Tak ada yang lebih menyedihkan selain ditinggal sendirian. Aira lumayan lama dalam posisi berlutut di atas lantai dingin ruang tamu. Bujukan Allen tidak lantas membuatnya langsung sadar dan berdiri. Allen perlahan memeluk Aira, meninggalkan rasa hangat ke sekujur tubuh kurus gadis itu. Entah kapan terakhir kali mereka saling merangkul. Allen merasa bersalah karena akhir-akhir ini sering ia sering menyudutkan Aira. "Pergilah ke tempat Dokter Anis. Ibu nanti akan menyusulmu," bisik Allen mengusap puncak kepala Aira lembut. Gadis itu menurut,menghapus air mata sembari bergumam kalau Ham pasti sedang mengunci diri di kamar. "Ibu akan mengurusnya." Allen mendorong Aira agar cepat-cepat pergi dari rumah. Ia tidak mau membiarkan Ham melampiaskan perasaan kesalnya pada orang yang salah. Kalau m

