Innocence 13

1188 Kata
"ssttt sstttt lo tau gak kenapa tuh anak uringan uringan..,?"tanya Yuda sambil menatap Leo yang tidak jauh darinya "lagi pms kali"jawab Reihan sekenanya dengan pandangan fokus pada games yang tengah dia mainkan, "echemmm bos.... Tawaran buat katalog si Rian minggu depan jangan lupa ya di Bandung.,"ucap Yuda mulai mencairkan muka kusut Leo yang tengah menatap ponselnya tanpa berkedip. "heh monyet lo dengerkan"kesal Yudha karena Leo malah mengabaikannya dan kini malah bersiap siap untuk pergi "lo atur aja, gue cabut."jawab singkat Leo kemudian berlalu meninggalkan Yudha dan Reihan yang masih geleng geleng melihat tingkah sahabatnya itu. Mereka Jarang sekali melihat Leo berwajah kusut seperti yang dia tampilkan sejak pagi. Leo berjalan menyusuri koridor kampus sesekali masuk kebeberapa kelas mencoba mencari gadis cupu yang hampir sebulan ini ada di hidupnya... Dan mengganggunya, mungkin memang tersa mengganggu di awal tapi nyatanya kini malah dia sendiri yang kelimpungan mencari Zara. Dua hari setelah kejadian dimana Zara terlihat kesal dia tidak masuk kuliah dan ponselnya sulit dihubungi, awalnya Leo berniat akan mendiamkannya sampai Zara sendiri yang minta maaf, menunggu telepon atau sekedar sms yang biasa gadis itu kirimkan padanya meskipun hanya mengingatkan pasal bimbingan atau kelas apa yang harus di masuki tiap harinya... Dan selama dua hari ini ponselnya yang biasanya jarang dia cek setiap saat tidak pernah lepas dari genggamannya hanya untuk meliht pesan atau panggilan masuk dari zara...niat awal ingin mendiaminya malah sekarang sebaliknya dirinya sendiri yang dibuatnya ketar ketir.. "heh lo tau dimana Zara..,?"tanya Leo saat melihat selena keluar kelas, Selena menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Leo. "enggak gue juga nyari dia...enggak biasanya dia gak ma...."ucapan Selena terhenti saat Leo dengan santainya berlalu meninggalkan Selena tanpa sepatah katapun. Namun dengan gerakan cepat entah keberanian dari mana yang Selena miliki sekarang dirinya sudah berhenti di hadapan Leo dan menghalangi jalannya. "ngapain lo minggir.!"ucap Leo sambil mengibaskan tangannya namun itu malah membuat Selena tidak beranjak dan hanya menundukan kepalanya. Dengan bercampur rasa takut Selena akhirnya perlahan mengangkat wajahnya. "nanti sore Jeni ngajakin kita buat ngebahas masalah projek selanjutnya"ucap selena membuat Leo hanya menatapnya dengan tatapan datar, berbeda dengan cowok cowok yang lain yang akan dengan bangganya memamerkan kelebihan yang mereka miliki saat berhadapan dengan Selena Sang Dewi di kampus Atmajaya ini. Sedangkan Leo bahkan menatapnya dengan tatapan tidak peduli sama sekali. "gue gak peduli" ucap Leo dengan penuh penekanan di setiap katanya setelah itu kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari Zara dan dengan sengaja menubruk bahu selena dengan kasar. "untung suka."ketus lena sambil terus memandangi punggung Leo yang semakin menjauh,dirinya juga tidak mengerti kenapa bisa menyukai Leo yang dengan terang terangan menatapnya dengan tatapan tidak suka.mungkin ini yang dinamakan cinta Buta batin selena Leo terus berjalan mencari satu orang lagi yang mungkin tau keberadaan Zara meskipun rasanya berat tapi demi mengetahui keberadaan Zara, leo mengesampingkan egonya. Leo dan Rendi sama sama menghentikan langkah mereka saat tatapan mereka bertemu, Rendi sudah bisa menebak bahwa Leo pasti akan menemuinya... "lo tau kan dimana Zara..,?"tanya Leo dengan suara dinginnya dan tatapan tajamnya yang langung di arahkan pada Rendi yang menganggapnya acuh. "kalau emang gue tau, lo mau apa hem.,?"tanya Rendi membalas tatapan Leo tidak kalah Tajamnya membuat orang orang sekitar mereka mulai berbisik bisik, karena sudah menjadi rahasia umum jika hubungan Rendi dan Leo memang tidak akur, mereka selalu menabuh genderang perang setiap saat dan juga publik tidak mengetahui pasti apa penyebab pastinya mereka tidak pernah akur. "dimana dia..,?" "bukan ursan lo.,"jawab Rendi kemudian berlalu meningalkan Leo dengan tangan terkepal...baru beberapa langkah Rendi kembali tertarik kebelakang saat Leo mencengkram bahunya "lo jangan main main sama gue...atau lo gue abisin"desis Leo tepat di depan wajah Rendi .Rendi menghentakkan cengkraman Leo dan mendorong bahunya dengan tidak kalah kasarnya. "buat apa lo nyariin Zara, lo gak sadar udah nyakitin dia dengan kelakuan kasar lo hah,lo kira Zara tahan nerima semua perlakuan lo, untuk itu sekarang dia milih untuk ngejauh dari lo.,"jelas Rendi dan langsung mendapatkan bogeman mentah dari Leo yang memang selama dua hari ini dia pendam dan sepertinya Rendi adalah sasaran empuk untuk menumpahkan segala emosi yang dia rasakan saat ini. Bbugh "bacot lo anjing.....cepet bilang dimana Zara sebelum gue bener bener abisin lo"sentak Leo sambil terus memukul Rendi Yudha dan Reihan yang kebetulan lewat segera menahan Leo agar menghentikan aksi brutalnya... "bos bos bos santai, lo bisa kena masalah." ucap Reihan sambil menahan bahu Leo namun di tepis kasar oleh Leo "gue gak butuh informasi dari lo buat nemuin Zara..gue akan nyari dia dengan usah gue dan asal lo tau setelah gue nemuin keberadaannya gue gak bakalan lepasin dia, lo denger itu "ancam Leo kemudian mengambil ranselnya yang tergeletak dan berlalu meninggalkan Rendi dengan darah disudut bibirnya "lo gak apa apa bro.,?"tanya Yudha mencoba membantu Rendi untuk berdiri "gak pa pa"jawab Rendi sambil menyapu sudut bibirnya dan berlalu meninggalkan yuda dan Reihan yang sedikit terheran heran "heh t*i gue rasa ini cinta segitga beneran"ucap Yuda "gue juga...gak nyangka tuh anak monyet bakalan bener bener suka sama si Zara."jawab Reihan "emang iya si bos suka si Zara"tanya yudha "aishhhh lo ya...kagak liat gimana marahnya tuh anak  kagak nemuin si Zara selama dua hari...biasanya mana  pernah dia kayak gitu sama cewe"jelas Reihan membuay Yuda mengangguk anggukan kepalanya, membenarkan analisis yng Reihan sampaikan padanya. "iya juga ya, apa harus kita bantu nyari si Zara"tanya yudha "kita bantu aja deh kasian tuh si bos uring uringan mulu kita juga yang kena imbasnya..." "eh eh kalau kita bantu gagal dong dapet mobil sport kita" "kagak apa lah...demi sahabat"jawab Reihan sambil menatap Yudha..mereka saling beradu pandang dan tersenyum "persahabatan bagai kepongpong...berubah ulat menjadi kupu kupu...persahabatan bagai kepompong...." nyanyian mereka berdua menggema di koridor kampus membuat para pendengar tak kuasa menahan tawanya melihat kekonyolan mereka Sedangkan di tempat lain...Leo menatap rumah sederhana itu berharap Zara ada..namun saat dirinya mencoba mengetuk pintu tidak ada seorang pun yang menjawa dan memilih untuk kembali kedalam mobil, berharap menemukan orang yang membuka pintu itu... Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam namun pintu sederhana yang sedari tadi dia awasi tidak pernah terbuka sedikitpun, leo berniat untuk kembali besok pagi pagi sekali namun niatnya terhenti saat seseorng melangkah  menuju rumah itu dan membuat Leo cepat cepat turun dari mobilnya tidak akan melewatkan kesempatannya kali ini "dimana Zara..,?"kalimat pertama yang keluar dari mulut Leo tanpa menyapa atau sekedar permisi pada seorang lelaki yang berada di depannya Lelaki yang notabene kaka Zara menatap Leo dari atas sampai bawah... "siapa lo..,? Kenapa nyari adek gue.,"bukannya menjawab Rio malah balik bertanya "gue temen Zara...gue ada tugas kuliah dan satu kelompok..gara gara dia gak masuk beberapa hari ini...tugas gue jadi ketahan..jadi gue nyariin dia sampe kesini"kalimat terpanjang yang Leo ucapkan didepan orang asing dan itu demi mencari Zara... "mending lo balik aja...dia gak bakalan kuliah sampe akhir pekan...jadi lo tunggu aja okey...dah pulang sono...cape gue"usir Rio sambil mengibas ngibaskan tangannya setelah itu berlalu meninggalkan Leo yang masih terdiam di hadapan pintu kayu rumah Zara tanpa bergerak sedikitpun, bukan jawaban seperti itu yang Leo butuhkan, Leo kemudian hendak menggedor pintu tersebut namun tangannya terhenti, percuma jika Leo terus bertanya pada kakaknya itu yang sepertinya tidak berniat untuk memberitahu Zara sejak Awal. Leo kemudian mengusap wajahnya frustasi tidak tahu lagi harus bagaimana agar tahu keberadaan Zara sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN