"Kar... gue ada tiket nonton bioskop malam ini. Mau ikut?" Pian mengangkat dua tiket bioskop dengan senyumannya yang manis. Ia sedang menjalankan misi. Trik pertama, tawarin Karam gratisan.
"Sorry. Gue sibuk." Karam menjawab dengan ekspresinya yang kelewat menyebalkan. Perempuan itu mengambil tasnya dan keluar dari café kampus, hendak pulang. "Lagian bukannya skorsing lo masih kurang dua hari?"
"Gue dilarang masuk kelas, bukan berarti gue haram nginjak tanah kampus." Pian menatap Karam yang beberapa kali membalas sapaan para pengunjung tetap café kampus. Karam punya caranya sendiri untuk menjadi famous.
"Gue traktir makan pizza sambil nungguin film mulai." Trik kedua, Karam paling tidak bisa menolak perihal makanan. Dilihat dari bagaimana perempuan itu berhenti melangkah dan menatap Pian dengan pandangan bimbang.
"Pizza?"
Pian mengangguk antusias. "Iya! Yang ada ekstra kejunya!"
"Yang besar? Yang harganya dua ratus ribuan itu?"
"Iya deh yang itu!" Padahal niatnya Pian ingin membelikan yang seharga seratus lima puluh ribuan. Tapi berhubung mulut Karam udah ileran, ia mana tega untuk menolak.
Karam memicingkan matanya curiga, "Tumben lo baik ama gue?"
"Demi penguasa bumi dan surga! Gue selalu baik ama lo! Lo-nya aja yang keblinger!" Pian menatap Karam tidak percaya. Bagaimana bisa Karam menutup mata atas semua pengorbanannya yang berdarah-darah ini.
"Gue belum makan nih. Tadi Nissa mau traktir tapi ternyata pulang duluan."
Kode keras! Pian membatin, Karam kadang menjadi sangat menyebalkan jika seperti ini. Ralat, Karam selalu menyebalkan.
"Iya, iya mau makan di mana sayang?" tanya Pian dengan sabar dan setengah pasrah. Trik ketiga, turuti saja kemauan Karam.
Karam tertawa lalu memukul lengan lelaki itu. "Geli b*****t," ucapnya.
"Aduh mulutnya... siapa yang ngajarin?!"
"Elo nyet..."
"Masa gue? Kapan gue ada bilang kata kotor begitu?"
"Tiap hari!" Karam menarik lengan Pian untuk melanjutkan jalan mereka. "Di mana motor lo?" tanya Karam.
"Di parkiran FE lah."
"Lah kampret, muter dong kita?"
"Lo tunggu sini aja, gue ambil motor dulu." Pian menyuruh Karam untuk duduk di depan gedung Fakultas Sastra. Namun perempuan itu malah mengikutinya.
"Gue ikut deh," ucapnya.
Pian menatap Karam dalam beberapa saat. Tangannya kemudian terulur untuk menarik pipi Karam dan mendapatkan umpatan gratis dari perempuan itu. "So sweet deh, pasti takut gue tinggalin," ujar Pian dengan percaya diri.
Karam menatap Pian aneh lalu memilih duduk. "Nggak jadi, lo pergi sendiri gue tungguin di sini," ujarnya berubah pikiran.
Pian melotot, lalu menarik Karam dengan paksa. "Nggak boleh, ayo ikut!" serunya turut berubah pikiran.
***
Tentang Karam Anantavirya. Pian mengenalnya ketika waktu masih menjadi mahasiswa baru. Perempuan cantik itu menjadi bulan-bulanan senior ketika MOS karena sama sekali tak membawa perlengkapan yang diperintahkan. Karam hanya diam dengan wajah datar kelewat tidak peduli. Ia menjawab seadanya dan sama sekali tidak mengenal takut. Karam bahkan samapai di panggil dosen penanggungjawab karena selama tiga hari berturut-turut tidak membawa perlengkapan.
Hebat. Pikir Pian waktu itu. Mungkin Karam adalah mahasiswa baru yang ingin mendobrak peraturan. Dan melakukannya sejak awal perkuliahan adalah hal yang benar-benar gila. Pian pikir, Karam adalah tiper mahasiswa yang akan menginkat kepala dan membawa spanduk unjuk rasa tinggi-tinggi. Tetapi, ternyata bukan itu masalahnya. Karam hanya merasa membeli perlengkapan itu tak beda dengan buang-buang uang.
Sejak itu, muncul panggilan baru untuk Karam Anantavirya, gelandangan cantik Fakultas Ekonomi. Karam tidak terlihat terganggu, tapi anehnya Pian yang merasa sangat terganggu. Pada minggu pertama perkuliahan, Pian sudah tiga kali berkelahi dengan kakak senior yang memanggil Karam dengan sebutan gelandangan.
"Gue masih bingung gimana lo tau rumah gue?" Karam bertanya dengan sebuah pizza potongan besar di tangannya.
Ada banyak hal yang Pian tahu tentang Karam. Pian memiliki kebiasaan memperhatikan Karam diam-diam. "Pertanyaan retoris," ucap Pian sambil melahap pizza dan menariknya hingga kejunya melar.
"Lo ngikutin gue, buat apa coba?"
"Iseng..." jawab Pian kelewat kalem.
Tentang Pian, Karam tak terlalu mengenal lelaki itu selain karena reputasi Pian yang sering membuat onar. Pian memang seringkali berada di sekitarnya namun Karam terlalu sibuk pada dunianya. Terkadang, ada begitu banyak orang yang terlalu takut untuk menyadari. Dan hal itu terjadi pada Karam. Karam ingin menebak namun ia takut untuk menjadi terlampau naïf.
"Terus lo traktir gue kayak gini juga buat apa?"
Harusnya, Karam bisa menebak-nebak sendiri.
"Gue pengen nyenengin lo," ujar Pian dengan ringan.
Jujur saja, Karam sedikit tersentuh. Kapan terakhir kali ada seseorang yang ingin menyenangkannya? Keluarga adalah hal yang tidak mungkin dan teman Karam hanya bergelut pada beberapa orang.
"Lo kasihan ama gue?" Karam tidak akan marah jika sekiranya Pian akan mengatakan ya. Karam bukan perempuan naïf yang akan marah-marah atas sebuah rasa kasihan. Dikasihani tidak akan membuat harga dirimu jatuh, anggap saja itu hanyalah sebuah rasa simpati. Karam bahkan pernah memanfaatkan rasa simpati beberapa dosen dan berakhir dengan ia mendapatkan uang saku. Tak ada yang salah dari sebuah rasa kasihan. Sejak menangis untuk kali pertama, manusia sudah dianugrahi perasaan itu.
"Gue nggak kasihan, tapi gue ada kasih ama lo," Pian tersenyum dengan manis, hingga membuat lesung pipinya nampak dengan jelas.
Karam merasa sentakan aneh di hatinya yang menghangat. Ia tahu tapi ia menolak untuk tahu. Senyuman Pian masih sama seperti biasanya, namun baru kali ini ia memperhatikan dengan benar. Senyuman Pian bisa menularkan senyuman yang hampir sama padanya. Karam meyakinkan diri bahwa Pian hanya main-main. Lelaki itu memang seringkali melayangkan gombalan-gombalan aneh. Namun, Karam menghargai bahwa gombalan itu sedikit meringankan hari-harinya yang sulit.
"Dan... sejak kapan anak ekonomi bisa ngegombal ngalahin anak sastra?"
Pian tertawa dan kali ini Karam benar-benar mengangkap tawa Pian. Perlu Karam akui bahwa Pian sangat tampan. Lelaki itu mungkin bisa menggaet seluruh anak satu angkatan.
"Gombalan gue nggak bisa dibilang berhasil kalau cewek yang namanya Karam belum tersipu-sipu."
"Maaf ya... yang namanya Karam Anantavirya nggak akan kemakan ama gombalan kayak gitu."
"Hem... berarti gue harus banyak belajar lagi..."
Hari itu adalah hari pertama Karam menonton bioskop. Sebelumnya Karam tidak pernah memasuki tempat besar itu karena berpikir untuk apa buang-buang uang ketika kita hanya perlu bersabar untuk mendapatkan versi gratisan. Dan karena Pian, sekarang Karam tahu bahwa yang menyenangkan dari bioskop adalah sensasinya yang lebih berasa. Sensasi saat melihat senyum gulali dari lelaki brandal tepat ketika lampu bioskop belum dipadamkan.
Semalaman itu, Karam menghabiskan waktu dengan lelaki bernama Pian. Lelaki yang tak pernah membuatnya bosan untuk sekedar pulang ke rumah yang sepi.
"Kadang gue iri sama lo," Karam membuka suara. Mereka kini duduk di salah satu kursi pinggir jalan dengan sebuah cilok hangat di tangan masing-masing.
"Iri kenapa?"
"Nama lo bagus," ujar Karam sambil menatap beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Tengah malam membuat Kota Jakarta tak sesibuk pada jam kerja. "Pian. Orangtua lo pasti seneng banget waktu lo lahir."
Pian mengerutkan keningnya. Ia sudah menyandang nama itu selama bertahun-tahun tapi ia masih berpikir namanya biasa saja.
"Kalau lo ngenalin diri pake bahasa Inggris, bakalan jadi I'm Pian. Impian. Gue pikir pasti itu asal-usul nama lo," Karam tertawa kecil atas pemikirannya.
"Karam," panggil Pian. Karam menoleh, menatap lelaki yang melihat fokus kearah lalu lalang kendaraan. "Bumi ini penuh rahasia, bahkan sebuah nama. Manusia selalu terpaku pada hal buruk dan melupakan beribu kebaikan." Pian memiringkan kepalanya sedikit. Sudut bibirnya masih terlihat membiru. "Nama lo bukan cuma Karam, tapi Karam Anantavirya." Pian mengambil rokok dari saku kemejanya. Melepaskan topi dan menyalakannya diantara keheningan, menyesapnya lamat-lamat. "Lo lebih tau artinya dibanding orang lain."
Ucapan Pian seakan menohoknya. Kalimat-kalimat itu entah mengapa seakan menggores hatinya. Bukan ucapan Pian yang membuatnya sakit hati, melainkan karena apa yang Pian ucapkan adalah sebuah kebenaran.
Namanya Karam Anantavirnya. Dan ia lebih tau dengan akrab tentang namanya dibandingkan orang lain.
"Lo sama kayak mahasiswa lain. Nggak ada bedanya." Pian melanjutkan. "Jangan merasa berbeda. Tapi kalaupun lo nggak bisa menyamakan diri, itu berarti lo istimewa." Kalaupun tidak bagi orang lain, lo istimewa bagi gue. Pian menambahkan dalam hati.
Karam bertanya-tanya. Sejak kapan Pian memperhatikan dirinya hingga menyadari hal yang selama ini ia pendam. Karam mungkin terlihat cuek dan baik-baik saja, namun ada rasa sakit ketika ia dipandang berbeda oleh mahasiswa fakultasnya. Terkadang Karam bertanya pada semesta, apakah salah menjadi orang miskin?
"Kenapa tiba-tiba bahas ini?" gumam Karam.
"Gue nggak tau kapan bisa punya kesempatan ngomong ini. Lo selalu sibuk bangun pagar agar gue nggak mendekat." Pian menolehkan kepalanya, menatap penuh kearah Karam. "In
Karam selalu menunggu seseorang mengatakan hal ini. Di sudut hatinya yang penuh dengan rasa sepi, Karam selalu menunggu seseorang untuk menemaninya. Ibu membuangnya ketika bayi. Ayah mengabaikannya. Dan Nenek diambil paksa oleh saudara lain. Meninggalkan Karam yang harus berdiri sendiri melawan dunia.
Karam takut, ketika ia membiasakan diri untuk tidak sendiri, pada akhirnya semua orang akan dipaksa pergi darinya.
"Gue nangis nih," gerutu Karam menyalahkan Pian. Menangis dengan seseorang di sampingnya adalah hal baru bagi Karam. Karam
"Bagus, itu yang gue tunggu." Pian merangkul Karam, memperlakukannya seperti teman lama. "Karam ternyata beneran manusia, bukan alien yang diselundupkan galaksi."
"Sialan..." hanya terlambat menyadari bahwa hidup ini bukan hanya tentang dirinya saja. Manusia hidup dengan saling berbagi takdir satu sama lain.
"Duh... mulutnya..."
Hari itu, Karam sadar bahwa ia memiliki Pian sebagai... entahlah. Karam tidak tahu nama hubungan yang cocok bagi keduanya. Yang jelas Karam menemukan seseorang yang bisa ia sandari ketika lelah, untuk terus melawan dunia.