"Sepertinya iya. Yuk masuk." Dion menggandeng tangan Sena memasuki toko milik Glenn. Dion juga tidak tahu menahu soal toko yang Glenn kelola, jadi ia sedikit terpana, Glenn kepikiran membuat bisnis toko bunga. Di atas toko Glenn, terpampang nama tokonya. Glenn florist. "Waah, bunganya bagus, Sena suka." Sepanjang perjalanan, Sena tak henti-hentinya memuji semua bunga yang dijual di sini. Ehm, kalau melihat bunga-bunga ini. Sena jadi ingat rumah Dion. "Dion." "Iya?" "Nanti ke rumah mama yuk." "Ngapain?" ucap Dion tersentak. Pasalnya di rumah ada sang ayah. Ia sedikit tidak nyaman mempertemukan Sena dengan sang ayah. Bukan ia tidak mau mengenalkan Sena, hanya saja waktunya kurang tepat. Dion sungguh tahu, bagaimana tabiat sang ayah. "Kirimin mama bunga … Mama, kan suka bunga."

