Bab 6: Bayangan yang Menyusul

836 Kata
Setelah berhasil membuka pintu terakhir, Naira melangkah masuk ke dalam ruangan yang lebih gelap dari yang ia kira. Di sini, bau busuk dan udara yang lembab terasa lebih pekat, membuatnya tersengat setiap kali ia menarik napas. Cahaya dari senter hanya cukup untuk menerangi beberapa inci di depannya, tetapi semakin lama, ia merasa ada yang aneh. Ia baru saja menutup pintu belakang dengan sangat hati-hati, namun ada perasaan tak nyaman yang terus menggantung di dalam dirinya. Seperti ada yang mengawasi. Ruangan ini terasa lebih seperti ruang yang tak pernah dimaksudkan untuk dijelajahi—seperti ruang yang diciptakan hanya untuk menyimpan rahasia gelap. Langkah Naira semakin lambat, telinganya menangkap suara langkah kaki yang teredam, seolah ada seseorang yang mengikuti jejaknya. Ia berhenti sejenak dan menoleh, hanya untuk mendapati ruang yang kosong. Namun, sensasi seperti ada bayangan yang bergerak di sudut matanya tak pernah hilang. Di tengah kegelapan, mata Naira menangkap sesuatu yang mencurigakan di sudut ruangan—sebuah meja tua yang terbuat dari kayu yang sudah lapuk. Di atas meja itu, ada sebuah kotak kecil yang terbuat dari logam hitam, seperti sebuah peti rahasia. Dengan hati-hati, Naira mendekati meja itu, seakan ada daya tarik yang tak bisa ia hindari. Ia duduk di bangku yang ada di samping meja itu dan membuka kotak kecil tersebut. Begitu tutup kotak terbuka, suara berderit yang menakutkan membuatnya terlonjak, namun ia hanya bisa terdiam. Di dalamnya, ada sebuah kunci tua yang terbuat dari besi berkarat, dan di bawahnya ada secarik kertas yang tampaknya sudah sangat tua. "Ini... apa?" Naira berbisik kepada dirinya sendiri, merasa aneh dengan penemuan ini. Ia mengangkat secarik kertas itu, dan di atasnya tertulis dengan tinta yang hampir pudar, "Gunakan kunci ini untuk menemukan apa yang tersembunyi di balik pintu yang lain." Tiba-tiba, Naira merasa ada angin dingin yang menyapu wajahnya. Ketika ia menoleh, sebuah suara bergumam terdengar di belakangnya, "Jangan buka itu." Kaget, Naira menoleh cepat, hanya untuk melihat bayangan yang melintas begitu cepat dan menghilang di dalam kegelapan. Ada ketakutan yang mencekam hatinya, tapi ia merasa seperti terikat dengan misteri yang harus dipecahkan. Tanpa pikir panjang, ia menyimpan kunci dan kertas itu di dalam tasnya dan berdiri. "Siapa itu?" Tanyanya dengan suara parau, tetapi tidak ada jawaban. Suasana di sekitar semakin terasa berat, seperti ada tekanan yang datang dari udara itu sendiri. Ia melangkah maju, mencoba untuk tidak terpengaruh oleh rasa takut yang menyelimutinya. Di depan, ada sebuah pintu yang berbeda dari pintu-pintu sebelumnya—pintu kayu tua yang terlihat lebih kokoh dan terawat daripada yang lain. Di atasnya, ada ukiran aneh yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Tanpa bisa menahan rasa ingin tahu, ia melangkah mendekat. Dari dalam dirinya, sebuah suara memaksa untuk segera membuka pintu itu, meskipun hati kecilnya berteriak untuk berhenti. Naira mengeluarkan kunci tua yang baru saja ditemukan dan mulai mencoba memasukkannya ke dalam lubang kunci pintu. Namun, kunci itu terasa berat, seolah menahan dirinya, menuntut lebih banyak usaha untuk dibuka. Dengan satu dorongan terakhir, pintu itu akhirnya terbuka dengan suara keras yang memecah keheningan. Begitu pintu terbuka, Naira langsung disambut dengan pemandangan yang membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Di dalam ruangan itu, terhampar berbagai benda tua—seperti buku-buku yang sudah pudar, kotak-kotak kosong, dan alat-alat aneh yang tidak ia kenal. Namun, hal yang paling mengejutkannya adalah sebuah gambar besar yang tergantung di dinding. Gambar itu menunjukkan sosok seorang wanita, namun wajahnya tertutup dengan bayangan gelap yang seolah bergerak. Naira merasa seperti sedang melihat wajahnya sendiri, meskipun tidak sepenuhnya jelas. Ia merasa pusing seketika, dan sebuah suara kembali bergema di telinganya. "Jangan dekati gambar itu," suara itu berbisik, kali ini lebih jelas dari sebelumnya. Itu adalah suara yang ia dengar saat pertama kali memasuki ruangan ini. Namun, rasa penasaran Naira lebih kuat daripada rasa takutnya. Ia melangkah maju, dan begitu tangannya hampir menyentuh gambar itu, sebuah ledakan cahaya terang memancar dari lukisan tersebut, membuat matanya terpejam karena silau. Ketika ia membuka mata, semuanya telah berubah. Ruangan yang semula gelap dan penuh debu kini tampak berbeda—lebih terang dan terasa lebih hidup. Di depan matanya, berdiri seseorang yang tidak pernah ia kenal. Seorang pria dengan pakaian gelap yang tampaknya tidak sesuai dengan zaman ini, dan matanya penuh dengan misteri. Ia tersenyum padanya, tetapi senyumnya tidak mengandung kehangatan sama sekali—hanya keheningan yang menegangkan. "Siapa kamu?" Naira bertanya, suaranya serak. Pria itu hanya menggelengkan kepala, "Kamu telah membuka pintu yang tidak seharusnya dibuka. Dan kini, kamu terikat dengan takdir yang tak bisa dihindari." Naira merasa tubuhnya kaku, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menguasai dirinya. Dia mencoba mundur, tetapi langkahnya terasa berat. "Apa yang kamu inginkan?" Pria itu mendekat, masih tersenyum dengan tatapan yang tidak bisa ia mengerti. "Aku tidak menginginkan apa-apa, Naira. Kamu yang datang ke sini. Kamu yang mencari jawaban. Dan sekarang, kamu harus menerima konsekuensinya." Ketika pria itu melangkah lebih dekat, Naira merasa ada sesuatu yang sangat salah. Ruangan itu mulai berputar di sekelilingnya, dan semua yang ia lihat kini terasa kabur. Satu hal yang pasti: Naira sudah masuk lebih dalam ke dalam misteri ini, dan tidak ada jalan kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN