Innocence 07

2064 Kata
"Leo...!!!" teriak zara saat melihat sosok yang dicarinya sejak tadi menaiki undakan tangga menuju rooftop seperti biasa.. Leo menghentikan langkahnya dan berbalik menatap cewek cupu didepannya, leo memperhatikan zara dari atas sampai bawah... Atasan putih dipadukan dengan rok lipit hitam jauh dari kata modis... "Leo mau ke atas lagi .?" tanya Zara tidak habis pikir kenapa cowok di depannya ini sangat menyukai tempat tinggi "Lo mau ikut..?" tawar leo dan langsung mendapatkan gelengan cepat dari zara..Zara tidak mungkin bukan jatuh untuk kedua kalinya di lubang yang sama, Zara tidak ingin kembali lagi ke rumah sakit dan merepotkan sahabatnya selena dan Rendy, Sudah Cukup Sekali Saja Zara membuat kedua sahabatnya itu dilanda rasa cemas memikirkan dirinya "aku mau bilang makasih soal kemarin." ucap zara dengan senyum tulusnya.Zara sebenarnya ingin langsung mengucapkan terima kasih pada Leo saat di rumah sakit namun dia tidak menemukan Leo saat Selena membawanya pulang, untuk itu Zara mengucapkannya hari ini. "makasih karena udah bikin asma Lo kambuh..?" tanya Leo dengan tatapan sinis kepada Zara. "bukan, makasih udah mau bawa aku ke rumah sakit," jawab zara namun seperti biasa Leo memilih pergi tanpa menjawab sepatah katapun "Leo tunggu.!" ucap Zara sambil menarik tali ransel leo membuat leo kembali menghentikan langkahnya "Apaan lagi sih, ganggu gue mulu"kesal Leo sambil menepis tangan zara,Leo bahkan dibuat heran kenapa cewek di depannya ini bahkan tidak takut sedikitpun setelah apa yang udah dia lakukan kepadanya, Jika saja dia pintar Harusnya sekarang dia tidak menemuinya lagi apalagi hanya untuk mengucapkan terima kasih bagi Leo Itu adalah hal yang konyol "kapan kita mulai bimbingannya.,?"tanya zara "gue enggak butuh bimbingan dari lo" jawab Leo..memutuskan untuk membatalkan bimbingannya bersama Zara karena Leo tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan cewek yang selalu mengganggunya beberapa hari ini dan Leo sudah tidak berminat untuk ngerjainnya lagi setelah apa yang sudah dia alami beberapa hari yang lalu. "Tapi le..." "Ara..."panggil seseorang membuat Zara dan leo menoleh ke sumber suara.. "kayak hewan peliharaan aja ngintil mulu." gumam Leo saat melihat Rendi berjalan mendekat ke arahnya.. "Kenapa udah kuliah, kamu harus istirahat Ra.,"ucap rendi sambil melirik ke arah Leo yang memandang remeh ke arahnya. "aku udah enggak apa apa ren, lagi pula sayang kan kalau harus bolos" jawab zara "Tapi kan kamu enggak cuman sekedar bolos, kayak mahasiswa mahasiswa lain...kamu sakit Ra" ucap Rendi "Lo nyindir gue ..,?" sengit Leo sambil mendorong bahu rendi saat dirinya merasa bahwa Rendy sebenarnya menunjukkan kalimat itu untuk dirinya "iishh Leo jangan kasar dong,!" ucap Zara seakan membela rendi membuat Leo berdecih malas.. "gue enggak nyindir lo, lo nya aja yang baperan" jawab rendi meremehkan.. "Anjing lo ya...sini lo kalau nyari mati" amarah Leo benar benar sudah mencapai ubun ubun,dan itu selalu terjadi saat dia berurusan dengan Rendy ,seakan sangat sulit baginya nembendung luapan  amarahnya, Sedangkan zara menutup matanya beberapa detik, jengah dengan kedua orang didepannya yang selalu saja ribut setiap saat.. Rendi seakan tidak takut dengan ancaman Leo dan memilih untuk mengacuhkannya... "Yuk Ra kita keruang seni, kamu harus siapin lukisan kamu kan"ucap rendi sambil menarik tangan Zara, namun diwaktu yang sama Leopun menarik tangan Zara yang satunya membuat langkah zara dan rendi terhenti.. "Lo gak akan kemana mana.," ucap dingin Leo.. "Lo enggak berhak ngatur ngatur Ara,dia berhak pergi kemanapun dia mau." jawab rendi dan mulai melepaskan cengkraman tangan Leo..namun bukannya melepaskan, Leo semakin memper erat cengkramannya.. "Leo tangan aku sakit, megangnya kekencengan deh"ringis Zara "lepas, kalau enggak tangan cewek cupu ini yang bakalan gue patahin" ancam Leo dan berhasil membuat rendi mengalah "Mulai hari ini gue berhak ngatur dia.."ucap Leo "Lo enggak berhak" "gue berhak"jawab Leo "lo gak akan pernah punya hak" bantah rendi "kalian kayak perempuan aja obrolannya masalah hak,"kekeh Zara mengulum senyumnya membuat Leo dan rendi menatap ke arahnya "Aku becanda, udah mending sekarang lepasin tangan aku dulu." ucap zara melepaskan genggaman kedua cowok di depannga.. "Leo kenapa..? Ada perlu sama aku, kalau enggak aku mau..." "senin sampai jumat jam 4 sore" potong Leo membuat Zara mengerutkan keningnya namun sedetik kemudian senyum mengembang dibibirnya mengerti apa yang leo maksud.. "Jadi sekarang Leo mau bimbingan sama aku.,?" tanya Zara. "Lo gak bisa ngatur jadwal lo se enaknya, lima hari dalam seminggu, lo apa apan..,? Ara punya kesibukannya sendiri, hidupnya bukan harus ngajarin anak bengal kaya lo terus" ucap rendi yang langsung membuat Leo benar benar tidak bisa menahan Amarahnya lagi "Bacot lo anjing.!"sentak Leo kemudian langsung mendaratkan pukulan tepat pada wajah rendi...membuatnya yang tidak siap langung terduduk kelantai "Rendi, Astaga.,!" pekik Zara hendak membantu rendi namun sedetik kemudian tangannya di tarik paksa Leo dan membawanya menjauh dari rendi... "Le..Leo tunggu deh, nariknya ke kencengan," ucap Zara yang sedikit kesusahan menyamakan langkahnya dengan Leo.. "Leo udah dong nariknya," pinta Zara namun lagi lagi tidak di gubris oleh Leo.. Mereka terus berjalan dengan Leo menggandeng tangan Zara dan tentu saja mengundang perhatian seluruh mahasiswa yang mereka lewati..termasuk dari kedua sahabat yaitu Yudha dan Raihan "makin seru aja mereka bro" ucap yudha yang melihat Leo dan Zara dari kejauhan... "Yoi, pasangan serasi men..." jawab reihabsambil terkekeh... Leo menghentikan langkahnya setelah tiba di salah satu ruangan kampus.. "duduk." perintah Leo setelah melepaskan cekalannya. Zara pun tidak membantah dan langsung duduk di bangku depannya sambil terus menatap wajah Leo.. Leo ikut menarik kursi disebelah Zara kemudian duduk sambil mengangkat kakinya ke atas meja.. "Leo sekarang kan masih jam satu , tadi katanya bimbingannya jam empat" ucap Zara "Siapa yang bilang mau bimbingan sekarang.,"jawab Leo ketus "terus kenapa leo nyeret nyeret aku sampe kesini kalau bukan mau bimbingan " tanya Zara heran.. "Lo bilang mau keruang seni bukan, mau ngerjain lukisan Lo, ayo sekarng cepet beresin" ucap Leo membuat Zara menatap sekelilingnya Zara baru sadar kalau Leo membawanya keruang seni "oh iya aku lupa, terus Leo ngapain disini..,?" Tanya zara polos "Gue mau tidur,"jawab Leo dan sedetik kemudian menyandarkan punggungnya dan menutip kepalanya menggunakan topi hoodi miliknya, "Mendingan Leo tidur di ruang kesehatan aja, aku enggak apa apa kok disini, nanti beres ini aku susulin Leo kesana" ucap zara "jangan banyak bacot deh, mendingan Lo cepet beresin kerjaan lo" ucap Leo tanpa membuka matanya "Heran Kenapa hobi leo marah marah mulu sih"gumam Zara yang tentu di dengar oleh Leo dan langung menatapnya tajam, sedangkan yang ditatap hanya menampilkan senyum lebarnya tanpa rasa takut sedikitpun. oOo "wah ada yang sibuk bener akhir akhir ini" ucap reihan saat Leo datang dan mendudukan dirinya di kursi panjang yang langsung mengahadap gedung gedung tinggi di depannya.. Dimana lagi kalau buka rooftop kampus, tempat paforit mereka bertiga dan memang hanya dikususkan untuk mereka, ralat tidak ada yang berani mengusik area seorang Leo Atma Jaya termasuk tempat nongkrongnya.. Rooftop dengan tema garden...tempat nyaman mereka untuk lari dari kelas yang membosankan... "sibuk bimbingan sama cewek baru men.." sambung yudha kemudian tergelak.. "berisik lo pada..." ketus Leo tanpa menoleh pada kedua sahabatnya dan terpaku pada benda pipih didepannya "Tumben Lo mau deket deket sama tuh cewek cupu"ucap reihan yang sedikit heran karena Leo mau dekat denga zara padahal sebelumnya dia menolak Selena yang merupakan dewi di kampus Atmaja ini "gue gak deket deket dia"jawab datar leo sambil terus menggerakan jempolnya pada benda pipih itu "masa iya kagak deket deket...nah tadi yang lo seret seret...yang lo genggam erat apaan...karung beras, gile aja" ucap reihan "gue cuman pengen bales tuh anak haram"jawab Leo "rendi maksud lo," tanya yuda "menurut lo siapa lagi t*i yang disebut anak haram sama t*i satu itu selain si rendi"sela reihan "kali aja ada anak haram lainnya"ucap yudha sambil terkekeh.. "lalu apa hubungannya tuh cewek sama si rendi" tanya yudha "ah gue inget, dia emang beberapakali bareng si Zara kan, dia temenan"sambung reihan "nenek nenek rabun aja tau kalau si rendi suka tuh sama cewe cupu," sela Leo entah kenapa merasa kesal saat melihat kedekatn antara Leo dan juga Rendi. "Jadi...." tanya reihan "Gue bakalan ganggu tuh cewe cupu, kita lihat gimana respon anjing satu itu"ucap Leo "Ck cemen banget kalau masalah gangguin doang mah, gak usah Lo yang turun tangan juga tuh cewe cupu suka ada yang gangguin" sela yudha "tantangannya terlalu mudah,"sambung reihan "gue sama reihan bakalan jadi kacung lo selama setahun tanpa lo bayar kalau lo bisa bikin tuh cewe cupu jatuh cinta sama lo"tantang yuha "Anjir ngapain lo bawa bawa gue tai..."sergah reihan cepat tidak setuju..namun berbeda dengan Leo...leo langsung mengalihkan pandangannya dari benda pipih itu dan menatap ke arah yudha... "tapi jika lo Kalah dan biarin si cupu jatuh ke tangan rendi...lo harus beliin gue mobil sport yang gue mau.,? Gimana.,?" "eh anjing pas jadi kacung aja lo bawa bawa gue, lah pas mau menang mobil lo minta sendiri, teu bisa teu bisa, eweuh tidituna, Lo beliin kita masing masing satu mobil" protes reihan Mendengar ucapan kedua sahabatnya membuat Leo tersenyum miring... "heh bukan cuman muka lo pada ya yang kayak tai...otak lo juga isinya t*i doang gue kira, Lo gak bisa liat wajah ini hem" ucap Leo memutar telunjuk ke wajahnya "siapa yang bisa nolak pesona dari gue, lo salah udah bikin taruhan ini, jadi mulai hari ini siapain mental dan fisik lo lo pada buat jadi kacung gue selama setahun penuh" ucap Leo setelah itu menarik ranselnya dan berjalan melewati kedua sahabatnya.. "Anjir tingkat kepedean lo ketinggian tai..." teriak yudha sambil menatap punggung leo yang semakin menjauh "Lo yakin sama taruhan ini..,?" tanya reihan mulai ragu "Lo takut.,.,?" tanya yudha "lain sieun aing mah, yang di omongin Leo bener, siapa juga yang bisa nolak pesona wajah t*i yang satu itu" jawab reihan "iishhh tenang aja, kali ini gue yakin permainan kita bakalan seru.,!" ucap yudha dengan seringai setannya. **** Zara sesekali melihat jam dinding yang terus berdetak, sudah hampir pukul delapan malam tapi yang dintunggu masih belum menampakan batang hidung nya.. "Apa Leo lupa ya kalau udah bikin janji sama aku.,?"gumam Zara sambil membalikan lembaran buku yang sedari tadi menemaninya "Tunggu bentaran lagi aja deh" gumam zara dan kembali larut membaca buku di depannya.. Sampai suara decitan kursi mengganggunya dan mendongak melihat siapa yanh sudah duduk di sebelahnya "Loh rendi kenapa masih disini..,?" tanya Zara Sambil menutup bukunya dan memasukannya ke dalam tas kain bermotif bungan miliknya "Kamu sendiri ngapain masih disini Ra, ini udah jam delapan" ucap rendi menatap khawatir ke arah Zara "Aku lagi nungguin Leo ren...dia janji mau bimbingan hari ini." jawab Zara. "kamu percaya sama omongan dia Ra, dia cuman ngerjain kamu, dia gak bakalan mau repot repot ikut bimbingan kayak gini.," jelas rendi merasa geram dengan tingkah Leo... Ini alasan rendi tidak setuju dengan usul buk rosa mengajukan nama Zara untuk membimbinh Leo Rendi tidak ingin Leo mempermainkan Zara seperti cewek cewek yang lain.. "siapa bilang gue gak mau bimbingan" suara datar dan dingin dari ambang pintu berhasil membuat rendi dan Zara menoleh ke arahnya "Jangan sotoy deh lo" ucap Leo kemudian berjalan ke arah mereka "Terus apa maksud Lo ngejanjiin ke Zara untuk bimbingan hari ini sedangkan Lo baru datang jam segini..,Lo Tau zara nungguin lo dari jam empat tadi"kesal rendi dan mendorong kursinya hingga jatuh "siapa bilang hari ini gue mau bimbingan jam empat hah.,?" jawab Leo tanpa dosa "Lo bener bener ya" ucap rendi dengan rahang mengeras Namun sentuhan lembut di lengannya membuat emosinya kembali menguap "Udah ren, mungkin aku yang salah denger tadi, mungkin tadi Leo bilang jam delapan bukan jam empat" ucao Zara mencoba menenangkan "ngapain bimbingan malem malem gini Ara, udah mending sekarang aku anter kamu pulang,"ucap rendi kemudian langsung menarik tangan Zara menjauh dari Leo "tapi ren kasian Leo dia baru dateng buat bimbingan" ucapan Zara membuat rendi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap zara "yang harusnya dikasihani itu kamu Ara, berhenti memikirkan orang lain dan pikirkan diri kamu sendiri.," sentak Rendi tidak tahan dengan sikap Zara yang selalu mengalah pada siapapun namun tanpa rasa sakit hati, Zara hanya tersenyum menanggapi perkataan rendi "Rendi gak usah ikut marah marah kayak Leo, aku tau kok rendi khawatir kan, tapi tenang aku bakalan baik baik aja kok" jawaban Zara membuat Leo yang menatap intens mereka berdecih.. "ya udah pokoknya sekarang kamu pulang"ucap rendi kembali menarik tangan Zara sebelum Leo kembali menyuarakan kata kata ancamannya "Heh cewe cupu...Lo pulang bareng gue..kalau enggak gue batalin semua bimbingan kita" ucapan Leo berhasil membuat Zara menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Leo yang sedang memamerkan senyum kemenangannya pada rendi "Rendi..~~~" rengek Zara Rendi tau betul apa maksud dari rengekan Zara, Rendi melepaskan cekalannya pada tangan Zara dan mengusap wajahnya kasar. Dirinya selalu kalah telak saat Leo mengancam Zara dengan membawa bawa masalah Kampus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN