang tamu.beberapa saat kemudian,datang Tante Vina,ibunda Aldo menghampiri kami dengan wajah sayu dan tampak sekali gurat kesedihan diraut wajahnya.
Kami segera menyalami beliau dan mencium punggung tangannya.
Tanpa basa basi,Arfan langsung saja menanyakan kabar tentang Aldo kepada Tante vina.namun jawaban beliau sungguh diluar dugaan.
"Aldo izin keluar kepada tante kemarin malam sekitar jam 19.00,tapi hingga kini dia belum kembali.padahal dia jarang sekali keluar malam kalau gak ada kepentingan.tante sangat khawatir terjadi apa apa dengan aldo.ponselnya juga tidak aktif,tante sudah membuat laporan kepada Polsek namun belum bisa diproses karena belum ada 2 x 24 jam."terang Tante Vina diiringi dengan Isak tangis.
Aku segera mengusap lembut punggung beliau untuk menenangkan sekaligus menguatkan.
Sungguh, perasaan ku amat sangat merasa bersalah dengan kejadian ini.jika saja Aldo tak berkunjung kerumah orangtuaku untuk memenuhi undangan makan malam,pasti tidak akan terjadi seperti ini.
Pikiranku langsung tertuju kepada bang nanda.apakah dia telah mencelakai Aldo atau berbuat hal yang diluar batas akibat sakit hati yang dia rasakan sehingga membuat Aldo tidak bisa pulang kerumahnya.jangan sampai itu terjadi.namun jika terbukti bang Nanda yang berbuat,aku tak akan tinggal diam.
Siapa saja yang berani melakukan kejahatan tanpa alasan yang jelas,patut diberikan hukuman setimpal.
"Jujur,aku kaget sekali mendengar kabar ini tante.aku juga khawatir dengan keadaannya.tapi Tante tenang aja,aku sebagai teman dekat Aldo akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari keberadaan aldo,"ucap Arfan serius.
"Terimakasih banyak ya Arfan,kamu sudah Sudi membantu tante.tante memang sangat membutuhkan bantuan dari kalian semua.tante belum siap kehilangan Aldo anak Tante satu satunya.jika Aldo gak ada,Tante tinggal seorang diri dan gak punya siapa siapa lagi,"imbuh Tante Vina dengan wajah sayu,sesekali beliau mengusap air matanya yang tak henti mengalir.
"Aku juga pasti akan membantu mencari tau keberadaan aldo,tan.tante yang sabar ya...,"lirihku menyemangati beliau,dan disetujui oleh Dian dan juga Amira.
Tante Vina mengangguk seraya menatapku penuh harap.
"Terimakasih ya kalian sudah peduli dengan aldo.tante sangat bersyukur Aldo mempunyai teman sebaik kalian semua,"imbuh Tante Vina menatap kami satu persatu.
"Sama sama Tante,memang seharusnya begitu kita berteman.harus saling membantu dan saling suport,"jawab Dian.
"Biarkan kami yang akan melaporkan ke polisi,dan mengurus masalah ini,tante."imbuh Amira dengan yakin.
Setelah berbincang beberapa saat,kemudian kami semua pamit untuk pulang.
Diperjalanan pulang,aku tak sabar ingin menghubungi bang Nanda dan menanyakan kabar tentang Aldo kepadanya.karena sedari tadi aku telah mencurigainya.
*****