Innocence 14

1084 Kata
satu minggu  kemudian Selama satu minggu ini Leo benar benar dalam mood terburuknya..bahkan kedua sahabatnya tidak berani hanya untuk mengganggunya, Reihan dan Yudha cukup waras untuk mempertahankan wajah mereka agar tidak babak belur jika berhadapan dengan Leo. "dalam mode senggol bacok tuh anak monyet."bisik Yudha yang di angguki oleh Reihan Reihan berdehem mencoba membuka suara berharap nyawanya tidak melayang setelah mencoba mengeluarkan suaranya itu"echemm Bos..apa perlu kita bantuin cari Zara" tawar Reihan.. "gue gak nyariin dia."jawab santai Leo dengan masih menatap layar ponselnya membuat Reihan dan yudha menahan kedua tangan mereka agar tidak melemparkan sesuatu pada kepala Leo yang masih menyangkal sikapnya itu. "yakin Bos..."tanya Reihan sekali lagi membuat Leo akhirnya mendongak dan menatap tajam kedua sahabatnya "Bacot lo sekali lagi...ni sepatu melayang ke muka lo"geram Leo seperti tidak suka tertangkap basah oleh kedua sahabatnya itu. "santai bos...kita cuman gak mau lo kayak gini." "Emangnya gue kayak apa..."potong Leo yang kembali menatap benda pipih ditangannya "Nah itu kayak gitu...mantengin foto si Zara mulu dari tadi..."Sontak ucapan yudha membuat Leo beralih menatapnya.. "Udahlah Lo jujur aja...kita juga udah tau Lo kayak gimana sama si Zara.. lo demen kan sama tu anak" "Jangan asal bacot."kilah Leo dengan masih keras kepalanya, "eh t*i mending Lo jujur sama perasaan lo secepatnya sebelum lo terlambat Lo gak curiga apa sama si Rendi,selama seminggu si Zara ngilang tu anak santai santai aja dan yang gue perhatiin Lo yang malah kayak orang Gila."ucap yudha membuat Leo terdiam seakan membenarkan apa yang yudha Sampaikan pada "Bener  tuh  bos...kita mah kagak masalah taruhan kita dibatalin asal lo bahagia dah sumpah, jadi lo kagak usah gengsi gengsi lagi ngakuin perasaan lo sama si Zara, sebelum si ren____eh eh bos bos gue belum selesai ngomong woiii t*i, anak monyet...settdahhh tu orang"Sumpah serapah Reihan di abaikan karena Leo terus melanjutkan langkahnya meninggalkan kedua sahabatnya yang masih kesal di buatnya Leo mengambil langkah panjang menuju ruangan dimana dosen yang biasa membantu Zara sekaligus yang menujuk Zara sebagai guru pembimbingnya selama ini Brakkkkk Seperti biasa Leo akan langsung masuk tanpa embel embel mengetuk pintu apa lagi permisi "Di mana Zara..,?"tanya Leo langsung membuat Rosa yang tengah melakukan pekerjaannya langsung menatap kearahnya dengan tatapan tidak suka sekaligus menggelengkan kepalanya. "Leo sudah berapa......" "apa tuh anak izin atau cuti dari kampus ini.,?"potong Leo yang tidak ingin mendengatkan ceramah panjang Lebar dari Rosa karena niatnya datang hanya untuk mengetahui keneradaan Zara yang samapi saat ini membuatnya benar benar tidak fokus. "Zara izin.."jawab pasrah Rosa yang sudah biasa tidak dihargai sebagai rektor dikampus ini oleh seorang Leo, "Berapa lama.?dia Izin kemana..,?apa dia sakit.,?"tanya Leo membuat Rosa sedikit mengerutkan keningnya, tidak menyangka jika mereka sedekat itu untu Leo bisa mencari keberadaannya. "ibu juga enggak tahu Leo...laporan dosen nya zara hanya izin..dia...."sebelum Rosa melanjutkan ucapannya Leo lebih dulu keluar ruangan tanpa mengucapkan terimakasih sedikitpun "untung cucu pemilik kampus."gumam rosa sambil mengelus dadanya, dalam angannya Rosa ingin sekali tertimpa durian Runtuh agar bisa membeli seluruh aset Atmaja dan membalas semua perlakuan Leo namun itu memang hanya sebatas angannya saja tidak lebih. *** Leo terus melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil, niatnya untuk mencari tahu dimana Zara benar benar buntu, Leo tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bisa menemukan gadis yang biasa mengganggunya itu Brakkkkkk Menutup pintu mobil dengan kasar kemudian menyenderkan punggunya kesandaran kursi sambil memejamkan matanya Kata kata Reihan dan Yudha benar benar mempengaruhi kepalanya, "hah apa iya  gue suka cewe culun itu" gumam Leo sambil tersenyum miris sambil membayangkan wajah zara yang terlintas di fikirannya Pertamakali dia melihat wajah Zara dari dekat saat dia mengerjainya di rooftop sampai Zara harus di larikan kerumah sakit....saat angin membuat rambutnya tidak lagi menutupi wajahnya yang cantik meskipun tanpa di polesan makeup apapun.... Bahkan saat Leo dekat dengannya hanya tercium wangi segar seperti bunga camomile. Selama ini bukan gadis seperti Zara yang Leo kira bisa menarik hatinya....setidaknya dia menarik dalam hal penampilan bukan gadis seperti Zara yang selalu mengenakan kemeja kebesaran atau baju bunga bunga dengan rok lipitnya tapi itu semua yang mungkin membuat Zara berbeda sehingga leo benar benar tertarik pada Zara... Lamunan Leo terhenti saat ponselnya berdering... Drt drt drt Cewek lipit calling.... Mata Leo membulat dan tanpa menunggu lama lagi Leo langsung mengangkat panggilan telpon dari Zara "hallo Leo.."ucap Zara dari sebrang sana. Deg deg Leo tidak pernah menyangka jantungnya akan menggila seperti ini hanya karena mendengarkan suara Zara, Leo tidak pernah menyangka suara ini akan sangat ia rindukan dan jauh sebelum ini juga Leo tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan di buat kelimpungan hanya karena tidak melihat Zara beberapa Hari, semua itu benar benar tidak pernah terbayangkan apalagi terfikirkan oleh Leo. "Lo dimana..?"tanya Leo dengan suara datarnya mencoba mengontrol dirinya sendiri.agar tidak langsung memberondongi Zara dengan pertanyaan pertanyaan yang memenuhi kepalanya saat ini. "eh maaf  gak ngabarin leo seminggu ini...leo nyariin aku ya...kata kak rio sih..." "Lo dimana..,?"tanya Leo sekali lagi memotong ocehan Zara yang menurutnya sangat tidak penting,yang Leo butuhkan saat ini adalah mengetahui di mana keberadaan Zara. Leo tidak peduli lagi kemana Zara menghilang selama seminggu ini dan untuk apa, Lro benar benar tidak peduli. "leo marah...maaf deh pasti gara gara jam bimbingan leo keganggu ya..." "gue tanya lo dimana..,?"sentak Leo yang kali ini sudah benar benar tidak bisa menahan diri lagi untuk bertemu dengan zara "aku di restoran xx...."tanpa menunggu ucapan Zara selanjutnya Leo langsung mematikan sambungan telponnya saat Zara menyebutkan alamat tempat diaman dia berada dan langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi mengabaikan teriakan beberapa orang yang hampir dia tabrak...dalam fikirannya saat ini hanya bagaimana cara bertemu zara secepatnya dan entah dewi keberuntungan memang tidak berpihak padanya atau apapun...jalanan yang memang selalu padat merayap saat hari hari biasa, apalagi pada saat orang orang berdemo saat ini yang berhasil memblokade jalur lalu lintas membuat Leo harus memutar arah ke arah yang lebih jauh untuk sampai ke tempat dimana Zara berada.. Ditambah beberapa lampu merah yang harus Leo lalui membuatnya semakin naik pitam Tiiittt tiiitttttt Meskipun dengan sekuat tenaga memencet klakson tidak ada gunannya namun Leo terus menekannya sekuat tenaga berharap mereka semua menyingkir dari hadapannya "sialann..."maki Leo saat dirinya merasa perjalanan yang dia tempuh semakin lama dan tidak kunjung sampai. Butuh waktu sekiar 30 menit untuk dirinya sampai ketempat dimana Zara berada...leo langsung turun dari mobilnya dan bergegas masuk mencari sosok gadis culun yang dulu mengganggu pemandangannya tapi sekarang menjadi orang yang paling ingin dia temui... Brakkkk Leo membuka kasar pintu restoran dengan tema tradisional itu dengan kasar sehingga menimbulkan suara gaduh...tak ayal seisi restoran langsung menatap kearahnya.... Namun tatapan Leo hanya terarah pada gadis yang seminggu ini sudah membuatnya gila....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN