Innocence 04

1024 Kata
Leo berjalan memasuki ruangan yang paling anti dia masuki. Tanpa aba aba Leo membuka dengan kasar pintu itu dan berjalan menuju kursi di depan meja yang penuh tumpukan kertas. Mengabaikan tatapan tajam dari seorang wanita paruh baya yang sepertinya sudah Jengah dengan melihat sikap seorang Leo "Leo sudah berapa kali Ibu bilang kalau masuk ketuk pintu dulu" kesal Rosa selaku Rektor kampus Atma Jaya "langsung intinya aja deh buk,!" ucap Leo malas sambil duduk disalah satu kursi yang berada di tengah ruangan dan dengan santainya mengangkat kakinya lurus ke atas meja. "beberapa dosen dan Mahasiswa mengeluh atas kelakuan kamu Leo, bahkan dalam sebulan ini tidak ada satu kelaspun yang kamu hadiri"jelas Rosa sambil menatap tidak suka kearah Leo, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, berdebat dengan seorang Leo Atmajaya baginya seperti membuang-buang waktu yang percuma karena Leo tidak akan mengindahkan semua nasehat yang dia berikan,untuk itu rasa memilih untuk diam dengan perasaan kesal. "lalu apa lagi..,?"tanya Leo pongah sambil memainkan ponselnya seakan perkataan yang  Rosa sampaikan tidaklah penting untuknya. "Kakekmu akan marah jika kamu terus terusan bersikap seperti ini, dia___" "Kakek terlalu sibuk Buk untuk mengurusi ku jadi Ibu enggak usah khawatir soal itu" "tapi disela kesibukan Kakek, kakek masih bisa memantau Kamu Leo, kamu tidak bisa bersikap se enaknya sendiri"ucap seseorang dari ambang pintu membuat Rosa berbalik untuk melihat siapa yang datang Tapi tidak dengan Leo, Leo hafal betul suar siapa itu, suara yang Sangat malas untuk dia dengar dan yang selalu menyuruhnya ini dan itu. "pak William,silahkan masuk" sapa Rosa sopan kepada pemilik kampus Willian Atma Jaya. William berjalan masuk di ikuti Rendi di sampingnya membuat Leo berdecih "selalu ada penjilat dimana mana"ucap Leo dengan senyum meremehkan membuat William menatap tajam ke arahnya. "jaga ucapan kamu Leo."geram William "buk Rosa, bagaimana,? Anda sudah dapat guru pembimbing untuk Leo.?"tanya Willian tanpa basa basi membuat Leo langsung menegakkan tubuhnya dan menurunkan kakinya dari atas meja. What the____guru pembimbing apa maksudnya batin Leo "begini pak beberapa dosen angkat tangan untuk menjadi guru pembimbing Leo" ucap Rosa membuat Leo tersenyum penuh kemenangan namun itu tidak bertahan lama setelah Rosa melanjutkan ucapannya "namun ada salah seorang Mahasiswi kita yang bisa di andalkan untuk menjadi guru pembimbing Leo"jelas Rosa "bagus kalau begitu"jawab william "apa kakek kira aku mau menuruti keinginan kakek hem" ucap Leo setelah itu beranjak dari duduknya, Leo terlalu malas untuk berdebat dengan kakeknya saat ini,Namun bukan hanya itu alasannya tapi Leo takut jika dirinya tidak bisa menahan emosi saat berdebat dengan kakeknya itu, meskipun dirinya sangat menentang William Leo cukup waras untuk tidak menyakiti kakeknya itu. "mau tidak mau kamu harus mau Leo, kalau tidak kakek akan mencabut semua fasilitas yang kamu pakai sekarang"ancam william membuat Leo menghentikan langkahnya "aku dengan senang hati akan mengembalikan semuanya pada kakek"merasa tidak terancam sama sekali Leo menjawab perkataan kakeknya dan hendak melanjutkan langkahnya kembali Sebelum ancaman selanjutnya yang benar benar membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun "kalau kamu bersikeras kakek akan melelang semua peninggalan Ibu kamu termasuk rumah dan kakek tidak segan segan akan membuatnya rata dengan tanah"ancam william tidak segan segan agar Leo mau menuruti ucapannya. Dan hal tersebut tentu saja membuat amarah Leo memuncak dan berjalan cepat ke arah william "jangan coba coba menyentuh sedikitpun barang Ibu ku"desis Leo sambil menunjuk wajah kakeknya dengan wajah memerah menahan emosi. Denga cepat Rendi menepis tangan Leo yang lancang "jaga sikap Lo,"geram Rendi "Lo yang seharusnya jaga sikap Lo anjing, Dasar anak haram" Ppllaaakkkkkk Satu tamparan mendarat di wajah Leo yang masih menampilkan tanpa eksfresi sedikitpun. Dada willian naik turun menahan emosi, tangannya gemetar setelah menampar cucunya. "Rosa,siapa guru pembimbing untuk Leo, kita harus segera mengurusnya sebelum anak ini menjadi semakin liar dan merusak dirinya sendiri"ucap william "dia Zara Dzafina pak, dia merupakan salah satu mahasiswa berprestasi dikampus kita, dia juga mendapatkan beasiswa penuh dari pihak kampus karena kepintarannya"jelas Rosa membuat Rendi dan Leo sama sama menoleh ke arahnya dan tentu dengan tatapan yang berbeda "Kakek, Rendi bisa carikan guru pembimbing untuk Leo, Rendi pastikan Akan mencari yang terbaik"ucap Rendi karena tidak akan bisa membiarkan Zara berada dalam jangkauan Leo Sedangkan Leo tersenyum penuh maksud "Kenapa Lo takut ?" cibir Leo "kenapa Ren.?" tanya william "Zara sekarang sedang sibuk untuk mempersiapkan Ujiannya, dia juga harus...." "gue mau dia yang jadi guru pembimbing gue, kalau enggak jangan harap gue bakalan mau nerima guru lain" Ancam Leo setelah itu berlalu meninggalkan ruangan terkutuk bagi dirinya. Dengan cara apapun Leo akan membuat Rendi dan juga kakeknya menyesal karena sudah merencanakan semuanya untuk dirinya salah satunya melalui Zara,melihat kekawatiran dari wajah Rendi membuat Leo semakin dengan keputusannya itu. Sedangkan Rendi menatap punggung Leo yang semakin menjauh,ingin rasanya dia membunuh Leo jika tidak mengingat hubungan darah dengannya "sudah lah Ren, ini lebih bagus Leo mau di ajari tanpa harus kita paksa pakasa lagi, kakek berharap dia bisa berubah"harap william sedangkan Rendi pasrah tidak bisa membantah keputusan yang sudah kakeknya ambil itu.. ***** "buk Ara enggak bisa..." sesal Zara kepada Rossa yang menyuruhnya untuk menjadi guru pembimbing  "Zara kamu harus mau,ini permintaan langung dari bapak william dan jaminannya beasiswa kamu loh,bahkan jika kamu mampu membuat Leo berubah beasiswa kamu bisa di perpanjang sampai S2,"jelas Rosa mencoba membujuk Zara Ah tawarannya menggiurkan sekali batin Zara jarang jarang ada kesempatan seperti ini "baiklah Ara akan coba bu"ucap Zara membuat Rosa tersenyum senang.meskipun awalnya Zara enggan untuk menerima tawaran tersebut ,tapi melihat dari tawaran yang Rossa berikan kepadanya Zara harus memikirkan ulang penolakannya,dia masuk ke kampus Atmajaya ini hanya mengandalkan otaknya untuk itu Zara tidak mungkin menolak kesempatan emas yang berada di depan Matanya kini. **** "apa kalian lihat Leo..,?" tanya Zara pada beberapa orang yang lalu didepannya "kamu liat Leo..,?" Begitulah pertanyaan yang zara ajukan pada beberapa orang namun mereka hanya menggelengkan kepalanya tanpa berniat untuk menjawab dan itu sudah menjadi hal biasa bagi Zara. "Duh biasanya dia bakalan cari ribut,hari ini dia ngilang kemana" gumam Zara sambil berjalan gontai menyusuri koridor kampus.. Brakkkkkkk.. "maaf maaf gue enggak sengaja.."ucap seseorang sambil mencoba memungut buku yang berserakan didepannya "enggak apa apa kok,aku juga jalannya sedikit melamun"jawab Zara kemudian ikut berjongkok dan memunguti buku bukunya.. "Loh kamu kan?" Tunjuk Zara saat melihat seseorang didepannya yang pernah dia lihat sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN