Bab 5: Bayangan yang Tersisa

894 Kata
Pintu yang baru saja Naira buka menuntunnya ke dalam ruangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Udara di dalam ruangan terasa lebih dingin, seakan-akan waktu telah berhenti di tempat ini. Cahaya yang datang dari kristal yang Naira pegang memancar lebih terang, menyoroti sekeliling dengan sinar biru yang tajam. Namun, meskipun ruang ini tampak penuh dengan benda kuno, ada sesuatu yang berbeda di sini. Sesuatu yang seolah menunggu. Langit-langit yang tinggi dan retak terlihat begitu gelap, dengan bayangan yang menggerak-gerakkan dirinya seolah mengawasi setiap langkah Naira. Di ujung ruangan, sebuah meja besar terbuat dari batu hitam, dihiasi dengan ukiran-ukiran yang sudah hampir hilang termakan waktu. Di atas meja itu, ada sebuah benda yang sangat menarik perhatian Naira. Sebuah kotak kecil yang tampaknya terbuat dari kayu gelap, dengan simbol-simbol aneh yang mengelilinginya. "Ini... apa?" gumam Naira, matanya tertuju pada kotak tersebut. Sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, suara langkah kaki yang pelan terdengar di belakangnya. Tanpa berbalik, Naira merasakan ada sesuatu yang mendekat. Seperti ada seseorang yang mengikutinya, meskipun tidak ada jejak kaki yang jelas. Ia menahan napas, berusaha untuk tidak panik. Hanya kristal biru di tangan yang memberi penerangan di ruangan ini. Tiba-tiba, suara bisikan terdengar kembali, kali ini lebih jelas dan mengganggu. "Kamu tahu apa yang harus dilakukan," suara itu seperti datang dari dalam pikirannya, seakan-akan ada kekuatan yang menuntunnya, namun juga membuatnya merasa cemas. "Kotak itu adalah kunci dari semuanya." Naira menatap kotak itu lebih dalam. Keinginan untuk membukanya semakin besar, namun ia merasa seperti ada peringatan yang tak terlihat, sesuatu yang memperingatkannya untuk berhati-hati. Ia ragu, namun akhirnya memutuskan untuk mendekati meja batu itu. Langkah demi langkah, ia merasakan beban yang semakin berat, meskipun tubuhnya terasa ringan. Ketika ia sampai di depan meja, seketika bayangan di ruangan itu seakan bergerak lebih cepat. Sesuatu mulai terasa tidak wajar. Tangannya terulur ke kotak itu, dan ketika jari-jarinya menyentuhnya, sebuah energi kuat menyebar ke seluruh tubuhnya. Sebuah cahaya berkilau muncul dari celah kotak, mengeluarkan suara berdengung yang makin lama semakin keras. Naira mundur, namun kotak itu tetap berada di bawah jemarinya, seolah menahan sentuhannya. “Apa yang terjadi?” Ia mulai bertanya-tanya. Apa yang ada di dalam kotak ini? Apa yang dimaksud dengan ‘kunci’ yang disebutkan suara itu? Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam muncul dari dalam kotak, membentuk sosok yang tidak terlihat jelas. Naira terperangah, tubuhnya kaku. Sosok itu perlahan mulai terlihat, dan ketika akhirnya sosok itu menghadapnya, Naira hampir tak bisa bernapas. Itu adalah wajah yang ia kenal, meski penuh dengan bayangan gelap. Sosok yang muncul itu adalah ibu. "Ibu..." Naira bersuara pelan, suaranya tertahan di tenggorokan. “Apa yang terjadi? Apa yang sedang aku hadapi?” Sosok itu tersenyum dengan ekspresi yang tidak bisa ia pahami. Senyum itu seolah mengandung rahasia yang lebih dalam. "Kamu telah membuka pintu yang tak seharusnya dibuka, Naira. Sekarang kamu harus menanggung akibatnya." "Apa maksudnya, Ibu? Aku hanya ingin tahu kebenarannya! Apa yang ada di balik semua ini?" Naira mencoba mencari jawaban, namun rasa takut itu mulai menguasai dirinya. Sosok ibu itu tetap diam, hanya tersenyum penuh makna, sebelum perlahan menghilang kembali dalam kegelapan. Naira merasa tubuhnya seakan ditarik oleh kekuatan yang tak terlihat. Ia terpaku, tidak tahu harus berbuat apa. Semua ini terasa begitu nyata, begitu mengganggu, namun entah kenapa ia merasa seperti ini adalah jalan yang harus dilalui. Tak lama kemudian, sebuah suara keras terdengar dari arah kotak yang tadi ia sentuh. Suara itu seperti suara pintu yang tertutup rapat. “Tutup matamu, Naira,” suara itu kembali terdengar, kali ini dengan lebih jelas dan tegas. “Hanya dengan menutup matamu, kamu akan melihat dengan jelas.” Naira merasa ragu, namun suara itu terdengar begitu meyakinkan. Perlahan, dengan gemetar, ia menutup matanya, berharap bisa mengerti apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Ketika matanya terpejam, suasana ruangan berubah dalam sekejap. Ia merasa seakan berada di tempat yang sangat jauh. Tidak lagi di ruang ini, namun di suatu tempat yang lebih gelap, lebih sunyi. Suara-suara aneh terdengar dari segala penjuru. Naira merasakan ada sesuatu yang berputar-putar di dalam kepalanya, seakan-akan ia terjebak di dalam dunia lain. Setelah beberapa detik yang terasa seperti jam, Naira membuka matanya, dan dunia di sekitarnya berubah. Ia tidak lagi berada di ruangan yang gelap dan penuh rahasia itu. Sebaliknya, ia berada di sebuah ruangan yang terang benderang, dengan meja kayu besar di depannya. Sebuah kotak terbuka dengan isinya yang tampak biasa, hanya berisi kertas-kertas tua yang terlihat sangat usang. Namun, di atas kertas itu, terdapat sebuah tulisan besar yang membuat hati Naira berdegup kencang. "Jangan pernah percaya pada apa yang terlihat." Tulisannya sederhana, namun terasa sangat mengerikan. Naira merasa seperti ada sesuatu yang mengancam, seolah seluruh dunia ini adalah ilusi yang lebih besar dari yang ia bayangkan. Bagaimana bisa tulisan itu muncul? Siapa yang menulisnya? Apa yang harus ia lakukan sekarang? Sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, suara itu kembali terdengar, lebih mendalam dan penuh dengan kekuatan. “Sudah waktunya kamu memahami semua ini. Kamu akan segera tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik semua ini, Naira. Tak ada jalan kembali.” Naira menelan ludah, namun seiring kata-kata itu terucap, pintu yang tertutup rapat di ruangan sebelumnya terbuka sedikit. Sebuah cahaya terang keluar dari celah pintu itu, mengundang Naira untuk melangkah masuk ke dalam. Ia tahu, ini adalah pilihan yang harus diambil. Naira menarik napas dalam-dalam, menatap pintu yang terbuka lebar, sebelum akhirnya melangkah maju, memasuki ruang yang lebih gelap dan lebih penuh rahasia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN